logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 25 Nopember 2004 SALA
Line

Soal Dibacakan, Jawaban Dituliskan

LAYANAN khusus diperoleh Fitri Nugrahaningrum, saat mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) UNS Surakarta, kemarin. Pelamar dosen pendidikan luar biasa (PLB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS itu boleh didampingi rekannya. Bahkan, seorang pengawas membacakan soal-soal dan menuliskan jawaban yang dipilih Fitri di lembar jawaban.

Ya, perempuan berkerudung itu merupakan satu-satunya peserta tes yang diffable. Matanya yang mengalami gangguan sejak SD, sama sekali tidak bisa digunakan untuk melihat. Namun semangatnya yang besar, mendorong dia berani berkompetisi meraih posisi dosen yang diinginkan.

"Insya Allah, semoga saya diterima. Doakan ya, Mas," ucapnya kepada Suara Merdeka yang mendekatinya saat jeda menjalani tes sesi pertama.

Apakah dia tidak kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal yang disodorkannya itu? Alumnus UNS yang menjalani wisuda Juni 2004 itu menuturkan, ada sederet materi pertanyaan yang harus dikerjakan pada sesi pertama tersebut. Di antaranya Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pancasila, Tata Negara Kebijakan Publik, dan Undang-Undang.

"Nah, yang paling sulit mengerjakan Bahasa Inggris, karena pertanyaannya panjang-panjang. Petugas yang membantu saya harus berulang-ulang membaca, agar saya memahami kalimatnya," tuturnya.

Tes lain yang juga dia rasa sulit adalah materi pada seleksi sesi kedua, yakni skolastik. Karena menurutnya, tes tersebut sebenarnya membutuhkan penglihatan untuk mengerjakannya.

"Soal-soalnya kan seperti tes psikologi, jadi semestinya sangat membutuhkan penglihatan. Tetapi nggak apa-apa, saya tetap mencobanya," tandasnya.

Dia mengisahkan, ada berbagai tantangan saat mendaftar seleksi tersebut. Misalnya, ketika mendaftarkan diri sempat ditolak petugas. Alasannya, dia punya kekurangan indera. Namun tantangan itu terlampaui, setelah dia mendapat memo "boleh mengikuti tes" dari ketua panitia seleksi.

"Lalu layanannya juga belum bagus. Mungkin karena mendadak informasinya, bahwa salah seorang peserta tes ada yang buta. Ruangnya tak memadai. Tapi, tak apa-apalah. Bisa ikut tes saja, alhamdulillah."

Mulyono ST, petugas yang membantu membacakan soal-soal bagi Fitri mengatakan, dirinya memang ditugasi untuk melayani peserta yang diffable itu. "Dia disertai seorang temannya, itu lebih bagus, karena ada saksi atas layanan kami," katanya.(D11-17a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA