| Rabu, 24 Nopember 2004 | SEMARANG |
Soal Sumur, Warga Demo ke Balai DesaMRANGGEN - Ratusan warga Dusun Kayon dan Daleman yang tergabung dalam Forum Masyarakat Bersatu (FMB) Desa Batursari, Mranggen, Demak, kemarin, berunjuk rasa ke Balai Desa Batursari. Ratusan warga yang memenuhi Gedung Serbaguna Desa Batursari itu menuntut agar pembangunan sumur artesis di Dusun Tlogo dihentikan dan dialihkan ke Dusun Daleman atau Dusun Kayon. Selain itu, warga juga mendesak Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Batursari Asyhadi mundur dari jabatannya karena dianggap menyalahgunakan proyek sumur artesis bantuan Pemprov melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben). Warga Dukuh Kayon, Sutiarno, mengemukakan, proyek bantuan sumur artesis itu tidak pernah dibicarakan dengan warga. Semula, sumur itu dikatakan sebagai bantuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jateng. Namun setelah dicek, ternyata proyek itu merupakan bantuan Pemprov Tahun Anggaran 2004. "Informasi nilai proyek juga simpang siur. Saat diklarifikasi, BPD mengatakan Rp 175 juta, lurah desa menyebut Rp 150 juta, kecamatan Rp 180 juta, sedangkan petugas Distamben menyatakan Rp 115 juta," papar Sutiarno. Padahal berdasarkan informasi resmi yang diterima warga dari Distamen Jateng, nilai proyek sumur artetis itu Rp 131 juta. Kekecewaan warga semakin bertambah lantaran sumur artetis tidak dibangun di Dusun Kayon atau Dusun Daleman tetapi di atas tanah milik Asyhadi, Ketua BPD Batursari di Dusun Tlogo. Warga menduga, ada permainan di balik penentuan lokasi. Warga khawatir penempatan sumur artetis memicu konflik antarwarga. Menurut penuturan Sutiarno, selama ini kebutuhan air di Dukuh Tlogo sudah tercukupi oleh dua sumur untuk umum. Sebaliknya pada musim kemarau, warga di Dusun Kayon dan Dusun Daleman harus antre berjam-jam atau membeli air dari tangki. "Padahal di sini ada 50-an perajin tempe yang membutuhkan air bersih dalam jumlah besar," tutur Sutiarno yang juga Ketua LKMD Batursari. Karena itu, warga meminta agar pengeboran sumur artesis yang sudah dilakukan di tanah milik Asyhadi dihentikan. Asyhadi menolak tudingan pihaknya menyalahgunakan proyek Pemprov. Dia mengakui, BPD belum menyosialisasikan dan memusyawarahkan karena belum ada kesempatan. Sebetulnya sosialisasi akan dilakukan setelah Lebaran, namun warga menolak dan memilih berunjuk rasa. Terkait dengan penggunaan tanah miliknya untuk lokasi sumur artesis, Asyhadi mengatakan, berdasarkan hasil survei, sumber air di Dusun Tlogo sangat bagus dan bisa mencapai empat liter per detik. Menurut rencana, sumber air itu akan disalurkan kepada sekitar 1.000 keluarga termasuk warga Dusun Kayon dan Dusun Daleman. Pihaknya mengemukakan hal itu untuk kepentingan warga. Bahkan, dia mengaku tidak mendapat ganti rugi atas tanah yang dipakai sumur artesis. "Saya merelakan tanah 5 x 15 meter untuk sumur artesis sebagai hibah kepada masyarakat," ujarnya. Meski ada di lokasi tanahnya, pengelolaan sumur akan diserahkan kepada warga. (H5-91j) |