logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 21 Nopember 2004 NASIONAL
Line

Kisah Sukses Pengusaha Tahu Tempe Desa Pait

"Oalah, Wis Dadi Bos Mobile Anyar"


DANA SUMBANGAN: Gedung madrasah di Dusun Grabyak, Desa Pait, Siwalan, Pekalongan, didirikan warga dengan dana sumbangan para pengusaha tahu tempe yang sukses di kota besar.(79) - SM/Muhammad Burhan

SEBUAH mobil Kijang merah seri terbaru berpelat nomor Jakarta siang itu berhenti di halaman sebuah rumah warga di Dusun Grabyak, Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Wajah salah seorang penghuni rumah itu yang kebetulan berada di luar memandangi terus mobil yang memasuki halaman rumah tersebut.

Begitu pintu mobil dibuka dan pengendara keluar bersama penumpang lainnya, raut wajah pemilik rumah itu berubah cerah. ''Oalah wis dadi bos, mobile anyar (Oalah sudah jadi bos, mobilnya baru-Red),'' ujarnya sambil menyalami pengendara mobil itu. Dia ternyata seorang pengusaha tempe yang telah sukses menaklukkan Jakarta.

Mudik ke kampung halaman bagi pengusaha tempe tidak hanya untuk bertemu dan bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga namun juga sebagai ajang pembuktian kesuksesan mereka setelah merantau sekian lama di kota besar seperti Jakarta.

''Biasanya jika mudik, para pengusaha tempe dan juga pengusaha tahu membawa motor atau mobil baru,'' ungkap Slamet (30), salah seorang warga.

Seperti halnya desa-desa lain di Kecamatan Siwalan atau Kecamatan Sragi, sebagian besar warga Desa Pait berusia produktif merantau ke Jakarta atau kota-kota besar lain. Sebagian besar mengadu nasib dengan membuat dan menjual tempe atau tahu.

Saat mudik Lebaran, mereka berkumpul dengan sanak saudara dan tetangga dalam acara halalbihalal. Dalam acara itulah, mereka yang sebagian besar sudah ikut-ikutan berlogat Jakarta diberi informasi tentang masalah pembangunan di desa mereka.

''Dalam forum itulah biasanya mereka diminta jadi donatur untuk membantu pembangunan di desa,'' ujar Drs H Nadhief MC, Ketua RW I, Desa Pait.

Meski belum punya organisasi permanen, para pengusaha tempe itu selalu kompak saat dimintai bantuan khususnya bantuan dana untuk pembangunan desa. ''Sudah banyak pembangunan desa yang mendapat bantuan dari mereka, seperti pembangunan masjid, madrasah, anak yatim, bantuan pendidikan dan bantuan sosial lain,'' paparnya.

Mereka, lanjut Nadhief, biasanya lalu menyalurkan dana melalui perkumpulan remaja di tiap dusun seperti remaja masjid. ''Begitu ada masalah di desa, seperti ada orang yang kena musibah, atau mau membangun sesuatu secara spontan mereka akan menghimpun dana untuk membantu,'' tuturnya.

Bisnis Andalan

Tempe atau tahu memang menjadi andalan bagi masyarakat Kecamatan Siwalan atau Sragi yang merantau ke kota besar. Sebagian besar pembuat atau pedagang tempe dan tahu di Jakarta adalah warga dari dua kecamatan itu.

Menurut penuturan Syaiful Hanif (38), salah seorang pengusaha tempe yang belum lama ini membangun rumah baru mengatakan, hampir 90% warga Pekalongan yang bergelut dengan perdagangan tahu dan tempe di Jakarta adalah warga Siwalan, Sragi, dan Wiradesa. Jumlah mereka ratusan orang.

Bisnis tempe dan tahu yang mereka geluti di kota-kota besar, lanjut Syaiful, sudah berlangsung puluhan tahun dan sudah terkenal di Jakarta.

Sudah bertahun-tahun, ujarnya, dia bersama pengusaha tahu tempe yang sudah sukses di Jakarta selalu menjadi doantur andalan untuk membangun desanya.

Karena itu, tidak heran menjadi anggota Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) di Jakarta, lanjut Syaiful, adalah sesuatu yang membanggakan.

''Tidak sedikit yang rela membayar jutaan rupiah hanya untuk menjadi anggota Kopti. Para pengurusnya mempunyai pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan PNS,'' tuturnya.

Pada saat krisis ekonomi 1997, ujar bapak beranak satu tersebut, bisnis tahu dan tempe sempat merosot. Namun, bukan berarti andil para pengusaha tempe untuk membangun daerahnya berkurang. ''Mereka selalu ikut berperan jika ada pembangunan di desa,'' ujarnya.

Selama ini para pengusaha tempe, lanjutnya, tidak mendapat bimbingan dari pemerintah. Padahal jika dibina dengan baik, mereka yang tersebar di berbagai kota besar mempunyai potensi besar pula untuk membangun daerahnya. ''SDM mereka sebagian besar masih rendah, sehingga jika pemerintah mau ikut memberikan pelatihan dan bimbingan akan sangat bermanfaat,'' tegas Syaiful yang tahun ini menjadi anggota tim formatur pemilihan pengurus Kopti.

Aset Kopti yang masih tersisa saat ini saja, katanya, jika dihitung bisa Rp 1 miliar lebih. Selain memiliki perkantoran di Jakarta, koperasi milik pengusaha tempe dan tahu itu juga punya minimarket, mobil operasional, ambulans, gudang, dan aset tak bergerak lain. ''Aset Kopti nilainya satu miliaran, padahal sejak 1997 Kopti seperti mati suri,'' tuturnya.

Kesuksesan para pengusaha tahu tempe tersebut tampaknya menjadi barometer warga lain untuk ikut-ikutan mengadu nasib di kota besar. Dan ketika Idul Fitri tiba, Desa Pait menjadi ajang kangen-kangenan. Dan ini artinya, kas desa untuk pembangunan pun bertambah. (Muhammad Burhan-43j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA