logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 26 Nopember 2004 KEDU & DIY
Line

Bedah Buku tentang Roeslan Abdulgani

YOGYAKARTA - Buku A Fading Dream: The Story of Roeslan Abdulgani and Indonesia yang ditulis oleh putrinya, Retnowati Abdulgani Knapp, kedengarannya pesimistis. Barangkali lebih tepat jika diberi judul A Dream Realized: The Story of Roeslan Abdulgani, His Family, and Indonesia karena keluarganya mempunyai peranan penting dalam hidup Roeslan dan dalam buku itu.

Hal tersebut dikemukakan oleh Prof Dr Teuku Jacob pada bedah buku itu yang diselenggarakan oleh Gadjah Mada University Press di Gedung Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta, kemarin.

Menurut pandangan Prof Jacob, buku itu sangat tepat disebut story bukan history. Sebab, ia ditulis secara naratif dengan flashback sehingga tidak selalu kronologis tetapi lebih tematis. Bahasanya mudah dibaca dengan kalimat pendek-pendek, sehingga terbaca oleh lulusan SMP ke atas. Dapat dibandingkan dengan bahasa National Geographic atau Reader's Digest.

Bab I menceritakan keadaan di bawah Presiden Megawati dengan sorotan yang tajam tentangnya dan Presiden Habibie yang dijuluki The Alien President. Bab II mengambil ancang-ancang yang panjang tentang sejarah Indonesia dari Pithecanthropus Erectus ke penduduk modern awal.

Kemudian disinggung abad aksplorasi Eropa di Indonesia sampai ke zaman penjajahan dari pendatang Portugis, Belanda, Prancis, Inggris sampai ke Perang Dunia II (Jepang, Inggris, Amerika). Dalam bab ini juga diuraikan tentang kehidupan kampung di Surabaya (sikap terhadap Cina dan Arab), pendidikan pada zaman Belanda sampai ke pergerakan kemerdekaan.

Zaman Pendudukan

Selanjutnya Bab III bercerita tentang zaman pendudukan Jepang, menjelang dan sesudahnya, hingga pertempuran Surabaya. Bab IV mengenai pergolakan dalam republik muda, Tan Malaka, Konferensi Malino, Linggarjati dan Renville.

Termasuk pula uraian tentang Clash II, Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia-Afrika, demokrasi terpimpin, Trikora dan Dwikora, Manipol Usdek hingga ke Gestapu.

Bab V melanjutkan mengenai Gestapu, nasib PKI, Nefos, Ganefo dan Conefo serta Oldefos, poros Jakarta-Beijing, keluar dan masuk lagi ke PBB, dan pembentukan ASEAN. Bab VI menceritakan pembangunan pada zaman Suharto, ABRI dan usaha dagang, keluarga Suharto dan usaha-usahanya, kemunduran moral dan kontras sosial-ekonomis yang mencolok. Bab VII tentang nasionalisme dan demokrasi, profil presiden-presiden dan tokoh-tokoh lain di Indonesia, serta Islam di dunia kini.

Prof Jacob mengemukakan, secara keseluruhan buku tersebut cukup menarik untuk dibaca dan dimiliki. Turut menjadi pembicara pula, selain penulis buku juga Prof Dr Ibrahim Alfian dan Prof Dr Taufik Abdullah.(P12-76j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA