| Kamis, 25 Nopember 2004 | SALA |
Dari Tes Peserta CPNS KlatenSusahnya Bacakan Soal Peserta TunanetraDI ANTARA ribuan peserta tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2004 di Klaten, ada satu peserta yang menarik perhatian. Dia adalah Bambang Mariyanto, satu-satunya peserta penyandang tunanetra. Tapi kekurangan itu tak menghalangi langkahnya untuk bersaing dengan peserta normal. Kemarin, bujangan warga Girimulyo RT 5 RW 11, Desa Gergunung, Kecamatan Klaten Utara itu mengikuti tes di SMP 2 Klaten di Jalan Pemuda Selatan 4. Dari kartu pesertanya, dia mengikuti seleksi tenaga guru SMA untuk mata pelajaran PPKn. Bambang mendapat nomor tes 1184365. ''Tidak ada aturan yang melarang orang buta seperti saya mengikuti tes CPNS, jadi saya mendaftarkan diri dan diperbolehkan mengikuti tes,'' katanya singkat saat ditemui di sela-sela istirahat pergantian soal, kemarin. Kekurangan yang melekat pada dirinya, tak membuat dia minder untuk bersaing dengan peserta lain yang indranya masih lengkap. Begitu persyaratan CPNS memungkinkan dirinya untuk ikut melamar, dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melamar guru PPKn SMA. Sebelumnya, perlakuan panitia kepada dia tidak dibedakan. Dia menjalani proses pendaftaran seperti peserta lain, dan proses penempatan lokasi tes pun sama. Sesuai dengan pengumuman panitia, Bambang menempati Ruang 5 di SMP 2 Klaten. Panitia baru memberikan perlakuan khusus kepada Bambang saat mengerjakan soal. Tempat tes pun tidak di ruangan bersama peserta lain, tapi dipindah ke ruang laboratorium yang berlokasi tepat di depan ruang 5. ''Kami berembuk dengan panitia untuk memindah satu peserta tunanetra ke ruang lain. Sebab peserta itu harus didampingi dua personel panitia yakni satu orang yang membacakan soal dan satu lagi yang menuliskan jawaban ke lembar komputer. Selain itu, peserta juga didampingi satu saksi,'' kata Kepala Sekolah SMP 2 Klaten, Drs Djoko Basuki. Menurut Djoko Basuki, sehari sebelumnya Bambang datang ke SMP 2 untuk melihat calon lokasi tes. Dia datang didampingi salah seorang kerabat, Sriyono. Meskipun begitu, dia terlambat ke lokasi tes. Alasannya, yang dia tahu tes dimulai pukul 08.00. Padahal jadwal yang tercantum di kartu tes pukul 07.00. ''Ada tiga peserta yang datang terlambat. Alasannya macam-macam. Seperti Bambang beralasan tahunya tes dimulai pukul 08.00. Ada juga yang kesasar di SMP 7, padahal dia hanya naik sepeda. Semua tetap dibolehkan mengikuti tes tertulis,'' ujarnya. Sulit Karena tidak ada soal berhuruf braille, panitia pun menyiapkan dua personel untuk mendampingi Bambang yakni Arison dan Dra Ermintarsih. Arison adalah staf di Badan Kepegawaian Daerah dan Ermintarsih adalah staf di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dua personel dari Satuan Polisi Pamong Praja juga ikut mengawasi dari kejauhan. Apa kesulitan mendampingi Bambang? Ermintarsih mengatakan paling sulit adalah menjelaskaan gambar-gambar pada soal penalaran. Paling sulit adalah soal nomor 51 yang berisi 15 gambar yang harus diterjemahkan, semuanya dalam kata-kata agar Bambang paham. ''Lima belas gambar ini harus kami bahasa verbalkan. Untuk membacakan satu soal dan pilihan jawaban saja membutuhkan waktu lebih dari lima menit,'' katanya. Namun, untuk soal-soal lain Bambang bisa menjawab dengan sangat lancar. Bahkan bisa dibilang lebih cepat dari peserta lain yang normal. Untuk tes substansi yang berjumlah 50 soal, dia hanya memerlukan waktu 40 menit dari 90 menit yang disediakan. ''Untuk soal-soal lain, Bambang menjawab dengan cepat. Melihat dari nada bicaranya saat menjawab soal, dia memang cerdas. Dia selalu bisa menyelesaikan jawaban lebih cepat dari waktu yang disediakan. Bahkan untuk tes substansi dia menyisakan waktu 50 menit,'' ujarnya.(Merawati Sunantri-92s) |