| Rabu, 24 Nopember 2004 | EKONOMI |
Defisit APBN Bisa di Bawah TargetJAKARTA-Dirjen Perbendaharaan Departemen Keuangan Mulia Nasution memperkirakan defisit APBN Perubahan 2004 masih bisa di bawah target meskipun pengeluaran untuk subsidi BBM membengkak. "Defisit sampai akhir 2004 akan diusahakan di bawah target sebesar Rp 26,27 triliun atau 1,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB)," tuturnya, kemarin. Menurut dia, hingga 15 November realisasi defisit APBN Perubahan 2004 sudah mencapai Rp 25,7 triliun meskipun dua minggu sebelumnya melonjak di atas 100%. Untuk menutupi pembengkakan pengeluaran subsidi BBM, lanjut dia, pemerintah terus berusaha mengoptimalkan penerimaan yang sudah ditargetkan, misalnya di sektor pajak dan cukai. Selain itu, pihaknya melihat penerimaan dari privatisasi masih bisa diharapkan serta ada pemasukan dari pengembalian Rekening Dana Investasi (RDI). "Kita harapkan dalam sisa akhir tahun yang tinggal satu bulan ini pendapatan terus naik meskipun belanja juga naik. Tetapi dana penerimaan diharapkan lebih besar dari belanja," ujarnya. Mulia menyatakan masih optimistis beberapa sumber penerimaan yang sudah ditargetkan akan masuk sesuai dengan rencana. Pengeluaran belanja, kata dia, sudah mulai dikurangi serta dipilih proyek-proyek yang memiliki prioritas paling tinggi. Proyek yang lebih mengutamakan kegiatan fisik akan ditunda untuk tahun anggaran berikutnya. "Kita tidak membatalkan proyek-proyek yang sudah ada, hanya lebih selektif melihat proyek-proyek yang akan dilaksanakan. Apalagi waktunya tinggal satu bulan lagi," ujarnya. Sepuluh BUMN Sementara itu Menteri Negara BUMN Sugiharto menyebutkan sekitar 84,40% atau Rp 5,13 triliun dari total rugi BUMN senilai Rp 6,08 triliun pada tahun 2003 diakibatkan oleh kelemahan kinerja sepuluh BUMN. "Dari 157 BUMN yang rugi 47 dengan total rugi Rp 6,08 triliun," jelasnya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, kemarin. Jumlah 157 BUMN itu meliputi persero (penyertaan modal negara/pemerintah lebih dari 51%), perusahaan umum (perum), dan perusahaan jawatan (perjan). Berdasar kinerja tahun 2003, menurut dia, 10 BUMN pencatat rugi terbesar adalah PT PLN, Perusahaan Perdagangan Indonesia, Pelni, PAAN Multi Finance, Indofarma Tbk, Industri Sandang Nusantara, Kertas Kraft Aceh, PTPN II, Inhutani I, dan RS Cipto Mangunkusumo. PLN mencatat kerugian sebesar Rp 3,56 triliun, Perusahaan Perdagangan Indonesia Rp 418,22 miliar, Pelni Rp 382,45 miliar, PAAN Multi Finance Rp 152,26 miliar, Industri Sandang Nusantara Rp 114,77 miliar, Kertas Kraft Aceh Rp 108,44 miliar, PTPN II Rp 96,17 miliar, Inhutani I Rp 90,97 miliar, dan RS Cipto Mangunkusumo Rp 81,22 miliar. Sugiharto juga mengungkapkan 69% atau Rp 17,7 triliun dari total laba BUMN sebesar Rp 25,6 triliun dihasilkan oleh 10 BUMN. (ant-53) |