| Senin, 22 Nopember 2004 | SALA |
"Sungkem Sudah, Makanan Khas Sudah, Ya Baliklah...!"USAI sudah perhelatan akbar setahun sekali, yakni mudik lebaran. Ratusan kendaraan pribadi bernomor polisi luar kota dengan tumpukan bagasi di atas kap kendaraan, serta bus-bus umum, sejak Jumat lalu ramai "turun ke jalan" untuk kembali membawa pemudik ke tempat domisilinya. "Sungkem orang tua sudah, mencicipi masakan khas Solo sudah, ya sekarang acaranya balik ke tempat tugas," kata Hary, sembari bersiap-siap duduk di balik kemudi mobil Kijangnya, untuk melakukan perjalanan panjang lebih dari 15 jam ke Bekasi. Hal yang sama dikemukakan Enggar, yang malahan akan melakukan perjalanan lebih panjang, sampai ke Lampung. Selama sepuluh hari berada di kampung kelahiran istrinya, di Sragen, dia juga merasakan nikmatnya bermudik ria bersama istri dan tiga anaknya. Bahkan, Suharno rela berkendara roda dua bersama istri dan seorang anaknya dari Jakarta ke Sukoharjo, karena merasa lebih nyaman menggunakan kendaraan tersebut. Selain lebih santai, biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dengan naik bus yang tarifnya gila-gilaan. "Pokoknya plong rasanya, kalau sudah selesai mudik. Tuntas sudah, bisa berkangen-kangenan dengan saudara dan kerabat lainnya. Walau sebenarnya mereka juga biasa berlibur ke Lampung, tetapi bertemu saat Lebaran begini, ada kenikmatan tersendiri," kata Enggar sambil tertawa. Memang itulah, inti mudik yang dilakukannya secara rutin setiap tahun. Sungkem kepada orang tua, keliling kota ngiderke weteng mencicipi makanan khas, berpiknik bersama, dan pulang lagi untuk bekerja. Ritual sekali setahun yang tidak pernah bosan dilakukan, meski rasa capek, dana besar, itu mesti harus dijalani. Hary mengaku harus mengeluarkan sedikitnya Rp 5 juta untuk acara mudik ke Solo. Enggar malah lebih besar lagi, karena biasanya dia tidak langsung sekali jalan menuju ke Sragen. Jika capek, dia beristirahat di hotel. Tentu itu menambah anggaran lagi. "Tapi itu tidak masalah, karena eratnya persaudaraan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Kangen-kangenan dengan kerabat itu tidak bisa dinilai dengan duit. Jadi biar saja, untuk sementara tabungan harus terkuras, yang penting cuti massal setahun sekali dan hepi-hepi," katanya, ngakak. Dimarahi Bos Memang, uang cukup besar harus disediakan. Tidak saja untuk biaya perjalanan, namun juga thethek bengek yang harus dibawa, mulai oleh-oleh makanan khas di tempatnya berdomisili, buah tangan untuk saudara, sampai bagi-bagi uang untuk keponakan kecil-kecil. "Ya itu risiko yang harus ditanggung, dan sejak awal kami sadari. Tetapi saya kira, Tuhan tidak akan tinggal diam. Toh selama ini rezeki mengalir lancar. Jadi apa salahnya, kalau sekarang ini bagi-bagi rezeki; toh nanti akan diganti dengan yang lebih besar dari Tuhan," kata Hary, yang sudah delapan tahun tak pernah absen mudik itu. Harno bahkan rela tabungan setahun yang dikumpulkannya dengan menyisihkan gajinya sebagai karyawan pabrik garmen di Bekasi habis hanya untuk berlebaran. "Tak masalah, sungkem orang tua, kumpul saudara jauh lebih penting. Saya kira uang bisa dicari lagi, toh anak saya masih kecil." Dia bercerita, pernah sekali tidak mudik karena anaknya akan lahir. Namun sat Lebaran tiba, yang dia rasakan adalah keriduan luar biasa terhadap suasana di kampung. "Saya menangis usai shalat Idul Fitri. Di kompleks perumahan saya, tinggal lima keluarga yang tidak mudik. Habis sudah seisi kampung, sepi banget." Sejak saat itu, dia kapok tidak mudik. Apa pun yang terjadi, dia harus mudik ke Solo. Untuk itu, dia pun rela dimarahi bosnya di kantor karena bisa dipastikan membolos hampir seminggu. "Dulu pemerintah belum meliburkan secara massal seperti sekarang; jadi ya mbolos massal. kalau sekarang enak, nggak perlu membolos," jelas Indra. Yang jelas, kembali ke kota tempatnya bekerja, tentu juga harus disertai dengan bawaan besar lagi. Karena itu, tidak aneh kalau bungkusan besar bertengger di atas kap mobilnya. Isinya, oleh-oleh khas Solo. "Teman-teman kantor sudah ngantre minta dibelikan ini dan itu, yang khas Solo. Nanti di kantor, biasanya juga tukar-tukaran oleh-oleh. Yah begitulah, kami saling berbagi cerita soal kemacetan di jalan, soal piknik, dan segala macam. Pokoknya seru," katanya, bahagia. Begitulah, mudik tetap menjadi acara ritual yang ngangeni; dan meski berbiaya besar, tetap saja ritual itu dilakukan. Juga walau cerita kemacetan perjalanan pun tak pernah berubah, tetap saja menjadi kenangan yang selalu ingin diulang. Selamat kembali ke kota, semoga selamat sampai tujuan. (Joko Dwi Hastanto-17a) |