| Sabtu, 20 Nopember 2004 | KEDU & DIY |
Nasib TKI Asal GrabagTiga Tahun Bekerja di Malaysia Tak DigajiSATU lagi tenaga kerja wanita (TKW) asal negeri ini yang pulang dengan kepedihan. Maryanti (20) warga Dusun Teneran, Desa Pucungsari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang yang tiga tahun lalu berangkat dengan semangat ke Malaysia kini harus menghadapi kenyataan pahit. Ia dipulangkan oleh majikannya dari Selangor tanpa gaji. Dia bahkan menanggung penderitaan fisik. Gadis desa yang dulu montok itu kini kurus dan layu. Setelah dikembalikan ke Indonesia melalui pelabuhan Tanjungbalai Asahan Sumatera Utara, Maryanti kini tinggal di rumah kenalannya, Rahmawati, di Jalan Puyuh Kelurahan Kenangan Baru RT 15 No 313 Perumnas Mandala Medan. Setelah beberapa hari, baru kemarin gadis malang itu melakukan kontak dengan keluarganya. Dua hari lalu Kades Pucungsari, Yusuf Pranowo, melihat Maryanti pada "Liputan 6" SCTV. Begitu mengetahui kondisi seorang warganya yang mengenaskan, dia segera menuju rumah Maryanti yang terletak hanya 300 meter. Keluarga Maryanti kaget mendengar berita buruk itu. Suherman (24), kakak iparnya, lalu berusaha menghubungi adiknya. Ia pun berbicara via telepon selama empat menit. Suherman yang ditemui di rumahnya kemarin mengatakan, Maryanti minta segera dijemput. Namun, permintaan untuk datang ke Sumatera Utara tidak dengan mudah dapat dipenuhi oleh keluarga sederhana itu. Bersama Riyadi dan Maryanto, keduanya kakak korban, Suherman berencana menjemput adiknya yang malang ke Medan jika ada biaya. Selain berbicara dengan adiknya, Suherman juga sempat diberitahu oleh Lurah Kenangan Baru bahwa Maryanti akan diopname di rumah sakit. Karena itu pihak keluarga diminta untuk segera datang ke Medan. Menurut Riyadi (30), selama tiga tahun bekerja di negeri jiran itu adiknya baru sekali mengirim kabar kepada keluarganya. Anak kesembilan dari 10 bersaudara itu terbujuk untuk mengadu nasib ke Malaysia karena iming-iming gaji Rp 1 juta/bulan yang dikatakan oleh Nyonya Siti warga Dusun Gabahan, Desa Banaran, Kecamatan Grabag. Adapun yang mengurus keberangkatan Maryanti adalah Wahyu Widodo yang juga warga Grabag. ''Kami tidak nggondheli. Sebab Maryanti sudah mantap dengan keinginannya itu," ujar Riyadi. Pada 2001 adiknya bekerja pada keluarga Lazimi di Selangor Malaysia selama beberapa bulan. Karena tidak tahan oleh siksa majikannya, Maryanti pindah ke majikan lain. Mengenai siapa majikan keduanya, dia tidak tahu. Sebab sang adik tidak pernah berkirim kabar. Sebelum berangkat ke Malaysia, ia pernah bekerja selama lima bulan di pabrik keripik singkong di Desa Pesidi Grabag. Karena tidak betah, ia pun memutuskan bekerja sebagai pembatu rumah tangga di Bekasi. Di kota satelit itu, ia hanya bertahan empat bulan.(Tri Widayat-92i) |