| Kamis, 25 Nopember 2004 | PANTURA |
Bukan Antraks, Diduga akibat Kangkung SegarTEGAL - Dugaan kasus antraks yang mencuat telah membuat warga Kelurahan Kalinyamat Kulon, Margadana, Tegal, benar-benar cemas. Mereka khawatir penyakit yang membahayakan itu akan merebak. Sekretaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Asmawi Azis mengemukakan, dengan munculnya kasus tersebut warga merasa tidak nyaman untuk mengonsumsi daging kambing. "Sejauh ini warga di sini masih awam soal antraks. Mereka hanya mengetahui dari siaran TV. Karena itu, jika ada kambing yang mendadak mati beruntun ya anggapannya itu antraks dan jangan heran bila kemudian bangkai kambing segera dibakar dan dikubur," ujarnya, kemarin. Seperti diberitakan (Suara Merdeka, 24/11), tiga kambing milik Sunam mati mendadak dan diduga terkena antraks. Peternak kemudian membakar dan mengubur bangkai kambing itu. Menurut keterangan dia, dengan adanya kasus tersebut Pemkot seharusnya bertindak konkret. "Sebelum meresahkan warga memang sebaiknya Pemkot atau dinas yang berkompeten bisa menyelidiki dan bisa menjelaskan ke masyarakat," tandasnya. Selain itu, ujar dia, dengan mencuatnya kasus tersebut sekitar 15 peternak kini mengaku bingung dan cemas. Mereka khawatir, hewan ternak yang kini dipelihara terkena penyakit tersebut. Bukan Antraks Kepala Subdin Peternakan Puji Trilamtini, ketika dimintai konfirmasi mengemukakan, setelah kasus tersebut mencuat di tengah-tengah masyarakat pihaknya langsung menerjunkan petugas ke Kelurahan Kalinyamat Kulon. Diperoleh keterangan, setelah dicek di lokasi, tiga kambing milik Sunam yang mati tersebut bukan karena antraks. Setelah dikaji secara mendalam dan berdasarkan keterangan dari peternak, sebelum kejadian tiga kambing tersebut diberi makan kangkung. "Apalagi, kangkung yang diberikan itu tidak dilayukan. Kemungkinan dari makanan tersebut perut kambing jadi kembung hingga mengeluarkan liur dan mati. Kami juga sudah berkonsultasi dengan dokter hewan dan dipastikan kematian tiga kambing tersebut bukan antraks," paparnya. Pihaknya juga menekankan, Kota Tegal bukan daerah endemik antraks. "Saya juga kaget, kok bisa sampai muncul kasus tersebut. Saya menduga, itu hanya kesalahpahaman masyarakat saja. Soalnya, antraks itu berkaitan dengan darah," ujarnya. Meski demikian, dia mengimbau kepada peternak untuk mewaspadai antraks terutama bibit kambing yang berasal dari luar daerah.(G12-42j) |