| Kamis, 25 Nopember 2004 | MURIA |
Pengidap Epilepsi Tewas Bunuh DiriPATI - Seorang gadis pengidap epilepsi, Dwi Listina (27), warga Dukuh Ngeluk, Desa Panjunan, Kecamatan Pati, Rabu (24/11) siang kemarin sekitar pukul 11.30 ditemukan salah seorang tetangganya tewas di dalam sumur. Kematian gadis itu diduga keras bunuh diri karena penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Bahkan, tutur saksi mata yang kali pertama menemukan korban yang telah tewas, Winarni, yang juga tetangga depan rumah, penyakit yang diderita korban akhir-akhir ini sering kumat. Di samping itu, lanjutnya, selama ini bila siang hari korban lebih banyak berada di rumah dinas penjaga SD Panjunan 02. Rumah tersebut ditinggalkan oleh ayahnya, Sutawi, yang tak lain adalah penjaga SD itu. Akan tetapi, belakangan ini ayah korban lebih banyak bertempat tinggal di Desa Payang di wilayah kecamatan yang sama, sedangkan ibunya bekerja di Semarang. Dengan demikian, sehari-hari rumah tersebut dalam keadaan sepi. Demikian pula pada malam hari, korban memilih tidur di rumah buliknya. Karena korban bila siang hari di rumah itu sendirian, kepada aparat kepolisian yang dipimpin langsung Kasatreskrim Inspektur Satu (Iptu) Roland Ronaldi, Winarni menuturkan, dia kadang-kadang datang menengok. Seperti biasa, pada jam-jam tersebut gadis itu biasanya tidur. Kadang-kadang dia juga ikut menemani atau sekadar mengobrol. ''Kalau tidak tersedia banyak waktu, kami cukup menengok dari jendela. Setelah itu meninggalkannya,'' ujarnya. Luka Siang kemarin dia bermaksud menengok korban. Pintu rumah yang biasanya tertutup itu dalam keadaan terbuka. Sewaktu korban ditengok di dalam kamar tidak ada, sehingga dia mencarinya ke dapur dan ternyata sama saja. Lalu, dia ganti menengok ke sumur di samping kiri rumah. Di tempat tersebut terdapat sepasang sandal dan masih ada nasi di dalam piring tapi korban tidak ada di tempat tersebut. Ketika dia iseng menengok ke dalam sumur yang airnya kering, ternyata korban berada di dalamnya. Kontan saja dia berteriak minta tolong kepada tetangga yang dalam waktu sekejap berdatangan. Namun, untuk mengangkat jenazah korban menunggu kedatangan polisi. Baru sekitar pukul 13.30, jenazah korban dapat diangkat dari sumur yang mempunyai kedalaman sekitar lima meter tapi airnya tak lebih dari sejengkal. Pada bagian kepala sebelah kiri dan alis mata kanan terdapat luka namun bukan karena penganiayaan. ''Luka tersebut diduga akibat terbentur batu yang terdapat dalam sumur saat korban menceburkan diri,'' ujar Zulaekah, petugas kesehatan yang membantu polisi saat memeriksa jenazah korban.(ad-15j) |