logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 22 Nopember 2004 PANTURA
Line

Lopis Raksasa Pecahkan Rekor Muri

  • Berat 396 Kg, Sebelumnya 225 Kg

PEKALONGAN- Lopis raksasa di Krapyak Kidul Kota Pekalongan, tahun ini memecahkan rekor yang pernah dicatat Muri tahun 2002. "Kini lopis raksasa yang dipotong 396 kg. Ini beratnya memecahkan rekor yang dicatat Muri," kata Zaenuri Ismail, sesepuh Musala Darun Na'im Kelurahan Krapyak Kidul dalam sambutannya pada acara pemotongan Lopis Raksasa Minggu (21/11) kemarin.

Lopis itu dipotong Wali Kota Samsudiat dan dilanjutkan Kapolwil Pekalongan Kombes Wahju Daeny, Ketua DPRD Salahudin dan Muspida. Setelah dipotong, Wali Kota menyerahkan kepada ketua panitia, Syaiful Rizal dan selanjutnya dibagikan kepada pengunjung.

Acara lopisan itu dihadiri ribuan warga, sehingga Jalan Jlamprang ditutup untuk kendaraan. Bahkan rombongan Wali Kota pun kembali melalui jalan Slamaran-Degayu, mengingat Jalan Jlamprang penuh sesak pengunjung yang akan menuju lokasi pemotongan lopis.

Lopis raksasa yang dipotong itu seberat 396 kg dengan tinggi 160 cm dan garis tengah lingkaran 192 cm.

Padahal, dalam tahun 2002 hanya 225 kg dan tercatat dalam MURI, sedangkan tahun lalu seberat 262 kg.

"Besarnya lopis kali ini merupakan penghormatan bagi Wali Kota Drs H Samsudiat MM yang akan mengakhiri masa kerja awal tahun 2005," kata Zenuri yang mendapat tepuk tangan para pengunjung.

Lopisan itu dilakukan, kata Zaenuri, setelah masyarakat Krapyak Kidul berpuasa enam hari setelah Lebaran. Setelah itu, masyarakat merayakan dengan lopisan. "Karena itu, jangan heran jika pada tanggal 2-7 Syawal masyarakat Krapyak Kidul belum menerima tamu Lebaran.

"Baru 8 Syawal ini, warga kembali menerima kunjungan dari masyarakat. Ini dilakukan karena sesuai dengan Hadis Nabi, bahwa puasa enam hari setelah Lebaran mendapatkan pahala sama dengan pausa wajib setahun," katanya.

Namun dalam kaitan lopisan itu, dia mengigatkan jangan merusak akidah dengan mempercayai daun pisang yang sudah tidak berguna disimpan dan diyakini dapat mempercepat kawin. Itu merusak akidah," tegasnya.

Samsudiat mengatakan, dengan lopis terbesar selama ini, menunjukkan semangat masyarakat dalam melestarikan tradisi lopisan begitu besar.

Tradisi itu, kata Wali Kota dinilai cukup baik. Masyarakat luar menilai perilaku masyarakat yang menyelenggarakan lopisan dan menyediakan makan gratis tanpa memandang pengunjungnya, menunjukkan keterbukaan masyarakat Krapyak. Itu artinya mengembangkan persatuan di antara masyarakat.

Tradisi menyediakan makanan gratis itu, kata dia, hanya diketahuinya di Pekalongan. Bukan hanya dilakukan saat lopisan, melainkan masyarakat Pekalongan kini juga mengembangkan makanan gratis itu pada agustusan. Tamu yang datang dijamu makanan secara gratis, meski tidak dikenalnya.

Setelah memotong lopis di Krapyak Kidul, Wali Kota dan rombongan menuju ke Krapyak Lor untuk melakukan kegiatan yang sama. Hanya, lopis di Krapyak Lor beratnya 260 kg dengan tinggi 120 cm dan garis tengah 50 cm.

Lopis itu selanjutnya dibagikan kepada pengunjung yang menginginkan. Karena banyak yang ingin mendapatkan lopis maka terjadi rebutan. Hanya dalam waktu satu jam, lopis sudah habis.

Yang menjadi rebutan ternyata bukan hanya lopis, melainkan bekas daun pisang yang digunakan membungkus lopis pun juga menjadi rebutan ibu-ibu, khususnya yang dekat dengan panggung.

Berkait dengan terselenggaranya lopisan setiap tahun, maka Pemkot memberikan piagam penghargaan kepada remaja masjid Darun Ma'im Syaiful Rizal dan Remaja Krapyak Lor, Akuwan yang dinilai telah melestarikan tradisi budaya tersebut. Penyerahan penghargaan itu dilakukan Wali Kota Drs Samsudiat MM.

Mengenai sejarah tradisi tersebut, dimulai sejak tahun 1855 M yang dilakukan KH Abdullah Siroj, keturunan Kiai Bahurekso (seorang tumenggung yang ditunjuk Sultan Agung).

Abdullah Siroj ketika di Pekalongan mendirikan organisasi untuk menggembleng pemuda dan remaja, baik mental maupun fisik guna melawan penjajah Belanda waktu itu. Organisanya bernama Waroqotul Islam.

Sayangnya kegiatan itu tercium Belanda, sehingga memerintahkan menangkap dalam keadaan hidup atau mati. Itulah sebabnya, oleh santrinya beliau diamankan di Magelang hingga meninggal dan dimakamkan di sana.(A15-34s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA