logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 20 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Peluang Hotel Baru Masih Terbuka

SEMARANG-Tingkat hunian atau okupansi hotel-hotel di Kota Semarang yang berada di kisaran 70% menyiratkan peluang pembangunan hotel baru di Ibu Kota Jateng itu masih terbuka lebar. Hotel baru akan dibatasi setelah rata-rata okupansi hotel 40%-45%.

"Kalau masih di atas 70% maka pemberian izin mendirikan hotel di kota ini tidak menjadi masalah. Lain kalau okupansinya ternyata sudah di bawah 45%. Pemerintah setempat harus mengambil kebijakan tidak menambah lagi hotel," ujar Andhry Irawan, Residence Manager Hotel Ciputra kepada Suara Merdeka, kemarin.

Peluang pendirian hotel baru yang cukup besar itu, lanjut dia, salah satunya terpicu oleh pembukaan beberapa saluran wisata ke Semarang.

Potensi pariwisata Jateng tengah giat dikembangkan. Pembukaan jalur penerbangan Semarang-Singapura mendorong pebisnis dan wisatawan asing masuk Jateng.

''Namun dua hal itu belum akan terlalu banyak mendongkrak jumlah tamu hotel untuk tujuan berlibur dalam waktu dekat. Mungkin tamu yang berlibur hanya memberikan kontribusi kenaikan sekitar 5%," jelasnya.

Berdasarkan pengalaman, kata dia, segmen tamu untuk keperluan bisnis masih lebih besar dibandingkan dengan yang ingin berlibur.

Di Hotel Ciputra, misalnya, tamu menginap untuk menjalankan kepentingan bisnisnya hampir 90%.

Hanya sekitar 8% yang memang ingin beristirahat atau berakhir pekan dan 2% sisanya adalah yang akan berlibur atau berwisata.

Bermunculan

Sementara itu Heru Isnawan, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng mengatakan penambahan hotel bergantung pada beberapa faktor.

Selama sesuai dengan kepentingan pemodal, tenaga kerja, dan konsumen, hotel-hotel baru bisa terus bermunculan.

"Artinya, investor akan melihat dulu berdasarkan modal yang ditanamkan, apakah masih ada peluang meraih konsumen," tuturnya.

Sebelum masuk, kata dia, pemodal pasti telah mempertimbangkan banyak faktor, antara lain pendapatan yang akan diperoleh.

Beberapa jaringan dan kelompok hotel berbintang, menurut dia, saat ini memang tengah menjajaki kemungkinan masuk Semarang, di antaranya Novotel dan Sahid. Bahkan ada yang telah membangun.

Hotel Sahid, ujar dia, masuk dengan konsep syariah. Penerapan konsep syariah memang mulai dilakukan sejumlah manajemen hotel.

''Meski tak secara tegas mengklaim sebagai hotel syariah, aturan usahanya sudah mengarah ke pola yang diadopsi perbankan tersebut. Misalnya tidak menjual minuman keras," tambahnya. (rei-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA