| Rabu, 24 Nopember 2004 | SEMARANG |
Menghidupkan Tradisi Manten SemaranganDUA puluh empat cunduk mentul di konde mempelai perempuan itu memantul maju-mundur. Sekalipun sisi lain bersesakan sanggul --konde irisan daun pandan dan mahkota laiknya penekan-- gerak bebas kembang emas itu seolah paradoks dengan atribut yang ramai disandang mempelai. Keduanya pun terlihat luwes mengenakan busana adat temanten Semarangan tersebut. Sesekali sejoli Wahyu Septoadi dan Roery Bengkelnawati melempar senyum. Beberapa menit berselang, pasangan manten kaji itu lantas meninggalkan pelaminan. Diiringi 40 pemusik rebana yang bunyi jidur dan suara penyanyinya bersahutan itu, mereka selanjutnya dikirab keliling Jalan Cemara hingga melintasi Swalayan Sarinah di Banyumanik. Ada tiga kereta berkuda untuk mempelai dan pasangan orang tua masing-masing. Di belakangnya, arakan mobil hias yang membawa tiga pasang denok kenang. Dalam adat Solo dan Yogyakarta kerap disebut pager bagus dan pager ayu. Keramaian itu sekilas tampak seperti kirab dugderan atau takbiran lantaran sejumlah tangkai manggar yang diusung. Kontan saja aksi itu menarik perhatian masyakarat sekitar karena orang Semarang memang amat jarang mengenakan adat itu. Tapi jangan buru-buru membayangkan dua sejoli itu sejatinya mempelai yang tengah kasmaran. Dua siswa SMA 9 Semarang itu hanya model untuk memperagakan adat Semarangan yang nyaris punah. Orang tua yang mengiring pun hanya guru-guru mereka. Sementara rombongan yang terlihat dalam prosesi seluruhnya adalah pelajar SMA yang berlokasi di Jalan Cemara, Banyumanik itu. "Adat Semarangan ini sudah mulai langka. Dengan mengenalkan budaya ini ke sekolah, mudah-mudahan mereka kelak tertarik untuk memakai adat ini, paling tidak bisa memengaruhi orang tua mereka," ujar Dra Widhiati Retnaningtyas, guru fisika yang memenangi program CitiSuccess Fund 2004. Program yang mempersyaratkan ide kreatif mengajar di tingkat SMA itu diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak didik dan kecintaan terhadap budaya lokal yang terhambat karena kurangnya dana. Kalau boleh dibilang, prosesi manten kaji ini lebih praktis, berironi dengan atribut yang menjejali busana. Tidak ada kacar-kucur, menginjak telur atau melempar sirih. Khas Semarangan ini lahir sebagai akulturasi Jawa, China, dan Arab. Itu sebabnya, meski sekilas tampak kental nuansa Jawa, sejumlah ornamen merupakan warisan pendatang China dan Arab kala itu. Pengantin perempuannya acap disebut model encik. Busananya kain songket, kebaya beludru hitam bersulam mote dengan perhiasan cincin, kalung krekang, subang, dan kancing emas. Kesan Chinanya lebih terasa pada model kerah shanghai dan kaus kaki yang terpadu dengan alas kaki selop bertutup beludru yang disulam mote. Ada penghias kepala mirip paes atau lukisan hitam di kepala pengantin Solo dan Yogyakarta. Bedanya, penghias yang kerap disebut pilis itu terbuat dari emas dan lapisan permata, dan pilis hitam dari beludru berpayet perak. Sedangkan pengantin prianya disebut model kaji. Itu sebabnya, adat ini acap disebut manten kaji. Busananya terompah kayu atau kulit, celana komprang hitam dari bahan beludru bersulam mote, baju gamis dengan kerah shanghai, selempang warna emas, dan surban yang disebut kopiah alfiah. Sama dengan adat dua keraton tadi, pengantin pria juga menenteng senjata tajam, pedang perak. (Renjani PS, Rukardi-89) |