logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Bank Lippo, Mandiri, Bank BNI Memotong

Saya mencontohkan, setiap pemilik buku tabungan pasif, diharuskan memiliki sisa saldo Rp 50.000 yang tidak diberi bunga bahkan dipotong Rp 8.000/bulan. Ada juga yang Rp 5.000 dan Rp 2.000/bulan sampai habis. Saya yang pensiunan Veteran PKRI 1945 hanya menerima tunjangan Rp 500.000/bulan untuk menghidupi 5 orang.

Suatu saat saya menerima bantuan dari adik lewat transfer Bank Lippo Rp 200.000. Setelah saya ambil ternyata hanya menerima Rp 161.600. Jadi saya dirugikan Rp 38.400. Jelas saya merasa diperas paksa. Kemudian menerima kiriman lagi Rp 150.000, tetapi hanya menerima Rp 118.000 atau dirugikan Rp 32.000. Jadi dalam dua kali saya diperas paksa Rp 70.400.

Saya juga punya buku Bank BNI (tabungan pasif) bersaldo Rp 74.000. Sisa saldo tersebut akan saya ambil semua tetapi dinyatakan habis. Jelaslah praktik bank kini tidak punya rasa keadilan sosial lagi. Mohon bantuan ahli hukum yang mau membela nasabah untuk menuntut ke pengadilan. Harap juga hal ini menjadi perhatian bagi gubernur Bank Indonesia untuk menindaklanjuti.

Umbas
Jl Bangunharjo II/38, Semarang

***

PLN soal Listrik Mati

Kami sampaikan tanggapan atas tulisan Bp Ngatmin tentang listrik di Jl. Menoreh Utara setiap hari pukul 07.00 mati terus yang dimuat 30 Oktober 2004 kami mohon maaf atas kejadian tersebut. Kami informasikan setelah dilakukan pengecekan, trafo 1x50 KVA pada tiang No KLS 7-67 sudah melebihi kapasitas (over belast), karena ada penambahan beban yang berlebihan.

PLN telah melaksanakan pendataan trafo yang mempunyai beban penuh, namun keterbatasan waktu dan masalah teknis maka setelah kejadian tersebut baru dapat dipasang trafo sisipan pada 29 Oktober 2004 dengan daya 1x50 KVA.

Untuk menghindari berkurangnya daya dan turunnya tegangan, kami imbau kepada masyarakat untuk turut mencegah terjadinya pencurian listrik dan pemasangan JPU ilegal yang mungkin terjadi di sektiar lingkungan masing-masing.

Area Pelayanan dan Jaringan Semarang
Ir M Budisusilo

***

Mohon Klarifikasi Unsoed Purwokerto

Dalam rekap jumlah pelamar CPNS Unsoed Purwokerto tanggal 9 November 2004 terlihat tidak ada pelamar dosen fisika dengan kualifikasi S2. Pertanyaan saya, mengapa pihak berwenang Unsoed tidak menurunkan persyaratan kualifikasi menjadi S1 pada hari-hari terakhir penutupan pendaftaran.

Padahal telah menunggu alumnus S1 Fisika dari berbagai PTN, toh nanti mereka masih harus bersaing. Apakah 3 formasi untuk fisika ini akan dibiarkan kosong. Tentu kurang elegan kalau jatah 3 ''kursi'' ini ''dilimpahkan'' ke magister fakultas lain dengan alasan tidak ada pelamar S2 Fisika (tak memenuhi kuota).

Tentu kita akan bahagia ketika orang tua tersenyum mengetahui anaknya memperoleh nomor tes CPNS, walau tidak tahu arti senyum mereka. Sebuah ironi mungkin, ketika biaya pendidikan sangat mahal, Unsoed menyaratkan kualifikasi yang cukup berat bagi alumnus fisika.

Padahal instansi lain seperti Dep ESDM, Lapan, Lipi, Bakosurtanal masih menyaratkan S1 untuk formasi fisika. Saya berfikir UUD 1945 yang dibuat oleh pendiri bangsa setengah abad lalu masih bisa diamandemen. Mengapa peraturan yang lebih bawah tidak bisa direvisi sesuai situasi.

Yusro Al Hakim SSi
Jl Stasiun Raya Rt 1/Rw 4Cilacap

***

Pelayanan RSU Blora

Saya kecewa atas pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Umum Blora terhadap seorang teman yang dirawat tanggal 27 Oktober s.d 6 November 2004. Saya kecewa, atas kebocoran hasil tes darah yang seharusnya menjadi hak privacy pasien dan keluarga.

