logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Nopember 2004 SALA
Line

SD Urut Sewu Memprihatinkan

  • Para Siswa Takut Roboh

BOYOLALI - Siswa-siswi kelas IV, V dan VI SD Negeri Urut Sewu I, Desa Urut Sewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, terpaksa keluar ruangan bila hujan lebat. Mereka khawatir, ruangan kelas roboh karena kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Pada bagian dinding terlihat retak, dan usuk atap keropos.

''Agar terhindar dari musibah, anak-anak terpaksa saya izinkan keluar ruangan sambil menunggu hujan reda,'' kata Kepala SD Negeri I, Sriyati, kemarin.

Kalapun harus bertahan di ruang kelas, siswa terpaksa mendapat pelajaran tertulis. Hal tersebut disebabkan karena atap ruangan menggunakan seng, sehingga bila hujan lebat menimbulkan suara gaduh.

Untuk menerangkan secara lisan atau tanya jawab dengan siswa, tidak terdengar. ''Guru terpaksa harus mendekati siswa,'' katanya.

Dia mengatakan, untuk mendekati siswa satu per satu rasanya tidak mungkin dan kurang efektif. Karena itu, diberikan pelajaran tertulis sehingga siswa bisa membaca dan mengetahui maksudnya. Namun kondisi seperti itu mengganggu proses belajar mengajar.

''Karena itu, kami minta perhatian kepada dinas terkait agar memperhatikan bangunan ruangan kelas yang benar-benar sangat memprihatinkan itu. Apalagi saat ini sudah memasuki musim hujan,'' katanya.

Empat Kali

Di SD Negeri Urut Sewu I ada 123 siswa. Untuk kelas IV 20 siswa, kelas V 31 siswa, dan kelas VI 21 siswa.

Kondisi tiga ruangan tersebut sangat memprihatinkan. Dinding retak, dan usuknya sudah rapuh. Selain itu, blandar dan tiang penyangga terlihat keropos. Jika tidak ada perbaikan, membahayakan siswa, terutama pada musim hujan.

Sriyati mengatakan, upaya permohonan bantuan sudah disampaikan sejak 2001 atau sebanyak empat kali; tetapi hingga sekarang belum ada perbaikan. Permohonan bantuan disampaikan kepada Bupati melalui dinas terkait. Untuk perbaikan ruangan kelas, kantor guru, gudang, dan lainnya diperlukan anggaran Rp 200 juta.

Menurut dia, kantor guru dan ruang penjaga Jumat (19/11) sekitar pukul 16.30 nyaris roboh tertimpa pohon kelapa. Dengan demikian, pihaknya harus memperbaiki. Padahal, tidak ada anggaran untuk perbaikan kantor guru. Karena itu, pihaknya minta kepada dinas terkait untuk mengecek kondisi bangunan atau ruangan kelas tersebut.

''Yang saya khawatirkan, bila hujan lebat disertai angin. Bila turun hujan lebat, mengganggu kegiatan belajar siswa,'' tandasnya. (shj-20a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA