| Senin, 22 Nopember 2004 | PANTURA |
Listrik Daerah Punggung Harus Ditangani TerpaduPELAYANAN kepada masyarakat mengenai penerangan listrik di Kabupaten Pemalang, kini terus ditingkatkan. Di antaranya dengan menambah beberapa jaringan baru ke sejumlah desa pelosok sehingga masyarakat pedesaan dapat ikut menikmati penerangan listrik. Namun, kini timbul kendala yang cukup berat. Yakni, bentangan jaringan dari gardu induk ke daerah pelosok terhalang oleh wilayah hutan. Kendati kini jaringan tersebut sudah terpasang dan jumlah pelanggan semakin bertambah, jaringan sering terputus. Penyebabnya adalah gangguan alam. Seperti yang terjadi saat ini, listrik di delapan wilayah kecamatan padam karena jaringannya roboh diterjang lisus di wilayah hutan Kecamatan Bantarbolang. Delapan kecamatan itu adalah Kecamatan Bantarbolang, Randudongkal, Warungpring, Belik, Moga, Watukumpul, Pulosari, dan satu kecamatan lagi di wilayah Slawi, Tegal. Sejak Kamis (18/11) pukul 16.00 hingga kemarin siang listrik belum menyala. Sebab, jaringan belum selesai diperbaiki. Diperkirakan perbaikan akan selesai pada Minggu malam pukul 23.00 atau 00.00. Itu pun jika tidak turun hujan lebat. Perbaikan yang sudah dilakukan hingga pukul 14.00 kemarin baru pemasangan tujuh tiang listrik dari sembilan tiang yang roboh. Namun kabel jaringan sebagian sudah terpasang. Kepala Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) PLN Pemalang H Untung Susanto mengatakan, gangguan alam terhadap jaringan listrik di daerah selatan memang sering terjadi. Kalau tidak karena petir, listrik padam karena angin lisus. Bahkan, lisus hampir setiap tahun terjadi. "Kami selalu kewalahan menangani kendala alam tersebut. Tetapi memang begitulah risikonya bila jaringan listrik melewati daerah hutan dan perbukitan," katanya kemarin. Menurut pandangannya, untuk mengatasai kendala seperti itu perlu dilakukan penanganan terpadu. Jika ditangani sendiri oleh PLN, tidak akan mampu karena menyangkut institusi lain, yaitu Perhutani sebagai pemilik hutan. Karena itu, perlu dilakukan upaya bersama yang difasilitasi Pemkab. Jaringan listrik yang dinikmati masyarakat daerah selatan (punggung) dulu dilewatkan di areal sawah, jauh dari daerah hutan. Setelah tegangan voltase berubah dari 110 menjadi 220, jaringan dipindahkan ke daerah pinggir hutan. Setelah itu, jaringan sering rusak karena serangan lisus. Kejadian itu biasanya berlangsung pada bulan Oktober dan November. Pada bulan-bulan itu lisus sering bertiup kencang dan merobohkan pohon-pohon jati. Pohon jati yang roboh itu biasanya menimpa kabel jaringan dan tiang listrik. Akibatnya, sarana milik PLN itu pun ikut rusak berantakan. PLN belum mampu memindahkan jaringan dengan sistem ditanam dalam tanah karena biayanya tinggi. Lebih baik biaya untuk itu dialihkan dan dimanfaatkan untuk penambahan jaringan bagi masyarakat pelosok yang kini belum menikmati listrik. Solusi lainnya adalah dengan menjauhkan pepohonan jati dari jaringan. Akan tetapi, hal itu tidak gampang dilakukan, sebab harus mendapat persetujuan lebih dulu dari Perhutani. Jika hal itu bisa diwujudkan, walau lisus menerjang dan pepohonan berjatuhan, tidak akan menimpa jaringan listrik. Setiap terjadi peristiwa seperti itu, kerugian PLN tidak kecil. Selain kerugian moral karena banyak pelanggan yang mengeluh, perbaikan jaringan yang rusak juga membutuhkan anggaran cukup besar. Dalam peristiwa tahun ini ditaksir PLN rugi Rp 100 juta. (Saiful Bachri-74n) |