| Kamis, 25 Nopember 2004 | PANTURA |
Otonomi Tak Bisa Halalkan Komersialisasi PendidikanSEMAKIN mahal biaya pendidikan di negeri ini menyebabkan rakyat miskin semakin sulit masuk ke sekolah atau kampus favorit. Bila biaya pendidikan terus melambung maka akan terjadi praktik komersialisasi pendidikan yang ujung-ujungnya menutup kesempatan bagi masyarakat miskin. Komersialisasi pendidikan, menurut pendapat guru besar Universitas Negeri Jakarta Prof Winarno Soerachmat tidak bisa dibenarkan. Pendidikan, kata dia, bukanlah komoditas yang bisa diperdagangkan sebab semua rakyat mempunyai hak yang sama untuk bersekolah. "Ketika pendidikan dijadikan sebagai komoditas, yang terjadi adalah komersialisasi pendidikan," tandasnya saat ditemui Suara Merdeka saat mendampingi kunjungan tim dari Japan International Cooperation Agency (JICA) di Kabupaten Pekalongan, belum lama ini. Wacana otonomi yang saat ini sering didengang-dengungkan pihak sekolah atau kampus tidak bisa djadikan alasan untuk mengesahkan komersialisasi pendidikan. Otonomi, ujar Winarno, harus dimaknai sebagai independensi untuk mengelola pendidikan dan bukan menjadikan pendidikan sebagai komoditas. "Otonomi seharusnya diprioritaskan untuk memperkuat independensi sekolah dan bukannya menghalalkan komersialiasi pendidikan," tandasnya. Pendidikan, lanjut dia, seharusnya ditempatkan sebagai upaya membentuk kecerdasan, moral, dan budi pekerti. Karena itu, salah besar jika kemudian dijadikan komoditas. Pembentukan Moral Dia mengatakan, pembentukan moral menjadi benang merah krisis pendidikan yang sekarang dialami bangsa ini. Selama ini, hampir belum ada menteri pendidikan yang berbicara soal kehidupan moral ke depan."Sekarang kita sedih karena miskin uang, tapi akan lebih sedih jika kita miskin konsep," tuturnya. Pendidikan di Indonesia, ujar dia, membutuhkan orang-orang yang siap memperbaiki moral bangsa ke depan. Tak heran jika Winarno dengan tegas mendukung langkah Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono yang gencar menyuarakan kritik terhadap jam tayang televisi yang menyuguhkan berbagai acara hiburan yang tidak mendidik pada saat jam belajar. (Muhammad Burhan-90j) |