Saya kecewa, atas sikap sebagian oknum dokter dan perawat yang kurang peduli, kurang manusiawi. Saya kecewa, atas semua bentuk manipulasi, penghisapan, moralitas dan pembodohan yang mereka lakukan hingga mengorbankan masyarakat.

Eko Arifianto
Jl A Yani 42A Blora

***

Tas Tertukar saat Naik Bus Mios

Pada tanggal 14 November 2004, paman saya beserta keluarga mudik ke Semarang dengan menumpang bus Mios jurusan Bandung-Solo, berangkat dari kota Losari Cirebon. Mereka sempat berganti bus Mios jurusan yang sama di Pekalongan karena bus sebelumnya mengalami kerusakan.

Lalu mereka turun di dekat pintu tol Kaligawe sekitar pukul 22.00 dan langsung naik taksi menuju ke rumah. Saat menurunkan barang dari bagasi taksi, paman baru menyadari bahwa salah satu tasnya tertukar dengan tas penumpang lain.

Ciri-ciri tas yang terbawa, travel bag warna hitam dengan satu saku di samping bertuliskan ''Nike'' warna putih dan strip logo warna kuning. Tas itu berisi beberapa potong pakaian orang dewasa dan pakaian anak tanpa satu pun identitas di dalamnya. Secara kebetulan, tas paman pun memiliki ciri serupa, hanya warna strip logonya saja yang berbeda.

Pembaca yang merasa kehilangan tas tersebut dan/atau kebetulan juga keliru membawa tas paman mohon hubungi (024) 3572457.

Wahyu Adi Setyanto
Jl Lamper Tengah XV-C/22 Semarang

***

Penjelasan soal Obat Cacing

Karena banyaknya surat yang datang pada saya, terkait dengan dimuatnya Surat Pembaca tentang obat cacing untuk mengobati gatal-gatal, maka saya ingin memberikan klarifikasi sbb: Saya bukan sales obat cacing. Tulisan tersebut adalah pengalaman nyata saya dan ditulis demi membantu kesembuhan mereka yang menderita gangguan sejenis.

Mengapa obat cacing? Pengetahuan saya, cacing binatang yang tidak punya tulang belakang (avertebrata). Ketika kita minum obat cacing maka obat tersebut akan merasuk ke dalam tubuh cacing hingga hancur. Jadi obat tersebut dapat menghancurkan binatang yang tidak mempunyai tulang.

Saya yakin di dalam bisul, jerawat, atau pun bintik-bintik kecil pada kulit yang berasa gatal, tentu terdapat binatang yang tidak bertulang (sejenis cacing tapi ukurannya lebih kecil). Dari situlah saya mulai coba pada beberapa teman dan keluarga, ternyata hasilnya di luar dugaan. Banyak penyakit yang sembuh hanya dengan minum obat cacing saja, padahal harganya tidak seberapa.

Jenis cacing ada beberapa, cacing gelang, pita, tambang, kremi dan lainnya. Jika satu jenis obat belum berpengaruh, minta apotik untuk memberikan yang merek lain. Dosis pemakaian lebih bagus juga tanya kepada apotekernya.

Daryoso
Jl.Tusam 1396, Semarang

***

Calo Terminal Purwokerto

Pada tanggal 8 November 2004 sekitar pukul 17.00 WIB bis Sinarjaya yang saya naiki dari Tangerang sampai di terminal Purwokerto dan ternyata CSBH (calo satria baja hitam) terminal Purwokerto seperti perampok. Main tarik, berebutan tas dan bawaan penumpang.

Aku dan saudara perempuanku (15) yang membawa tiga tas besar dan satu kardus sirup tak berkutik, terpaksa mengikuti kemauan mereka untuk dibawa ke mobil carteran. Mereka minta duit, dioper ke mobil mikro bus dan minta duit lagi.

Dalam perjalanan menuju Banjarnegara, kondektur mikrobis narik duit lagi. Karena kasihan kepada kondektur mikro bus sehingga terpaksa aku bayar lagi. Jadi total Purwokerto - Kalimendong Rp 80.000.

Kanggo para sedulur sing mudhun utawa numpak saka terminal Purwokerto supaya ngati-ati, gondheli gawanane aja nganti digawa calo. Gimana Pak Polres Kota Satria, Cukup Satria kah memberantas calo

Nurohman
Krandegan, Banjarnegara


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA