| Senin, 22 Nopember 2004 | SALA |
Sinuhun Paku Buwono XIII Terima Ucapan Selamat sambil BerdiriKERATON SURAKARTA- Tidak seperti yang selalu tampak, paling sedikit pada lima tahun terakhir berlangsung tradisi ngabekten sebelum Sinuhun Paku Buwono XII wafat, raja baru Sinuhun Paku Buwono XIII kemarin memperlihatkan suasana lain dalam menggelar tradisi syawalan atau halalbihalal. Yang terjadi di gedhong Sasana Handrawina siang kemarin, dia menerima ucapan sungkem itu dengan tidak dicium kakinya, melainkan dengan berdiri dia menyambut uluran tangan orang yang bersalaman memberikan ucapan selamat. Format sambutan seperti itu diberikan kepada kurang lebih 500 warga Baluwarti yang ikut hadir untuk menyampaikan ucapan selamat Lebaran dan bermaaf-maafan. Tetapi terhadap para kerabat, sentana, dan abdi dalem, ungkapan sikap hormat, sembah, dan sungkem itu juga hanya dilakukan dengan berjabat tangan, meskipun dalam posisi sama-sama duduk. Tata cara menyampaikan sikap hormat dalam rangka halalbihalal yang diselenggarakan kali pertama oleh KGPH Hangabehi pada takhtanya sebagai raja baru siang itu, suasananya jauh berbeda dari tradisi yang selalu diadakan almarhum ayahandanya SISKS Paku Buwono XII. Sebab Sinuhun yang baru itu tidak menjulurkan kaki untuk dicium, tetapi duduk di kursi dan menerima sembah serta uluran tangan untuk bersalaman. Tanpa Pijakan "Tradisi syawalan di Keraton sebenarnya tidak pernah ada pijakannya (aturannya). Apalagi terhadap masyarakat umum dan lazim disebut open house itu. Saat almarhum Sinuhun Paku Buwono XII itu pun, diadakan karena desakan kerabat. Tata caranya, ya kemudian mengikuti yang biasa dilakukan keluarga. Selain sembah, lalu cium kaki sebagai simbol penghormatan terhadap sebutan sahandap sempeyan dalem," sebut Pengageng Sasana Wilapa, Dra GRAy Koes Moertiyah menjawab pertanyaan Suara Merdeka, kemarin. Dia menegaskan, tradisi ngabekten di bulan Syawal di lingkungan Keraton mulanya hanya dikenal dan dilakukan di internal keluarga, atau bagi Sinuhun terhadap istri, anak, cucu, menantu, dan famili lain. Tempatnya pun menggunakan ruang yang lebih tinggi privasinya, yaitu di rumah dinas Sinuhun atau sejenisnya. Tetapi kemudian, di zaman Sinuhun Paku Buwono XII tradisi seperti itu ditarik keluar, karena konon katanya juga diminati kalangan kerabat yang ingin mengucapkan selamat Idul Fitri. Akhirnya, pelaksanaan terpaksa menggunakan tempat yang lebih luas, misalnya Pendapa Sasana Mulya dan gedhong Sasana Handrawina. "Tetapi, tata cara ngabektennya tidak selalu sama. Pernah di Sasana Mulya misalnya, antara Sinuhun dan para kerabat, sentana, dan abdi dalem sama-sama berdiri. Tetapi ketika di Handrawina, semua harus ikut-ikut laku dhodhok, menyembah dan cium kaki. Padahal, itu sebenarnya hanya untuk internal keluarga dan para punggawa atau abdi dalem yang berdinas di Keraton," jelasnya lagi, yang dibenarkan suaminya, KP Edy Wirabhumi. (won-17s) |