logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 20 Nopember 2004 PANTURA
Line

Besok Syawalan di Pekalongan

Lopis Raksasa 3,93 Kuintal Jadi Rebutan

DUA lopis raksasa seberat 3,93 kuintal di Krapyak Kidul dan 3,5 kuintal di Krapyak Lor, Kota Pekalongan, Minggu (21/11) besok akan jadi rebutan ribuan pengunjung acara syawalan.

Sebelum jadi rebutan pengunjung, lopis yang terbuat dari beras ketan itu akan dipotong Wali Kota Pekalongan Drs Samsudiat MM. Pemotongan lopis itu akan disaksikan anggota Muspida serta ribuan umat Islam.

Menurut keterangan Seksi Perlengkapan Subhan, di Krapyak Kidul, lopis yang akan dipotong itu seberat 3,93 kuintal dengan tinggi 158 cm dan keliling 194 cm. Makanan itu dibuat dari dua kuintal beras ketan yang dimasak sejak Senin (15/11) dan sudah matang Kamis (18/11) sore. Cara memasaknya dengan menggunakan dandang raksasa bantuan Pemkot.

Kali ini, pemotongan akan dilakukan Minggu (21/11) pukul 07.30 di depan Mushala Darunna'im Gang 8 Krapyak Kidul. Sementara itu di Krapyak Lor, menurut penuturan penasihat panitia Usman Rasmin, hingga Jumat siang kemarin lopis yang akan dipotong belum matang dan masih dimasak sehingga belum dapat ditimbang beratnya. Namun melihat bahan beras ketan yang digunakan 2 kuintal, diperkirakan berat lopis itu lebih dari 3,5 kuintal. Selain itu, panitia juga membuat dua lopis dalam ukuran sedang masing-masing 50 kg. Seperti biasanya, lopis itu akan dipotong Wali Kota di lapangan bulu tangkis Gang I Krapyak Lor. Setelah dipotong, lopis akan dibagikan kepada ribuan pengunjung secara gratis.

Dipadatkan

Lopis itu dimasak dengan dipadatkan. Caranya, beras ketan dimasukkan ke dalam keranjang dan dibungkus daun pisang. Setelah itu dimasak selama empat hari. Setelah matang, lopis itu diangkat dan didiamkan sebelum dipotong.

Para pengunjung yang jumlahnya ribuan orang mau berebut lopis raksasa itu karena mereka berkeyakinan bahwa lopis itu bertuah. Karena itu, tidak heran jika lopis-lopis akan ludes dalam waktu yang singkat seusai dipotong oleh Wali Kota.

Bukan hanya lopis raksasa saja yang dibagikan kepada pengunjung secara gratis. Untuk kepentingan minumnya, panitia juga menyediakan es balok sekitar dua truk untuk menambah dingin minuman sirup yang disediakan panitia.

Es itu merupakan bantuan dari KUD Makaryo Mino dan PT Along Jaya yang selama ini secara rutin membantu panitia dalam penyediaan es. Es itu diperlukan karena pada acara tersebut cuacanya pada umumnya panas karena terjadi desakan antarpengunjung. Untuk lebih menyegarkan, panitia menyediakan minuman es gratis.

Selain itu, sudah menjadi ciri khas masyarakat Krapyak, setiap syawalan juga tidak pernah melupakan lopis. Karena itu, panitia juga menyediakan lopis gratis.

Dia mengemukakan, acara syawalan tersebut sudah menjadi tradisi sejak nenek moyang dan merupakan turun-menurun hingga kini. Di Krapyak, acara syawalan justru lebih meriah dibandingkan dengan Lebaran.

Karena itu, bukan hanya panitia yang disibukkan dengan acara Syawalan melainkan setiap keluarga juga menyediakan lotis dan jajan gratis. Mereka juga menerima famili dan teman-temannya yang berkunjung. Karena itu, di sepanjang jalan di Krapyak Lor dan Krapyak Kidul khususnya Jalan Jlamprang mulai Jumat kemarin sudah banyak warga yang menjual lopis kecil di tepi jalan. Rata-rata satu lopis dijual dengan harga Rp 2.000 - Rp 2.500.

Sebenarnya, sebagian besar anggota masyarakat Krapyak Lor adalah nelayan yang kehidupannya pas-pasan. Namun melihat acara itu sudah menjadi tradisi dan menjadi kebanggaannya, tidak heran jika mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menyelenggarakan acara syawalan. Padahal, untuk pelaksanaan tersebut memerlukan dana puluhan juta rupiah

Bagaimana cara mengumpul-kan dananya? Menurut keterangan Usman, dengan menyisihkan pendapatan sekali setiap kapalnya membongkar ikan. Hanya, dalam tahun ini untuk keperluan acara syawalan dana yang disediakan makin berkurang. Ini karena hasil tangkapan nelayan dalam tahun ini memprihatinkan.

Yang namanya nelayan, bila memiliki keinginan memang semangatnya luar biasa dan mau menyisihkan pendapatannya walau dalam kesehariannya pas-pasan. "Dan selama ini, penyelenggaraannya cukup bagus," ujarnya.

Sejarah tradisi pembuatan lopis dimulai sejak 1855 yang dilakukan KH Abdullah Siroj, keturunan Kiai Bahurekso (seorang tumenggung yang ditunjuk Sultan Agung). Abdullah Siroj ketika di Pekalongan mendirikan organisasi untuk menggembleng pemuda dan remaja baik mental maupun fisik untuk melawan penjajah Belanda. Organisasinya bernama Waroqotul Islam. Sayang, kegiatan itu tercium Belanda sehingga memerintahkan penangkapannya dalam keadaan hidup atau mati. Itulah sebabnya, oleh santrinya beliau diamankan di Magelang hingga meninggal dan dimakamkan di sana.(Trias Purwadi-14j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA