logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Nopember 2004 PANTURA
Line

Meski Tak Dapat Bicara Normal, Ibnu Mampu Buka Bengkel

MESKI tidak bisa bicara secara normal, Ibnu Waladun (42) mampu membuka bengkel sepeda motor. Lelaki warga Kelurahan Medono, Jalan Yuda Bakti, Gang III nomor 181 A Kota Pekalongan itu membuka usahanya di depan rumah. Meski demikian, pelanggannya berdatangan dari berbagai daerah.

"Tidak jarang, saking banyaknya motor yang harus dikerjakan, Ibnu menolak pelanggan karena tidak mau menunggu antrean," kata Salim Idrus, adik kandung Ibnu, kemarin.

Dalam komunikasi, Ibnu tidak bisa bicara langsung dengan orang yang diajak bicara. Namun, lelaki itu bisa menerima dan memahami ungkapan pelanggannya. Bahkan ketika Suara Merdeka mewawancarainya, lelaki berputra dua itu memahami pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Namun, dia sulit mengungkapkan. Karena itu, dalam wawancara Ibnu harus dibantu oleh Salim Idrus.

Mungkin semua orang akan bertanya-tanya. Mengapa lelaki yang tidak bisa bicara normal itu ternyata mampu mendirikan bengkel motor. Padahal, pemilik bengkel "Ibnu Motor" tersebut hanya sekolah di SD sampai kelas II.

Salim menjelaskan, kakaknya mendirikan bengkel setelah ikut bengkel motor di Jalan Jenderal Sudirman, Pekalongan. Pemilik bengkel yang diikuti itu namanya Gico, warga keturunan Tionghoa.

"Kakak saya saat itu baru kelas II di SD Medono. Saat itu, dia termasuk rajin sehingga setiap hari diajak membantu di bengkel milik Gico. Pada awal bekerja, Ibnu diminta mengerjakan bodi motor, yakni mengecat dan mengenteng bodi motor yang ringsek akibat tabrakan dan lainnya. Namun perkembangan berikutnya, dia diajak memperbaiki mesin. Sejak itu, Ibnu bisa membengkel," kata Salim.

Dia membantu di bengkel Gico 13 tahun. Berkat kenalannya, anak nomor tiga dari pasangan Nahlin dan Mar'ah itu diajak untuk membantu bengkel di Bandung. Di sana, dia hidup dengan istri dan anaknya. Namun pada tahun 2000, dia tidak betah karena kangen dengan keluarganya di Pekalongan. Karena itu, dia bersama anak dan istrinya kembali ke Pekalongan.

Bagaimana hasil membuka bengkel di depan rumah yang hanya berupa gang kecil itu? Menurut pengakuan Ibnu cukup lumayan. Awalnya memang agak sepi karena orang belum mengenal hasil kerja lelaki tersebut. Namun begitu orang memasukkan kendaraan ke bengkel Ibnu Motor, biasanya tak mau pindah ke langganan lainnya.

Karena itu, dari hari ke hari pelanggannya makin meningkat. Pada hari-hari biasa, rata-rata yang diservis 5-10 motor. "Namun menjelang Lebaran jumlahnya meningkat," kata Salim.

Sayang, pekerjaan itu hanya dikerjakan Ibnu seorang diri sehingga pelanggan harus antre. Kadang-kadang ada yang tak mau menunggu berlama-lama. (Trias Purwadi-90n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA