| Kamis, 25 Nopember 2004 | BANYUMAS |
Mengidap Tumor Ginjal Aristin Butuh BantuanBECAK menjadi tumpuan Slamet Rahardjo (36) mencari nafkah. Namun kendaraan itu terpaksa dia jual murah. Harga pasaran Rp 500.000, karena sangat butuh uang, warga Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, itu melepas kendaraan roda tiganya Rp 300.000. ''Saya butuh uang untuk biaya berobat anak saya yang kena tumor ginjal,'' tutur Slamet, di rumahnya, kemarin. Bukan cuma itu. Barang di rumahnya pun habis dia jual untuk biaya berobat Aristin Puji Astuti (2 tahun 7 bulan). Slamet juga sudah meminta bantuan ke berbagai pihak. dari warga masyarakat Pasir Wetan, pejabat, pengusaha, sampai anggota DPRD. Dia pun meminta keringanan biaya dengan membawa surat keterangan tak mampu. Dia sekeluarga menempati rumah 5 x 6 m berdinding bambu. Menurut keterangan dokter, kata Slamet, Aristin harus dioperasi setidaknya dua kali. Operasi pertama Agustus lalu untuk mengangkat tumor di ginjal. Untuk operasi itu Aristin diopname di RS Sardjito 40 hari. Setelah itu dia boleh pulang, tetapi harus menjalani terapi seminggu sekali selama 27 pekan. Saat ini memasuki pekan ketujuh. "Setiap satu minggu saya bawa Aristin ke Sardjito, habis antara Rp 900.000 dan Rp 1 juta setiap berangkat," kata Slamet. Di perut bagian bawah Aristin tampak garis hitam bekas luka operasi. Bagian atas masih keras, karena tumor belum diambil. Setelah terapi selesai, bungsu dari dua bersaudara itu harus dioperasi lagi untuk pengambilan tumor di hati. Untuk meneruskan proses pengobatan itu, Slamet tak sanggup mencari biaya lagi. Biaya pengobatan selama ini pun bantuan berbagai pihak. Karena tak memiliki uang Slamet pernah meminta sumbangan dari pintu ke pintu di Yogyakarta. Itu dia lakukan saat sang anak dioperasi di RS Sardjito. Aristin menderita tumor di ginjal itu sejak Februari 2004. Saat itu terjadi pengerasan di perut. Dia dibawa ke RSUD Banyumas. Menurut keterangan dokter, ginjal gadis kecil itu membengkak. RSUD Banyumas merujukkan Aristin ke RS Sardjito. Sejak saat itu, Slamet tak bisa mencari nafkah karena seluruh waktunya untuk mengurus sang anak. Selain menjadi tukang becak, dia juga tukang batu. Sebelum anaknya sakit, dia berencana bekerja di Malaysia. Dia sudah cek kesehatan dan memiliki parpor. Namun rencana itu gagal. Sekarang kalaupun setiap hari bekerja menjadi tukang batu, penghasilannya tak cukup untuk mengobatkan anak. Upah tukang batu Rp 35.000/hari. Padahal, kebutuhan berobat minimal Rp 900.000/pekan. Belum lagi biaya operasi kedua. Adakah pembaca yang tergerak untuk membantu Aristin? (Budi Hartono-86) |