logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Nopember 2004 PANTURA
Line

Jumat Kliwonan

Oleh: Eddy Harsono Purbawasesa

JUMAT Kliwonan, bagi penganut tradisi Jawa dikenal sebagai hari yang dikeramatkan, sakral, dan kaya nuansa ritual. Tapi Jumat Kliwon yang dalam penanggalan nasional jatuh pada Kamis sore, di Alun-alun Batang justru disulap menjadi pasar tiban alias "supermarket rakyat" yang meriahnya melebihi pasar malam.

Jumat Kliwonan yang digelar 35 hari sekali itu memang sudah mendarah daging bagi warga Batang. Maka yang merakyat dengan istilah kliwonan itulah, yang menjadi agenda wajib yang harus dikunjungi.

Entah sejak kapan agenda itu digelar, dan apa daya tariknya hingga masyarakat begitu fanatik dan rela berdesak-desakan, tumplek-blek di Alun-alun Batang.

Yang jelas, kliwonan kini menjadi sarana hiburan yang merakyat. Apalagi setelah menjadi hari libur resmi bagi kaum pekerja swasta di Kota Batang dan Pekalongan. Selain itu, para buruh mingguan juga rata-rata menerima gaji pada Kamis sore alias malam Jumat Kliwon.

Beratus-ratus pedagang pun mengais rezeki di hari itu. Uniknya, mayoritas pedagang justru berasal dari luar Batang, seperti Bandung, Cirebon, Tegal, Pemalang, Kudus, dan Salatiga.

Bahkan, ada yang mengaku berasal dari Lamongan dan Bojonegoro, Jawa Timur, yang sengaja untuk berdagang di lokasi kliwonan. Terlebih kliwonan dipercaya sebagai mitos untuk penglarisan. Apabila pernah berjualan di kliwonan, insya Allah dagangannya akan semakin laris setelah kembali ke tempat asalnya.

Tak Bisa Dingganggu-gugat

Maka tak heran, Alun-alun Batang yang luasnya hampir dua hektare tersebut dikavling resmi oleh para pedagang, dan tempat berdagangnya sepertinya tak bisa diganggu-gugat oleh pedagang lain, karena sudah mempunyai izin khusus dari Pemkab. Dan tentu saja, itu menghasilkan retribusi yang tak sedikit bagi Pemkab.

Lalu bagi pengunjung? Kliwonan memang identik dengan pasar murah, terutama untuk sandang dan alat rumah tangga. Semua ada di Jumat Kliwonan. Yang cukup populer, harga jaket yang sangat murah dibanding harga pasaran. Yang jelas, sekalipun pasar murah, tetap dibutuhkan seni tersendiri untuk menawar.

Kini, untuk nguri-uri, bersamaan dengan ingar-bingar kliwonan, juga digelar pentas seni tradisional khas Batang di depan Kantor Bupati, yang diisi secara bergiliran oleh 12 grup kesenian dari 12 kecamatan, seperti kesenian lengger, kuda lumping, campursari, rebana, dan kasidah.

Sayangnya acara itu belum dikelola secara profesional, dan terkesan semrawut. Perlu penataan khusus, seperti parkir dan pedagang yang meluber ke jalan, yang kadang amat mengganggu pengunjung. Begitu pula untuk suvenir, belum ada yang khas Batang.

Namun bagaimana pun, Jumat Kliwonan itu layak dikembangkan menjadi aset wisata, sekaligus aset budaya dan aset ekonomi, karena bisa menjadi barometer kemakmuran rakyat Batang.(42a)

Penulis adalah dari Sanggar Seni Beras Merah, dan guru SD Kreyo Wonotunggal Batang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA