logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 25 Nopember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Teror dan Teka-teki dalam Kasus Munir

-- Potongan-potongan bangkai ayam dan surat ancaman. Paket yang diterima oleh istri almarhum Munir dan kantor Imparsial itu merupakan rangkaian misteri kematian aktivis hak asasi manusia (HAM) tersebut. Bentuk teror itu bukan pola baru untuk melakukan pressure mental kepada seseorang agar diliputi ketakutan. Metode psy war untuk menekan pengungkapan kasus penting sering kita dengar. Para aktivis hak asasi manusia (HAM), elemen-elemen kritis masyarakat termasuk pers biasa menghadapinya. Pola kematian seorang tokoh kritis juga dapat dimaknai sebagai ''pesan'' kepada para pegiat yang lain, bahwa bakal demikianlah nasibnya jika tidak mengendurkan aktivitas yang dianggap bisa mengusik eksistensi seseorang atau lembaga tertentu.

-- Teror semacam itu dapat dikesankan sebagai petunjuk, sekaligus juga upaya pengaburan. Maka perkembangan ini harus disikapi secara hati-hati. Kiriman tulisan ''Awas jangan libatkan TNI dalam kematian Munir. Mau menyusul seperti ini?'' memang mengundang berbagai tafsir. Seolah-olah ada yang sengaja mengarahkan tudingan ke institusi TNI, walaupun bisa juga ditafsiri sebaliknya. Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan, institusinya tidak terkait dengan kasus tersebut. Namun jika ada pihak-pihak yang mencoba mengkambinghitamkan TNI, pihaknya akan mencoba menahan diri. Semua hanya bisa dibuktikan melalui proses hukum. Kita sependapat, investigasi melalui proses hukum idealnya menjadi jaminan untuk menjawab teka-teki masyarakat.

-- Benarkah Munir dibunuh? Petunjuk awal sudah mengarah ke sana. Hasil autopsi di Belanda yang menyimpulkan terdapat kandungan arsenik mematikan di tubuh Munir menjelaskan kematiannya bukan kematian biasa, tetapi ada pihak-pihak yang menghendaki dengan mengincar, merancang, dan melaksanakannya. Perjalanan aktivis HAM itu ke Belanda untuk menempuh studi magister hukum dijadikan sebagai bagian proses rancangan. Dapatlah disimpulkan, kalau benar demikian, ''proyek'' itu merupakan produk dari sebuah konspirasi besar yang terancang secara sistematis. Perjuangan Munir selama ini memang berpotensi untuk membuat gerah pihak-pihak tertentu. Dapat dipahami, publik cepat berspekulasi atas temuan penyebab kematiannya.

-- Secara lebih luas kematian Munir patut dilihat sebagai ancaman untuk para aktivis HAM. Atau, itulah sebenarnya pesan psikologis yang hendak disampaikan oleh pelakunya kepada para aktivis kritis masyarakat agar tidak terlalu gigih dalam menegakkan HAM di Indonesia. Secara reflektif, kematian Munir bukan lagi merupakan kematian pribadi, karena pria asal Malang itu telah menjadi ikon penegakan HAM di Indonesia. Dengan menghabisi simbol perjuangan HAM itu, aktor intelektual pembunuhan ingin menyampaikan peringatan kepada para pegiat HAM dengan mengelaborasi rasa takut agar aktivitas penegakan dan pengungkapan kasus HAM di Indonesia -- yang selama ini juga banyak menemui hambatan -- dapat dilemahkan.

-- Bagi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kasus ini layak diposisikan sebagai salah satu parameter keseriusan penegakan hukum, baik dalam konstelasi rasa keadilan secara umum, maupun secara mikro penyelesaian kasus-kasus HAM di Tanah Air. Bukankah untuk kasus pelanggaran semacam ini, kita punya referensi buruk? Kita mencatat misalnya, kasus pembunuhan aktivis buruh di Jawa Timur, Marsinah pada awal 1990-an, dan pembunuhan wartawan Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang kini cenderung terbenam sebagai dark number. Perjuangan penegakan hukum untuk mengungkap kasus HAM yang dihadapi orang tua korban tragedi Trisakti, Semanggi 1989 juga membentur tembok tebal.

-- Dibutuhkan sikap proaktif pemerintah dan DPR untuk menangani kasus Munir ini sebagai ungkapan komitmen keberpihakan kepada penegakan hukum dan HAM. Respons Presiden Yudhoyono yang kemarin menerima Ny Suciwati, istri Munir dan menyepakati pembentukan tim investigasi yang melibatkan beberapa tokoh nasional, merupakan perkembangan positif yang patut didukung. Kita sependapat, kasus ini merupakan tragedi dalam kehidupan demokrasi, yang tentu sangat merisaukan kalau tidak diungkap secara tuntas. Ada faktor determinan lain, yakni karena temuan pertama muncul dari hasil autopsi jenazah Munir di Belanda, gaung kasus ini bakal menguji kredibilitas penegakan hukum kita di mata masyarakat internasional.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA