| Kamis, 25 Nopember 2004 | PANTURA |
Ribuan Orang Padati "Tegalgubug"LUAR biasa. Begitulah kira-kira ucapan yang tepat ketika melihat suasana keramaian Pasar Tegalgubug di kompleks Pasar Pagi Kota Tegal. Betapa tidak? Setiap Minggu dan Rabu mulai pukul 05.00, bisa dipastikan ribuan orang tumplek-bleg di tempat itu. Tak ayal lagi, kesemrawutan kian menjadi, arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani menjadi lambat karena antarpengemudi tidak ada yang saling mengalah. Kenapa mereka antusias datang ke tempat itu? Apakah ada hal yang sangat istimewa di Pasar Pagi? Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, setiap Minggu dan Rabu pagi ratusan pedagang lokal ataupun luar daerah, seperti Cirebon, Bandung, dan Jakarta mendirikan terpal untuk menggelar dagangan mereka di Pasar Tegalgubug atau yang lebih dikenal dengan Pasar Pagi itu. Sejumlah pengunjung menuturkan, mereka datang ke tempat itu untuk berbelanja keperluan pribadi. Selain itu, tak sedikit yang membeli dalam partai besar untuk keperluan dagang. "Harga barang yang ditawarkan di sini relatif lebih murah dibandingkan dengan harga di toko ataupun (pasar) swalayan. Jadi, tidak heran banyak pengunjung yang datang kemari," papar Rubiyah, warga Jalan Srigunting, Kota Tegal sambil terus memilih-milih pakaian. Pengunjung lain, Sarman, mengaku datang ke tempat itu menemani rekannya yang berbelanja dan melihat-lihat pakaian. Alasannya, daripada hanya di rumah lebih baik berjalan-jalan dengan rekan-rekannya. Pada hari biasa, aktivitas pasar hanya berlangsung pada pukul 06.00-09.00, itu pun jumlah pedagang dan pembeli hanya sedikit. Sementara itu, pada setiap Minggu dan Rabu lonjakan jumlah pedagang ataupun pembeli mulai terlihat pada pukul 05.30-13.00. Penyesuaian hari pasaran pasar ini tampaknya menyesuaikan hari pasaran Pasar Tegalgubug aslinya di Kabupaten Cirebon. Di sana, hari pasaran adalah Sabtu dan Selasa. Dengan demikian, para pedagang saling mengisi membeli barang dagangan di Cirebon itu. Seorang pedagang Nuriyah (35) mengaku menggelar dagangan di Pasar Pagi, setelah dirinya berdagang di pasar Tegalgubug, Cirebon (Jabar). Ini terlihat dari barang yang dibawa sebagian besar merupakan konfeksi, seperti pakaian anak-anak, ibu-ibu, dan perlengkapan pakaian lain. "Harganya juga relatif sama seperti di Cirebon. Ya, paling-paling ambil untung satu potong Rp 500 - Rp 1.000. Lumayan, bisa buat ganti ongkos transpor," ujarnya yang keberatan menyebut nilai keuntungan dalam satu hari berdagang. Kendati demikian, dia lebih merasa nyaman jika Pemkot menyediakan lahan yang lebih representatif. Tidak sekadar menyediakan tanah saja. "Kalau ada los atau kios lebih baik. Apalagi, pembeli di sini tidak kalah dengan di Cirebon,"ujar pedagang lain, Tarman (30). Yang dikemukakan Nuriyah dan Tarman memang cukup beralasan. Sebab ketika hari pasaran (Rabu dan Minggu), di Pasar Pagi Blok A itu ribuan warga Kota Tegal dan sekitarnya tampak berjubel untuk berbelanja aneka kebutuhan.(Wawan Hudiyanto -90j) |