logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 26 Nopember 2004 PANTURA
Line

Pesisiran

Orang Pesisir Jadi PNS

Oleh: T Jirien

ORANG pesisir di Batang memandang orang yang berstatus sebagai pegawai negeri dengan dua sisi yang saling bertolak belakang.

Dalam kehidupan sosial, seorang pegawai negeri dipandang sebagi kaum priyayi yang dihormati. Tapi di sisi pekerjaan, mereka memandang kaum pegawai ini sebagai kaum yang arogan, "doyan duit", gemar mempecundangi orang lemah, dan sebagainya.

Tapi tidak bisa dipastikan apakah pandangan "miring" itu juga berhubungan dengan kekurangminatan mereka terhadap pekerjaan di instansi pemerintah ini.

Sebagaimana diketahui, sudah sejak lama, nyaris tidak ada orang di wilayah pesisir Batang yang menjadi pegawai pemerintah.

Mereka, kalau tidak meneruskan tradisi keluarga menjadi nelayan, lebih menyukai pekerjaan informal seperti berdagang atau menjadi buruh pabrik.

Sampai era tahun tujuhpuluhan, pegawai yang bekerja di kabupaten umumnya berasal dari orang Batang yang tinggal di wilayah selatan rel kereta api.

Bahkan, orang yang menjadi pegawai di Batang banyak yang berasal dari luar daerah. Mereka umumnya datang dari wilayah "wetan" seperti Solo dan Klaten.

Yang lebih hebat lagi, dulu hampir tidak ada guru yang berasal dari Batang. Formasi pegawai di lingkungan sekolah ini bisa dipastikan berasal dari luar Batang.

Agaknya, ini bukan masalah tidak adanya minat kaum pesisir untuk menjadi pegawai. Angan-angan itu tetap ada, tapi mereka hanya tidak tahu jalur yang mesti ditempuh. Kenyataan di masa lalu orang yang bisa menjadi pegawai adalah mereka yang orang tuanya juga pegawai, atau dekat dengan lingkungan birokrasi, menjadikan kaum pesisir berada pada posisi yang makin jauh.

Kaum pesisir juga umumnya tidak memiliki persyaratan yang dibutuhkan untuk masuk dalam lingkungan birokrasi, yakni pendidikan yang memadai dan juga "mental" sebagai pegawai.

Tapi situasi itu tampaknya kini sudah mulai berubah. Makin meningkatnya taraf pendidikan orang pesisir di Batang, dan juga sistem penerimaan pegawai yang makin transparan telah memberikan peluang bagi kalangan ini untuk masuk dalam lingkungan birokrasi pemerintahan.

Pada awalnya mereka menjadi pegawai melalui sistem perekrutan pegawai berdasarkan "koneksi", yakni mereka yang memiliki kemampuan menonjol, misalnya di bidang olahraga.

Untuk kepentingan meningkatkan olahraga daerah, mereka direkrut oleh pemda.

Kini dengan semakin banyaknya para sarjana dari lingkungan kaum pesisir Batang, juga semakin banyak yang berhasil lulus dalam seleksi penerimaan pegawai.

Sekian lama menjadi orang yang asing dari lingkungan birokrasi, bahkan harus memupus angan-angan menjadi pegawai pemerintah, para "priyayi" baru yang berasal dari lingkungan nelayan ini setidaknya telah memberikan warna baru dalam pola kerja pemerintahan. Kaum pesisir yang umumnya memiliki karakteristik terbuka, lebih familiar, dan cenderung keras kepala agak menghapuskan kesan kaku lingkungan birokrasi.

Komunikasi antarpersonal, bahkan antaratasan dan bawahan tidak lagi terkesan terlalu paternalistik, mengingat kaum pesisir tidak terbiasa dengan tradisi itu. Dan kadang agak menyulitkan juga untuk "mengatur" mereka karena kecenderungan mereka yang agak temperamental dan tidak terbiasa diatur-atur.

Hingga sekarang pun orang pesisir yang bisa menjadi pegawai masih dipandang sebagai prestasi yang hebat.

Para pemuda dari wilayah utara Batang yang berhasil meraih gelar sarjana dan bisa menjadi pegawai, tak jarang masih dipandang sebagai sesuatu hal yang kurang lumrah. Mereka umumnya kaum yang berorientasi ke kerja dan kurang tekun untuk berlama-lama di lingkungan sekolah.

Masuknya kaum pesisir di lingkungan pemerintahan setidaknya memang telah turut mengurangi citra pegawai pemerintah yang hanya memperkaya diri dengan berbagai cara dan kurang bersahabat dengan kalangan bawah.

Masuknya kaum pesisir di lingkungan pemerintah Batang, agaknya juga merupakan pertanda keterlibatan orang-orang daerah yang diharapkan bisa lebih meningkatkan kemajuan daerah Batang sendiri.

(Penulis adalah aktivis Komunitas Pena-Batang-74)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA