| Kamis, 25 Nopember 2004 | INTERNASIONAL |
Dua Kubu yang Bertentangan BerhadapanUkraina dalam BahayaKIEV - Para pendukung PM Ukraina Viktor Yanukovich - yang disokong Rusia - mendirikan perkemahan di Kiev, ibu kota negara itu, Rabu kemarin. Mereka tampaknya ingin menyaingi perkemahan yang dibuat para demonstran dari kubu oposisi. Sekitar 1.500 pendukung PM itu mendirikan sekitar 50 tenda di dekat stadion sepak bolak Dynamo Kiev, sekitar satu kilometer dari kemah-kemah berisi ribuan pengunjuk rasa oposisi yang berdemonstrasi di Lapangan Kemerdekaan. Pendukung Yanukovich itu mencela pemimpin oposisi, Viktor Yushchenko, yang berhaluan liberal. Mereka berteriak-teriak: ''Yushchenko gila! Jangan jual Ukraina kepada Amerika!'' Yushchenko sebelumnya mengatakan dia telah dicurangi oleh para pendukung Yanukovich dalam pemilihan presiden, beberapa hari lalu. Berdasarkan hasil yang diumumkan Komisi Pemilu, sampai Rabu kemarin Yanukovich telah meraih suara 49,39 persen dan Yushchenko 46,71 persen (dari 99,48 suara yang telah dihitung). Menhan Oleksander Kuzmuk mengatakan kemarin, dipastikan tidak akan ada gerakan pasukan berkaitan dengan kekisruhan politik di negeri itu, yang dipicu oleh pemilihan presiden yang kontroversial. ''Meskipun ada rumor dan pernyataan provokatif, saya pastikan tidak ada gerakan pasukan atau perlengkapan militer yang tak terencana. Dan tidak akan ada gerakan seperti itu,'' katanya, dalam suatu pernyataan. Di Persimpangan Di Brussel, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Javier Solana mengatakan aksi kekerasan yang mengerikan mungkin bakal pecah di Ukraina. Para pengamat UE menilai pemilihan presiden Ukraina dicurangi oleh kubu Yanukovich. ''Negara itu sekarang berada di persimpangan jalan,'' katanya kepada Komisi Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa. ''Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan pecahnya kekerasan.'' Menurut Solana, masa depan hubungan strategis salah satu negara eks Uni Soviet itu dengan UE - yang beranggotakan 25 negara - bergantung pada bagaimana krisis pemilu tersebut diatasi. Viktor Yanukovich diketahui pro-Rusia, sementara kandidat presiden reformis Viktor Yushchenko pro-Barat. Kedua kandidat presiden tersebut sama-sama mengklaim telah memenangi pemilu itu. Para pendukung kelompok oposisi berjanji akan berjaga sepanjang malam di pusat kota Kiev, setelah Yushchenko mengumumkan diri sebagai presiden terpilih. Para pendukungnya mengancam membuat krisis politik di Ukraina jadi tak terkendali. Yushchenko mengumumkan diri sebagai presiden dalam sidang darurat parlemen yang hanya dihadiri oleh para pendukungnya. Namun jumlah anggota yang hadir tidak memenuhi kuorum untuk memberinya kekuasaan. Polisi antihuru-hara kemudian menutup gedung Parlemen, mendesak mundur pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan-slogan dan menyerukan personel keamanan agar bergabung dengan mereka. Pada saat yang sama, pemerintah mengadakan sidang darurat. Kuchma Memperingatkan Ketika kecaman terhadap pemilu itu meningkat di Barat, dua anggota Komisi Pemilu Pusat di Ukraina mendesak rekan-rekan mereka agar tidak mengesahkan hasil pemilu itu, karena dinilai telah terjadi kecurangan. Presiden Leonid Kuchma, yang akan meletakkan jabatan, memperingatkan bahwa tindakan Yushchenko sangatlah berbahaya dan dapat menimbulkan konsekuensi tragis. Tetapi dia berjanji, pemerintahnya takkan menjadi pihak pertama yang menggunakan kekerasan terhadap aksi pembangkangan yang kebanyakan dilakukan oleh rakyat. ''Pemerintah takkan pernah menjadi pihak yang mendorong dilakukannya penggunaan kekerasan oleh militer,'' kata Kuchma, dalam pidato kepada rakyatnya. Kubu oposisi khawatir, ''provokator pemerintah'' akan bergabung dengan massa dan menyulut bentrokan dengan aparat keamanan. Kuchma memperingatkan: ''Sandiwara politik hari ini oleh koalisi Ukraina Kita yang dipimpin Yushchenko, yang telah mengumumkan diri sebagai presiden rakyat, sangat berbahaya dan dapat mengarah pada konsekuensi yang tak dapat diramalkan.'' Pemilu Ukraina dipandang oleh sebagian pengamat sebagai yang paling penting di Eropa timur sejak ambruknya Uni Soviet pada 1991. Kemenangan Yushchenko akan menarik negara berpenduduk 48 juta jiwa itu ke luar dari rangkulan Rusia, dan membawanya ke arah Uni Eropa. Dan barangkali, Ukraina bakal menjadi anggota NATO, sehingga pakta militer Barat itu berada lebih dekat ke perbatasan Rusia. Percekcokan tersebut memecah republik bekas Uni Sovyet itu. Kebanyakan wilayah barat - yang berbicara bahasa Ukraina - mendukung Yushchenko dan wilayah timur - yang berbicara bahasa Rusia - mendukung Yanukovich. (rtr-ben-30) |