logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Sepak Bola Eropa Terus Dirongrong Rasisme

- Sepak bola Spanyol sedang dalam sorotan tajam, menyusul insiden rasis dalam pertandingan persahabatan melawan Inggris di Stadion Santiago Berbaneu, pekan lalu. Pemain Inggris, Ashley Cole dan Shaun Wright-Phillips diteriaki penonton yang menirukan suara monyet setiap kali keduanya menguasai bola. Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi ketika tim yunior Inggris bertanding melawan Spanyol di El Val, sebuah kota kecil di selatan Madrid. Tiga pemain, Carlton Cole, Darrent Bent, dan Glen Johnson dilecehkan dengan "tema" yang sama. Rentetan peristiwa itu menguak keprihatinan yang makin mendalam mengenai rasisme persepakbolaan Eropa. Perlawanan sudah dilakukan secara simultan, namun terbukti fenomena tersebut menjadi penyakit laten.

- Spanyol menjadi sorotan, apalagi sebelum dua peristiwa dalam pertandingan persahabatan tersebut, pelatih nasional tim Matador, Luis Aragones mendapat kecaman internasional, menyusul ucapannya yang sangat rasis. Ketika memotivasi pemainnya, Jose Antonio Reyes yang bermain untuk Arsenal, Aragones membandingkan Reyes dengan pemain asal Prancis Thiery Henry yang disebutnya dengan "that black shit" atau "si hitam jelek itu". Ucapan yang tertangkap wartawan itu terpublikasi secara luas. Kendati Aragones membela diri dengan menyatakan hanya memotivasi tanpa bermaksud menghina, orang tentu memberikan penilaian tersendiri. Menyebut "si hitam" berarti memosisikan "si putih" di satu sisi sementara ada sisi lain yang dianggapnya "berbeda".

- Apa yang terjadi di pentas sepak bola itu, setidak-tidaknya sulit untuk tidak dikaitkan sebagai refleksi dari sikap makro terhadap rasisme. Sepak bola hanya "masyarakat mikro", dan akar sikap itu masih mungkin menjadi persoalan makro masyarakat. Betapa ironis sebenarnya, ketika penyakit yang mempersoalkan perbedaan warna kulit justru muncul di tengah masyarakat berbudaya, yang selama ini menggaungkan penghormatan tinggi terhadap demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). Di liga-liga Eropa, letupan rasisme masih bermunculan. Pemain Inggris, Paul Ince pernah mengaku tidak kerasan tinggal di Italia ketika memperkuat Inter Milan, karena tekanan-tekanan ini. Di internal tim nasional, dia juga pernah menghadapi insiden diperlakukan secara rasis oleh rekannya sendiri.

- Banyak contoh yang memperkuat masih mengendapnya persepsi ini. Di Euro 1996, bek Prancis Marcel Desailly dilecehkan oleh striker Bulgaria Hristo Stoichkov. Pemain Terbaik Eropa dan Dunia 1995 George Weah pernah melawan secara fisik hinaan pemain Benfica, Arthur Jorge yang menirukan gerakan-gerakan monyet di lorong menuju ruang ganti. Suporter Lazio yang ultrakanan juga sering meneriakkan pelecehan terhadap pemain yang dianggap "berbeda". Di tengah industri sepak bola yang makin mengglobal, gejala ini merupakan paradoks. Makin banyak pemain yang berbeda warna kulit bermain untuk klub-klub Inggris, Italia, Jerman, Prancis, atau Spanyol. Pengakuan mengenai kemampuan dan intelektualitas mereka juga makin merata. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

- Ketika Prancis memenangi Piala Dunia 1998 dengan tim yang "multinasional", politikus sayap kanan mencoba mencari-cari perkara dengan mempersoalkan nasionalisme Zinedine Zidane dkk. Sampai pada hal-hal yang rumit, misalnya, "Apakah mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaan Prancis?" Nyatanya, sukses tim Ayam Jantan ditopang oleh sebagian besar pemain keturunan imigran. Masyarakat Barat, yang sejauh ini menjadi ikon demokrasi dan sering mendikte pihak lain dalam urusan HAM, terbukti malah mengha dapi permasalahan serius rasisme di sepak bola. Padahal, idealnya, olahraga yang memuat nilai-nilai kesetaraan antarmanusia, peniadaan sekat sosial-politik-ekonomi, ras, dan golongan menjadi lahan subur bagi apresiasi tentang kesamaan hak.

- Melihat perkembangan ini, FIFA perlu memberi dukungan bagi perjuangan melawan rasisme dengan aturan-aturan, walaupun hal itu boleh diartikan sebagai langkah mundur. Mengapa? Karena seharusnya perbedaan warna kulit sudah terkikis dengan internalisasi persepsi, bukan dengan rambu-rambu. Bukan hanya di sepak bola, tetapi dari persepsi masyarakat umum. Presiden FIFA Sepp Blatter sampai mengizinkan (untuk sementara) suatu tim melakukan walk off (meninggalkan pertandingan) kalau terjadi pelecehan ras. Hal itu memuat pemahaman, rasisme tidak boleh dipandang sepele. Sepak bola memang penting, tetapi martabat manusia tentu lebih penting. Dan bukankah justru lewat olahraga manusia berupaya meningkatkan martabatnya?


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA