| Senin, 22 Nopember 2004 | BUDAYA |
Gado-gado Kerakyatan ala Sinten RemenSEJAK kali pertama muncul, kelompok musik ini seakan telah ditahbiskan sebagai kelompok musik nonaliran. Keragaman dari paduan berbagai irama musiknya yang begitu kental, membuat Sinten Remen seperti tak tertembus oleh batasan wilayah aliran. Dalam sebuah lagu berjudul ''Dokter dan Suster'', Edwin yang mantan vokalis Dr PM awalnya masih bernyanyi dengan irama kebesarannya. Namun begitu memasuki reffrain, mendadak iramanya berubah. Tak lagi keras menghentak seperti kecadasan musik rock, karena yang terjadi kemudian iramanya berubah keroncong yang mendayu. Sebagaimana yang telah menjadi ciri khasnya, irama musik "gado-gado" memang selalu identik dengan kelompok musik Sinten Remen. Dan ciri khas seperti itu pula yang tampak pada pergelaran Pasar Rakyat 76 yang diselenggarakan di Alun-alun Lor, Sabtu (20/11) malam lalu. Enam belas lagu yang disajikan malam itu, termasuk yang dibawakan Edwin, hampir semuanya selalu mengadopsi berbagai jenis aliran musik. Dalam sebuah lagu kadang menguar nada-nada khas keroncong, pop, kemudian dangdut, dan bahkan menyentuh pada irama musik campursari. Di situlah kekuatan dari kelompok musik yang dikomandoi Djadug Ferianto tersebut. Kalau diibaratkan sebagai sebuah kelompok orkestra, dari instrumen yang dihadirkan Djadug dan kawan-kawan memang seperti lintasaliran. Di sana ada perangkat alat yang bisa menyajikan musik pop, rock, dangdut, keroncong bahkan campursari dengan kendang sebagai penyetir iramanya. Maka, di tangan Sinten Remen sebuah lagu bisa terasa menjadi sangat kolaboratif dengan paduan berbagai aliran musik. Karena terkadang pakem nada dari lagu aslinya sengaja dibelokan dengan penjelajahan khas dari kelompok musik asal Yogyakarta tersebut. Trie Utami Dan di Alun-alun Lor malam itu, di antara warung-warung wedangan dan berbagai hal yang mencirikan pasar rakyat, sifat kolaboratif Sinten Remen semakin tampak ketika pada pergelaran tidak hanya didukung Edwin. Namun juga masih ada vokalis-vokalis lain yang juga berbeda aliran seperti Trie Utami dan Cucu Cahyati. Dengan kekuatan masing-masing bintang tamu tersebut, irama kolaborasi tidak hanya terasa kuat pada iringan musiknya. Lebih dari itu juga semakin terasa, ketika warna vokal Trie Utami dan Cucu Cahyati mampu mengikuti cengkok keragaman musik Sinten Remen. Simak saja lagu "Laksamana Raja di Laut". Trie Utami yang memiliki karakter suara yang kuat, seperti mendapat kesempatan untuk pamer olah vokal. Jebolan Krakatau Band yang kini sering dijuluki ratu pitch control itu terlihat begitu leluasa untuk menggiring lagu berirama melayu ke berbagai wilayah aliran musik. Atau ketika Cucu Cahyati membawakan "Malam Terakhir". Meski agak kesulitan ketika harus mengikuti irama dengan gerakan tubuh yang biasanya lebih pas dengan dangdut, penyanyi tersebut toh tetap bisa mengimbangi ketika harus masuk ke wilayah keroncong atau bahkan campursari. Lintasirama yang seperti itu pun juga terasa pada lagu-lagu yang lain. Dari "Bengawan Solo" sebagai pembuka hingga lagu "Balikin" sebagai penutupnya. Bahkan pada lagu pertama yang dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada komponis Gesang itu, lagunya malah terasa sangat berbeda ketika awalnya dibawakan dengan versi musik rock. Pada sisi yang lain, pertunjukan musik kelompok Sinten Remen juga tampak lebih komunikatif ketika sajiannya dikemas ke dalam sebuah alur cerita. Mengusung tema "Mudik Lebaran", musik tidak hanya menjadi salah satu dari daya ungkap pertunjukan. Begitulah, di luar para pemusik dan penyanyi, malam itu masih ada sejumlah pelawak seperti Thukul, Dibyo, Eko Bebek dan juga "raja" monolog Butet Kartaredjasa serta pemeran Oneng dalam Bajaj Bajuri, Rieke Dyah Pitaloka. Dari mereka, lagu tak hanya sekadar hadir namun dihantarkan melalui jalinan cerita yang cukup menghibur. Dan sesuai dengan konsep pertunjukannya, tentu saja ceritanya itu berbicara tentang tema-tema kerakyatan. (Wisnu Kisawa-81) |