logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Nopember 2004 PANTURA
Line

Penumpang Pilih di Terminal Bayangan

SLAWI -Puluhan ribu warga Kabupaten Tegal yang kembali berangkat ke Jakarta, kemarin, banyak menyerbu sejumlah terminal bayangan (terminal bus tidak resmi-Red) yang berada di enam lokasi. Di terminal-terminal itu, mereka berebut naik bus, meski tiket yang dipatok cukup tinggi dan bervariasi.

Bahkan, kemarin yang merupakan hari libur terakhir setelah Lebaran, penumpang yang umumnya pekerja warteg, buruh bangunan, dan pedagang, seperti sudah tidak memedulikan lagi tarif yang tidak wajar. Akibatnya, lonjakan penumpang mencapai puncaknya dibandingkan dengan tiga hari terakhir.

Yang paling menarik, serbuan penumpang arus balik ke Jakarta justru terjadi mulai pukul 17.00 hingga pukul 20.45. Setelah jam itu, sejumlah terminal bayangan lengang kembali.

Mereka mengincar jam-jam pemberangkatan bus pada malam hari, dengan harapan sampai di Ibu Kota pada pagi harinya. Kondisi itu untuk mengantisipasi kemungkinan kerawanan di kota besar, yang sering terjadi tindak kriminal pada malam hari.

"Kalau di daerah sendiri malam hari, kami tahu situasinya. Orang-orangnya juga kenal. Nah, kami berangkat malam, sampai di Jakarta paling pukul 05.00. Kalau ada macet, ya paling lama sampai tempat tujuan siang hari. Itu tidak masalah, daripada sampai Jakarta malam hari; rawan," tutur Zaki (27) dan Azis (25), warga Lebaksiu yang kemarin malam naik bus PO Dewi Sri di terminal bayangan pertigaan Yomani, Lebaksiu. Dia di Jakarta berjualan martabak telur di daerah Mampang.

Di tempat itu dan lokasi terminal bayangan lainnya, bus-bus jurusan Ibu Kota, seperti PO Sinar Jaya dan PO Dedy Jaya banyak ngetem untuk memberangkatkan panumpang arus balik. Bus-bus tersebut juga banyak yang mengais penumpang di Terminal Induk Slawi.

Enam Lokasi

Sejauh pemantauan Suara Merdeka, enam lokasi terminal bayangan yang banyak diburu penumpang arus balik adalah SIMP 3 Yomani (Lebaksiu), Banjaranyar, Balapulang, SIMP 4 Balamoa (Pangkah), Adiwerna, dan Gumayun (Dukuhwaru).

Di enam lokasi itu, menurut informasi dari Kantor Perhubungan (Kanhub) Kabupaten Tegal, tersedia lebih dari 87 bus besar jurusan Jakarta.

Bus sebanyak itu, memang kurang mencukupi untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang mencapai ribuan orang.

Untuk mengantisipasi hal itu, banyak penumpang yang tidak terangkut mengincar bus kecil atau bus jurusan Purwokerto-Jakarta yang masuk jalur tengah di Kabupaten Tegal. Selebihnya, mereka lari ke Terminal Induk Slawi dan Terminal Induk Kota Tegal yang berjarak sekitar 20 km.

Soal keberadaan terminal bayangan itu, menurut Kepala Kanhub Drs Haron Bagas Prakosa, memang sering muncul dan mencolok pada saat terjadi lonjakan arus balik. Pihaknya antara lain hanya berkoordinasi dengan kepolisian, untuk melakukan pengamanan jalur dan penumpang.

Sementara itu, lonjakan penumpang di Terminal Induk Slawi justru terjadi pada siang hari. Di sisi lain, penumpang jurusan Tegal-Purwokerto juga mengalami lonjakan yang lumayan besar. Mereka selain berjubel naik bus kelas ekonomi PO Kurnia, PO Hikmat, dan PO Sangkuriang, juga mengincar bus patas seperti PO Citra Adi Lancar. (D12-74a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA