logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Sungai, Tempat Sampah atau Tempat Air?

TUMPUKAN sampah di bibir Kali Bringin baru saja disapu begu. Alat berat dengan "lengan panjang" itu sejak tiga minggu lalu mengaduk-aduk tepian Kali Bringin, mengeruk tanah dan sampah di sekitar sungai tanpa ampun.

Sopir begu mengarahkan tangkai ke depan, menyerong, kadang berputar 90 derajat. Bersama tanah sungai, tumpukan sampah terangkat. Dari sela-sela tanah yang melekat, terlihat plastik, kaleng bekas, dan kaca menyembul tak teratur.

Kala musim hujan, timbunan lumpur sedimen di dasar sungai itu membuat Kali Bringin tak mampu menampung air yang mengalir dari hulu. Terlebih timbunan sampah membuat aliran makin tersumbat. Akibatnya, hampir setiap musim hujan, air sungai selebar 9 meter itu meluap dan menggenangi rumah warga.

Namun banjir tahunan tak pernah mampu mengubah kebiasaan warga Kelurahan Mangkang Wetan membuang sampah ke sungai setiap hari, bahkan setiap saat. Begitu pula yang dilakukan seorang warga yang mengaku bernama Sumarni siang itu. Dengan kaus lusuh tanpa alas kaki, Sumarni keluar dari rumah tak jauh dari bibir Kali Bringin. Tangannya menjinjing sekeranjang penuh sampah rumah tangga. Sumarni menumpahkan isi keranjang sampah yang dia bawa, persis di dalam sungai.

''Sulit memang menyadarkan warga agar tidak membuang sampah ke sungai,'' kata Muhamir, salah seorang warga.

Jika di bibir sungai sampah berserakan, di sepanjang jalan setapak perkampungan, air got tampak mampat. Di antara petak-petak rumah yang berdiri berjejal itu air limbah rumah tangga dialirkan ke parit-parit. Air parit itu tampak menggenang, berwarna hitam, dan menebarkan bau tak sedap. Tak hanya itu, sebagian warga juga tidak memiliki fasilitas MCK. ''Di sini masih ada warga yang tidak punya MCK dan membuang kotoran ke Kali,'' ujarnya.

Tanpa Tanah Kosong

Pemuda setempat, Suryanto mengatakan, warga membuang sampah ke sungai karena tidak ada lagi tanah kosong untuk tempat pembuangan sampah. Hampir semua lahan, kata dia, sudah dibangun permukiman warga. Beberapa orang memang masih memiliki sejengkal pekarangan yang dapat difungsikan sebagai luwangan, namun jumlahnya tak banyak.

''Kami pernah mengusulkan kepada Pemkot agar diberi tanah kosong milik pemerintah sebagai tempat pembuangan sementara (TPS). Tetapi Pemkot malah bertanya tanah mana yang dapat digunakan,'' ujarnya.

Keberadaan TPS, baik menurut Muhamir maupun Suryanto sangat penting mengingat sampah yang dihasilkan cukup banyak. Sampah yang dibuang ke sungai tidak hanya menyebabkan banjir, tetapi juga membahayakan petambak.

Bagaimana tidak, saat pasang naik, air sungai yang masuk ke tambak acap bercampur serpihan sampah kaca. Jika masuk ke dasar tambak, pecahan kaca dapat melukai kaki petambak karena mereka bekerja tanpa alas kaki. Meski merugikan diri sendiri, alasan itu pun tak cukup mempan untuk mengubah kebiasaan warga membuang sampah ke sungai.

Dan Pemkot, selain mengimbau warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, tak juga menyediakan fasilitas pengganti seperti TPS. (Ninik D-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA