| Kamis, 25 Nopember 2004 | SALA |
Kandang Meriam Tunggu Genteng SirapKALAU ada pemeo yang lazim terdengar di kalangan masyarakat Solo dan sekitarnya, "kaya andhong Keraton, ora umum" (seperti kereta Keraton, tidak umum/lazim-Red), barangkali masih relevan untuk masa sekarang. Sebab realitasnya Keraton itu masih ada dan eksis, baik keberadaan komunitasnya maupun bangunan fisik serta barang-barang budaya bersejarah pengisinya. Hal yang paling gampang dikenali hingga disebut ora umum itu, tentu ketika dilihat secara fisik. Baik yang menyangkut ukuran, meski terlalu besar untuk ukuran lazim, mungkin pula ora umum bentuk atau nilai kelangkaannya. Contoh gampang, tunjuk saja kereta kuda Kiai Gruda Kencana yang berlapis emas, ditarik delapan kuda, dan hanya Keraton yang memilikinya. Dari bentuknya, seperangkat gamelan Kiai Genta bisa disebut barang budaya yang ora umum. Kemudian, genteng sirap terbuat dari kayu jati produk masa lalu yang masih tersisa di sebagian kecil bangunan di kompleks Keraton. Dari sisi wujudnya, jenis atap itu jelas sudah sangat langka dan juga dianggap ora umum. Selain tidak lazim untuk bangunan pemukiman atau perkantoran masa kini, genteng sirap yang pernah digunakan keraton juga memiliki ukuran di atas rata-rata yang pernah ada. Seperti yang terdapat di Pendapa Pura Mangkunegaran, panjangnya mencapai 90 cm, lebar 40 cm, dan tebal tiga sentimeter. "Selain beberapa spesifikasi itu, masih banyak keunikan atau keunggulan lain hingga tidak lazim bagi masyarakat pada umumnya. Misalnya, kualitas kayu. Dulu, ada ritual tersendiri menggunakan kayu jati untuk berbagai keperluan. Mulai dari pemilihan pohon, tatkala masih di hutan penebangan hingga penggunaannya sesuai dengan kebutuhan," tutur koordinator teknis revitalisasi Keraton, KP Edy Wirabhumi kepada Suara Merdeka, belum lama ini. Kualitas Tinggi Namun apa yang diungkapkan suami GRAy Koes Moertiyah itu adalah gambaran kondisi masa lalu, tatkala sebagian besar bangunan Keraton masih berusia muda atau ketika para pendirinya masih hidup dan memerintah, minimal semasa SISKS Paku Buwono X. Sebab di saat itu rata-rata hutan lindung berisi tanaman jati milik Keraton atau yang lain masih aman dari eksploitasi dan pengaruh perubahan alam yang kian buruk. Artinya dengan sistem produksi melalui ritual tertentu saat digunakan, kualitas hasil bahan yang diperoleh jelas sangat tinggi. Termasuk pula jenis dan bentuk yang ora umum, karena bahannya mudah dan murah didapat. Misalnya untuk genteng sirap tersebut. "Sekarang, hal yang tidak lazim untuk jenis-jenis tertentu misalnya genteng sirap mungkin sudah menurun derajatnya. Sebab, bahannya berupa kayu jati sudah sangat sulit didapat. Kalaupun ada, harganya sangat mahal tetapi kualitasnya tidak sebaik dulu," tutur pelaksana renovasi bangunan-bangunan di kompleks Keraton itu. Meski menurun derajat ora umum-nya, bukan Bangsal Witana atau bangunan Keraton lain kalau bukan nganeh-anehi. Karena begitu direnovasi dan sisa-sisa genteng sirap bersulam pelat seng yang sudah hancur itu diturunkan, Keraton menghadapi persoalan aturan main yang ditetapkan dalam renovasi bangunan bersejarah. Dana yang tidak cukup untuk mengganti genteng sirap tidak serta-merta boleh berganti ke material seadanya. Tetapi aturan main renovasi bangunan peninggalan sejarah itu mengharuskan material pengganti. Bila tidak sama persis bahannya, sedapat mungkin diupayakan agar bentuk, wujud, dan warnanya sama. "Syukur bage kualitasnya juga sama, atau bahkan melebihi. Kasus di Bangsal Witana dan beberapa bangunan lain di Keraton saat ini, kurang lebih karena terbentur peraturan itu. Karena harus menaati, terpaksa menunggu lama," ujarnya. Bangunan Bangsal Witana adalah tempat penyimpanan meriam pusaka Nyai Setomi, Kori Talang Paten, deretan bangsal Reksa Pusaka, kandang kereta wisata, dan jenazah. Adapun Kori Brajanala Kidul dan Bale Rata, kini dibiarkan menganga bagian atasnya hingga tertimpa hujan berhari-hari. Karena itu, genteng sirap campuran fiber dengan semen yang disebut tripleks pengganti sirap kayu kini sedang dipesan secara khusus dari sebuah pabrik di Jakarta. Dan, 50 persen dari 6.000 meter persegi yang dipesan baru bisa dikirim dalam minggu ini. "Mudah-mudahan yang separo bisa lebih cepat datangnya dan sisanya juga lancar setiap tiga hari sekali. Genteng sirap ini menjadi tidak umum karena ukurannya 50 cm x 25 cm dan tebal dua sentimeter. Harga setiap satu meter persegi, sepersepuluh dari harga sirap kayu jati," ungkap abdi dalem di Keraton itu. (Won Poerwono-17s) |