logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 25 Nopember 2004 SALA
Line

Menebar Garam Berharap Lolos Tes

Wonogiri- Seorang pengawas salah satu ruang di SMK (SMEA) Negeri 1 Wonogiri, Rabu pagi (24/11) kaget ketika mendapati lantai ruangan kelas sejak dari pintu masuk ditebari garam dapur. Padahal, pagi itu jadwal tes penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2004 segera akan dimulai.

Rasanya mustahil, kalau garam itu dibawa murid dan tercecer. ''Saya menduga, garam tersebut merupakan bentuk sesaji spiritual peserta yang akan tes. Karena keberadaannya dirasa mengganggu, terpaksa dibersihkan terlebih dulu pakai sapu,'' ujar Muryanto, pengawas tes CPNS di SMKN 1 Wonogiri.

Ketua dan Sekretaris Panitia Penerimaan CPNS 2004, Sekda Mulyadi dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pranoto, hanya tersenyum ketika dilapori adanya taburan garam di ruang kelas yang akan dipakai tes CPNS.

Kedua pejabat itu nampaknya dapat memaklumi keberadaan sesaji garam itu sebagai bagian dari ikhtiar spiritual peserta tes. Keduanya menilai hal itu sebagai ikhtiar batin; apalagi persaingan dalam tes CPNS kali ini berlangsung sangat ketat.

Taburan Garam

Dari 6.633 pelamar, kelak yang akan diterima hanya 300 orang. Itu artinya, satu berbanding 22. Ikhtiar lahirnya, lewat cara meningkatkan belajar terhadap materi yang diujikan; dan upaya batinnya berdoa serta meminta bantuan gaib paranormal.

Kasus temuan taburan garam dapur tersebut, mengingatkan kejadian sekitar lima tahun lalu di gedung DPRD Wonogiri, tatkala menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Ketua lama DPRD, Heru Sakirno, waktu itu sempat dibuat kaget ketika mendapati banyaknya garam dapur yang berceceran di ruang belakang gedung Dewan menuju ruang Ketua DPRD.

Abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, RT Tondo Nagoro SE menilai, keberadaan garam atau serbuk kemenyan memang sering dijadikan pelengkap media doa permohonan dalam ikhtiar gaib dengan cara kejawen.

Keberadaan sesaji itu, layaknya umat Hindu ketika melakukan puja bhakti sembahyangan untuk memanjatkan doa permohonan kepada Hyang Widi Wisesa. Atau layaknya kaum Kong Hu Cu (Tionghoa) membakar dupa hio tatkala melakukan sembahyangan untuk berdoa di klenteng.

Drs Jarot, penduduk di Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Kota, Wonogiri, punya pengalaman spiritual dalam membimbing adiknya ketika akan maju menjalani tes CPNS 2002. (P27-92a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA