logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Nopember 2004 EKONOMI
Line

IHSG Terus Melambung, Investor Diminta Waspada

JAKARTA-Usai libur Lebaran pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) terus melambung. Bahkan dua hari terakhir memperbaharui rekor. Jika Senin lalu memecahkan rekor di level 939,99, maka kemarin rekor kembali tumbang karena naik lagi 19,028 poin menjadi 959,019.

Fenomena sebaliknya justru terjadi di beberapa bursa regional yang tertekan karena dolar AS melemah. Di BEJ terjadi perburuan saham oleh investor asing, terutama saham unggulan semacam Astra International, Telkom, Gudang Garam, Indosat, dan Bank Danamon. Kemarin tercatat 106 saham harganya naik, 38 saham turun, dan 230 tetap.

Sebagaimana sehari sebelumnya, kemarin perdagangan di pasar reguler berlangsung ramai. Terjadi 24,426 kali transaksi yang melibatkan 4,127,9576 lot saham dengan total nilai transaksi Rp 1,685 triliun. Kondisi itu juga berdampak pada indeks LQ45 yang naik 3,473 poin ke posisi 209,200, Jakarta Islamic Index (JII) naik 2,815 poin di level 159,752, Indeks Papan Utama (MBX) naik 5,339 ke level 255,370, dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) naik 3,251 di posisi 222,750.

Sementara itu nilai rupiah yang Senin lalu ditutup di posisi Rp 8.983/dolar AS kemarin kondisinya tidak lebih baik. Rupiah tertekan hingga di level Rp 9.005/dolar AS. Diperkirakan banyak perusahaan melakukan aksi borong dolar AS untuk kebutuhan akhir tahunnya.

Namun Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom, optimistis tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara. Tidak ada faktor fundamental yang berpengaruh terhadap keanjlokan rupiah di masa-masa mendatang.

''Tidak ada alasan rupiah terus menurun. Saat ini interest differential-nya juga makin tipis,'' tuturnya sembari menyebutkan cadangan devisa masih 35 miliar dolar AS.

Hati-hati

Sehubungan dengan IHSG yang terus melambung, para analis meminta investor waspada dan ekstrahati-hati. Pergerakan indeks saat ini makin spekulatif karena faktor pergerakan bursa regional yang cenderung menurun.

''Sebaiknya investor meningkatkan kewaspadaan. Jangan terus mengikuti gelombang aksi jual. Indeks sudah makin overbought. Sebaiknya melakukan aksi tahan dulu menunggu perkembangan selanjutnya,'' kata Adrian Rusmana, Kepala Riset BNI Sekuritas.

Senior Adviser Watson Wyatt, Angger P Juwono, juga meminta investor berhati-hati menghadapi pergerakan indeks, terutama investor ritel. Mereka disarankan melakukan aksi tahan dan tidak mengambil risiko dengan melakukan transaksi baru.

''Jangan beli dulu. Lebih baik tahan. Jangan mengambil ririko dengan menaruh portofolio,'' tegasnya.

Angger mengatakan pergerakan indeks pada penutupan Senin lalu yang mencapai 939,99 disebabkan oleh kenaikan beberapa saham, yakni Telkom dan perbankan.

Pergerakan indeks yang normal, kata dia, setelah naik akan ada konsolidasi. Harus ada konsolidasi untuk menjaga tren naik sehingga polanya tetap naik.

Pergerakan indeks makin tinggi karena beberapa investor telah mengoleksi saham saat indeks berada di level 800, sehingga momen peningkatan indeks yang tinggi dijadikan sebagai ajang aksi ambil untung atau profit taking.

Investor Asing

Pasar modal Indonesia dewasa ini lebih banyak digerakkan oleh investor asing yang sifatnya jangka pendek. Kondisi tersebut dianggap kurang sehat karena idealnya digerakkan oleh investor domestik sehingga lebih sustained (berkesinambungan).

Penilaian itu dikemukakan oleh Deputi Gubernur Indonesia Aslim Adjudin, kemarin. Ia memperkirakan jumlah investor asing di pasar saham lebih besar daripada surat utang negara (SUN) atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

''Total investasi asing dalam SUN hingga saat ini mencapai Rp 7 triliun, SBI Rp 6,9 trliun, dan di pasar saham jauh lebih besar,'' ujarnya.

Investor asing di pasar modal dan uang bersifat jangka pendek sehingga sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan ekspektasi dan sentimen. Investor jangka pendek dapat secara mudah keluar jika iklim investasi tidak sesuai dengan ekspektasi serta muncul sentimen negatif.

''Keadaan itulah yang nanti akan berdampak terhadap kestabilan nilai tukar,'' jelasnya.

Rupiah, lanjut dia, pernah goncang akibat investasi keluar negeri Juni lalu. Waktu itu dolar AS menguat karena bank sentral mengubah kebijakan. Investor memperhitungkan aset yang berdenominasi dolar AS akan memberikan yield atau hasil tinggi sehingga investasi dalam mata uang di luar dolar AS ditukar semua.

''Itulah yang terjadi sehingga kurs pada waktu itu mencapai Rp 9.400/dolar AS. Capital inflow yang bersifat jangka pendek itu tidak kita inginkan,'' tandasnya.

Fluktuasi rupiah, kata dia, tidak akan terlalu besar kalau ditopang oleh ekspor yang tumbuh dari investasi. Tingkat ekspor Indonesia menunjukkan angka bagus meskipun masih kalah jika dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, atau bahkan India.

Sementara itu Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) Erry Firmansyah mengatakan saat ini perdagangan saham di bursa memang masih digerakkan oleh investor asing. Kapitalisasi investor asing 55%-60% dari kapitalisasi pasar saham senilai Rp 640 triliun.

Pihaknya tidak bisa melarang investor masuk menanamkan modalnya di bursa. Selain itu, mereka turut membantu menggerakkan pasar modal di Indonesia.

''Persoalannya bukan membatasi investor asing masuk karena itu namanya mundur. Tetapi bagaimana sosialisasi dan kesadaran investor lokal untuk menanamkan modalnya,'' tandasnya. (wa,bn,rei-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA