logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Memburu Mimpi Jadi Pegawai Negeri (2-Habis)

Mereka Dipaksa Menyerah sebelum Bertanding

TIDAK semua orang ''beruntung'' bisa turut serta dalam perburuan mimpi menjadi pegawai negeri. Banyak sarjana yang hampir atau bahkan sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk bertanding. Setiap kali pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) dibuka, ada saja jurusan yang nihil dari lowongan.

Wawan (25), sebut saja demikian, lulusan Pendidikan Bahasa Asing (PBA) Unnes adalah salah satu contoh. Sarjana dengan bidang keahlian bahasa Prancis itu mewanti-wanti untuk tidak disebutkan nama lengkapnya. Sejak mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1997 silam, sebetulnya dia sudah diperingatkan sanak kerabatnya. Dia dinilai memilih jurusan ''langka'', yang sulit kuliahnya dan sulit pula dalam mencari kerja nantinya. Tapi, dasar sudah kadung cinta, Wawan bergeming.

Benar juga, sejak wisuda 2002, hampir tak pernah ada lowongan pekerjaan yang menghendaki sarjana dari jurusannya. Jangankan untuk menjadi pegawai negeri, menjadi karyawan swasta pun pintu tak terbuka lebar untuknya.

Kesabaran toh akhirnya berbuah. Pada tahun ini, secercah harapan muncul. Ada satu formasi guru bahasa Prancis di Kudus, untuk ditempatkan di madrasah aliyah yang dikelola Depag. Bergegas, Wawan berangkat ke Kota Kretek untuk memburu peluang yang mungkin tak bakal terulang. Dia terpaksa bolos kerja beberapa hari untuk itu.

Pada kedatangan pertama, dia ditolak karena tak mengantongi KTP sesuai dengan tempatnya mendaftar. Hari kedua dia datang lagi untuk protes dengan berbekal koran Suara Merdeka, yang memuat tentang tidak adanya pembatasan terkait dengan domisili. Oleh petugas, dia disarankan untuk kembali pada hari-hari terakhir pendaftaran.

''Sembari itu, saya mengurus KTP Kudus, biar tak datang lagi penolakan. Alhamdulillah, dua hari menjelang pendaftaran tutup, saya bisa mendaftar dengan KTP dan AK-1 Kudus,'' ujar dia, Selasa (23/11).

Rabu (24/11) pagi-pagi, Wawan berangkat ke Kudus dengan bersepeda motor. Dia berharap besar, seleksi CPNS yang baru sekali ini bisa diikutinya, bisa membantunya mewujudkan harapan ibunya: melihat anak laki-lakinya menjadi pegawai negeri!

Ada yang bernasib sewarna dengan Wawan, atau bahkan jauh lebih malang. Munadi (32), lulusan Pendidikan Teknik Bangunan IKIP Veteran Semarang setali tiga uang. Setiap kali ada kabar soal ''pengangkatan'', dia lebih kerap gigit jari. Pasalnya, jarang sekali ada formasi untuk jurusannya. Kalaupun ada, paling-paling hanya pada satu-dua kabupaten. Itu pun dengan jumlah formasi yang amat sedikit.

Lina (27) pun tak jauh beda. Setahun lalu, lulusan Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi (dulu disebut Pendidikan Kesejahteraan Keluarga/PKK -Red) terpaksa memburu hingga ke Karanganyar. Sebab, itulah kabupaten terdekat yang membuka pendaftaran sesuai dengan kompetensinya. Tapi, seperti dia duga sebelumnya, namanya tak tercantum pada pengumuman.

Tak Ada Formasi

Nasib Sahuri (36) jauh lebih malang lagi. Sejak lulus dari Jurusan Pendidikan Dunia Usaha (PDU) sebuah IKIP swasta di Jatim tahun 1993, hampir tak pernah ada formasi untuknya. Terutama setelah jurusannya ''tereliminasi'' oleh perubahan kebijakan pemerintah. Sejak pertengahan 1990-an, jurusan tersebut diubah menjadi Pendidikan Ekonomi. ''Sejak itu, tak ada sama sekali lowongan CPNS untuk PDU,'' ungkapnya.

Berkali-kali ia mengajukan protes, mengirim surat pembaca, atau pengaduan lain. Tapi, seperti berteriak di ruang kaca, tak ada yang mendengar -apalagi menanggapi- protesnya. Perlakuan yang dia terima tak pernah berubah setiap tahunnya. Dia selalu saja menerima penolakan karena dianggap ijazahnya tidak sesuai dengan lowongan yang ditawarkan.

Akhirnya, hingga ''jatah usia'' untuk mendaftar CPNS habis, dia tak bisa menggapai cita-citanya sejak SD itu. Kini, untuk memberi makan istri dan dua anaknya, dia menekuni profesi sebagai guru tidak tetap (GTT) di dua madrasah, tanpa berharap memperoleh surat wiyata bakti untuk mendaftar sebagai pegawai negeri.

Wawan, Munadi, Lina, atau Sahuri cumalah contoh orang-orang yang sebenarnya juga tak pernah lelah memburu mimpi menjadi pegawai negeri. Begitu pula ribuan, bahkan jutaan manusia Indonesia lainnya. Tapi apa daya, mereka acap dipaksa untuk menyerah lebih dini. Bahkan, sebelum sempat mencicipi panasnya medan perang dan kerasnya kompetisi.(Achiar M Permana-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA