logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Jejak Kiai Saleh Darat (3-Habis)

Makna Alfatihah, Inspirasi buat Kartini

SUATU ketika Kiai Saleh Darat berkesempatan memberikan ceramah keagamaan di Pendapa Kabupaten Demak. Satu di antara puluhan orang yang bersetia mendengarkan uraian-uraiannya adalah putri Bupati Jepara, RA Kartini.

Saat itu, ulama besar itu membedah Surat Alfatihah dengan menggunakan bahasa Jawa yang sederhana. Di mata Kartini, apa yang disampaikan ulama besar itu sangat berharga. Hingga seusai acara, perempuan yang kelak ditahbiskan sebagai tokoh emansipasi wanita itu merasa perlu menemui Kiai Saleh Darat untuk mengutarakan isi hatinya.

"Saya merasa perlu menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Romo Kiai dan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas keberanian Romo Kiai menerjemahkan surat Alfatihah ke dalam bahasa Jawa, sehingga mudah dipahami dan dihayati oleh masyarakat awam seperti saya. Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu, sebab kata mereka Alquran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab."

Kartini, lebih jauh mengemukakan, selama ini dia merasa tak mampu memahami makna surat Alfatihah. Namun sejak saat itu, dia mengaku mendapat kejelasan tak hanya yang tersurat, melainkan yang tersirat sekalipun.

Pada saat Kartini menikah dengan Bupati Rembang RM Joyodiningrat, Kiai Saleh Darat mendapatkan undangan. Sebagai kado, dia berikan sebuah kitabnya yang telah diterbitkan, yakni Faidh Arrahman. Kitab tersebut merupakan tafsir pertama di nusantara yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab (pegon). Isinya mengupas Surat Alfatihah.

Jalan Kecintaan

Menurut penuturan salah seorang cucu Kiai Saleh Darat, KH Cholil Ali, dari sanalah Kartini menemukan jalan kecintaan terhadap agamanya. Alhasil, dia merasa dekat dengan Tuhan dan menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya setelah bertahun-tahun dia cari dan rindukan.

Dalam sebuah surat yang ditulis kepada sahabat penanya E.C. Abendanon, Kartini mengaku pernah tak mau membaca Alquran lagi karena tidak memahami makna yang terkandung di dalam ayat-ayatnya. Apa artinya membaca jika tak mengetahui arti dan mengambil manfaat yang ada di dalamnya.

Pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agamanya, membawa perubahan pada jiwa Kartini. Dia menjadi lebih sabar menerima kegagalan dan hambatan yang merintangi perjuangannya. Kartini sadar akan adanya takdir Tuhan, di samping usaha manusia, termasuk perihal poligami yang sedari dulu ditentangnya.

Perkawinannya dengan Bupati Rembang Djayadiningrat yang telah memiliki tiga istri dan tujuh orang anak dia terima sebagai ketentuan Tuhan yang berhikmah. Sebab suaminya termasuk orang yang mendukung pemikiran-pemikiran Kartini untuk mencerdaskan kaum perempuan.

Kiai Saleh Darat telah meninggal dunia satu abad lalu. Seiring dengan itu, nama besar dan jasa-jasanya dalam mengembangkan syiar Islam, khususnya di Semarang nyaris terlupakan. Demikian halnya dengan nasib belasan karya tulis dan pondok pesantren yang dulu pernah mencapai titik kejayaan, kini terbengkelai. Para ahli waris, berikhtiar menghidupkan kembali denyut nadi pusat pengembangan Islam di Semarang itu, meski dengan napas satu-dua. (Rukardi-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA