| Kamis, 25 Nopember 2004 | SALA |
Isu Suap Jangan Hanya Dijadikan FitnahWONOGIRI -- Isu suap penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2004, jangan hanya dikembangkan sebagai komoditas rumor negatif yang mengarah kepada tuduhan sepihak dan fitnah. ''Kalau betul ada, mari sama-sama dibuktikan, dan jangan hanya diembuskan sekadar isu,'' tegas Ketua Fraksi PDI-P DPRD Wonogiri, Martanto SH. Penegasan Martanto itu, dikemukakan Rabu (24/11) di sela-sela kesibukannya memantau pelaksanaan tes penerimaan CPNS yang diikuti 6.633 pelamar untuk pengisian 300 formasi. Pelaksanaan tes digelar serentak di 354 ruang di 26 lokasi gedung sekolah, dengan diawasi 800 petugas. Dia menginstruksikan kepada 23 anggota FPDI-P untuk aktif memberikan pengawasan terhadap proses penerimaan pegawai tersebut. ''Tadi, sewaktu meninjau di SMPN 3, saya mendengar ada yang mengisukan suap Rp 60 juta untuk tenaga administrasi dan Rp 75 juta untuk guru dan dokter,'' ujar Martanto. Penegasan yang sama juga diungkapkan oleh Sekretaris Fraksi Partai Golkar (FPG), Edy Santosa SH yang sama-sama ikut melakukan pemantauan jalannya tes. ''Kepada yang menyatakan adanya isu itu, tadi saya tantang untuk membuktikannya. Tunjukkan, siapa yang memberi dan meminta serta yang menerimanya. Jangan hanya dikembangkan sebagai isu. Sebab, persoalan CPNS tidak dapat dibuat main-main,'' tandas Edy. Ketua Komisi A DPRD Wonogiri, Muhamad Zainudin SSos MHum minta jaminan agar panitia di tingkat Provinsi dan Pusat dapat benar-benar bersih dari praktik KKN. ''Apalah artinya panitia di tingkat Kabupaten berupaya bersih, kalau ternyata panitia di tingkat atasnya kotor. Untuk itu, kami meminta jaminan agar panitia di semua jenjang tingkatan dapat bersikap konsisten,'' tegas Zainudin saat memimpin rombongan Komisi A yang ikut melakukan pemantauan langsung ke beberapa sekolah yang dipakai untuk lokasi penyelenggaraan tes. Harapan sama juga dikemukakan oleh Ketua Komisi D, Wawan Setya Nugraha SSos dan Wakil Ketua DPRD, Sardi Djoko Praptopo SE yang secara khusus juga melakukan peninjauan pelaksanaan tes CPNS ke beberapa gedung sekolah. ''Saya jamin, panitia di tingkat Provinsi pun juga konsisten bersikap bersih. Kami tidak berani main-main, sebab risikonya berat,'' tegas Bintang Robby Heruwantho SH dari BKD Provinsi Jateng yang turun langsung melakukan pemantauan jalannya tes di Wonogiri. Ikut pula melakukan peninjauan, Bupati H Begug Poernomosidi SH bersama Muspida dan Sekda Drs Mulyadi MM, serta Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Drs Pranoto MM bersama sejumlah pejabat dari Bawasprop Jateng dan Pemkab Wonogiri. Dari pengamatan di beberapa lokasi tes, ditemukan adanya sebagian peserta tes yang terlambat datang lebih dari 15 menit; bahkan ada yang sampai terlambat satu jam, tapi ngotot dan protes sambil marah-marah saat ditolak kehadirannya oleh pengawas. Meski demikian, koordinator pengawas tetap tegas menolaknya, dengan mendasarkan kepada aturan tata tertib. Dilaporkan pula adanya kemunculan joki, yang ketika diusut langsung kabur meninggalkan tempat. Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Wonogiri, Wardjo, menolong memberikan pengobatan kepada seorang peserta tes bernama Triyono asal Kecamatan Tirtomoyo, yang meskipun mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda motor ketika berangkat, tetap nekat mengikuti tes dengan menahan sakit karena luka-luka yang dideritanya. Di luar gedung Akper, ditemukan seorang bapak bertugas menimang bayi, karena ditinggalkan ibunya menjalani tes. Di SMAN 1, ada satu bendel soal yang hilang, tapi ketika diusut ternyata terbawa peserta pulang. ''Tapi sudah diambil, dan tidak ada masalah lagi,'' tandas Kepala SMAN 1 Drs Suhardo. (P27-20a) |