logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 25 Nopember 2004 MURIA
Line

Rembang Over Produksi Garam

Gudang Penuh, Garam Ditumpuk di Lahan Terbuka

REMBANG - Musim kemarau yang panjang di Rembang menyebabkan produksi garam di daerah itu mengalami over produksi. Akibatnya, banyak gudang (tempat penampungan garam) milik petani yang tak mampu menampung hasil panen mereka.

''Sekarang semua gudang sudah penuh. Akan tetapi, petani masih saja memproduksi garam,'' ujar Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Diperindakop) Drs FX Tri Djoko Margono, kemarin.

Dia mengemukakan, pada tahun-tahun sebelumnya produksi garam di daerahnya 70.000 - 80.000 ton/tahun. Namun, untuk tahun ini produksinya sudah mencapai 100.000 ton lebih.

Sekarang, ujarnya, banyak petani garam yang menumpuk hasil panennya di tepian lahan tambak garamnya. Sebab, sudah tak ada lagi tempat yang aman untuk menyimpan hasil produksi mereka.

Dia mengakui, cara petani menumpuk garam di lahan terbuka itu berisiko tinggi. Bukannya dicuri orang, melainkan berisiko menyusut bahkan bisa kembali mencair lagi bila terjadi hujan lebat.

Apa yang dikatakan Tri Djoko itu dibenarkan oleh para petani garam baik di wilayah sejumlah kecamatan, seperti Kaliori, Lasem, Sluke, Kragan, dan Sarang. Mereka mengakui masih memproduksi garam meski gudang-gudang miliknya sudah penuh.

''Bagi petani garam, musim panas adalah rezeki. Untuk itu, selama masih ada terik matahari, kami tak akan berhenti memproduksi garam,'' ujar petani garam asal Sarang, Sutomo (34).

Dengan didampingi petani garam lainnya, Jono (25), Sutari (35), dan Mujiono (41), Sutomo menyebutkan, musim panen garam pada tahun ini tergolong panjang. Biasanya, panen mulai Juni dan berakhir September.

Tahun ini, lanjutnya, sedikit ada keganjilan. Sebab, pada Mei petani sudah memanen garam. Yang aneh lagi, hingga November petani belum menghentikan produksi karena belum turun hujan.

Terjadinya over produksi garam, menurut penuturan Kepala Diperindag Drs FX Tri Djoko Margono, sedikit banyak akan memengaruhi harga.

Terbukti, sekarang harga garam sudah turun hingga Rp 80/kg. Padahal, pada bulan-bulan sebelumnya harga garam bisa Rp 100/kg bahkan lebih.

Namun, turunnya harga garam itu dinilai masih wajar karena belum menyentuh tingkat yang merugikan petani. Dia merasa yakin harga garam akan kembali naik bila musim hujan tiba.

Selanjutnya, Tri Djoko menganggap perlu di daerahnya didirikan koperasi unit desa (KUD) yang khusus menangani garam. Tujuannya adalah untuk mengendalikan harga bila terjadi over produksi garam.(jl-90j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA