logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 20 Nopember 2004 BANYUMAS
Line

TRMS Serulingmas (2)

Satu-satunya di Jawa Tengah Bagian Selatan

TUJUH tahun lebih sudah usia TRMS Serulingmas. Taman itu diresmikan Jenderal TNI (Purn) Soesilo Soedarman(alm), ketika masih menjabat Ketua Paguyuban Seruan Eling Banyumas (Serulingmas), pada 21 Agustus 1997. Tempat rekreasi 1 km dari pusat kota Banjarnegara ke arah barat itu bisa dicapai dengan angkutan kota, ojek sepeda motor, atau dokar.

Dari taman itu bisa dilihat pemandangan menawan lembah Sungai Serayu, yang bertemu Sungai Merawu dan Palet di sisi barat. Tak jauh dari sana ada Bendungan Banjarcahyana, yang dibangun pemerintah Hindia Belanda tahun 1939. Bendungan berkonstruksi sifon itu menembus ke bawah Kali Merawu dan sampai kini masih berfungsi sebagai irigasi teknis.

TRMS dibangun Bupati (saat itu) Drs Nurachmad. Itulah satu-satunya taman margasatwa di Jateng bagian selatan. Di sana hidup lebih dari 36 jenis binatang memamah biak, burung, dan binatang melata serta tanaman langka. Dua ekor gajah sumatera, alumnus sekolah gajah Way Kambas, Lampung, adalah sumbangan Soesilo Soedarman. Maskot saat perayaan hari besar itu sudah beranak dua ekor. Soesilo Soedarman juga menyumbangkan harimau benggala, singa afrika, dan seekor beruang.

Mantan KSAL Laksamana TNI (Purn) Tanto Kuswanto menyumbangkan burung kasuari. Penyumbang lain adalah Letjen TNI (Purn) Dading Kalbuadi, mantan Gubernur NTB LH Siswoyo, Bambang Hirawan, dan pengusaha swasta di Jakarta, Dr Ir Yuwono Kolopaking, yang juga putra bupati ke-6 Banjarnegara, R Sumitro Kolopaking (1927-1949).

Hutan Kota

Taman itu semula hutan kota yang dihijaukan sejak tahun 1994. Di tengah hutan ada makam Ki Ageng Selomanik, pengikut Pangeran Diponegoro yang terdesak ke barat dan menetap di Banjarnegara. Tahun 1994 muncul gagasan mengembangkan lahan itu sebagai objek wisata.

Tahun anggaran 1994/1995 pemerintah menyusun dua studi rencana detail tata ruang kota kawasan pariwisata, yaitu makam Ki Ageng Selomanik dan Peweden, Kecamatan Karangkobar, 10 km di utara kota Banjarnegara, seluas 10 ha. Akhirnya pemerintah memilih lokasi sekitar kompleks pemakaman dan mengabaikan Paweden yang menjadi milik swasta, meski di sana sudah ada kolam renang beserta penginapan.

Semula pemerintah sepakat menamakannya Taman Ki Ageng Selomanik. Namun menjelang peresmian diubah menjadi Taman Rekreasi Serulingmas Selomanik. Perubahan itu jadi pergunjingan di DPRD. Anggota Komisi B menyesali langkah eksekutif. Wakil rakyat berpendapat, Ki Ageng Selomanik lebih tepat menjadi nama taman itu karena memiliki aspek sejarah.

Ketika diresmikan, sehari menjelang peringatan Hari Jadi Ke-166 Kabupaten Banjarnegara (yang berdiri pada 22 Agustus 1831), taman itu tetap bernama Serulingmas. Itu wujud penghargaan pada Payuguban Serulingmas, yang membantu membangun taman tersebut. ''Nama itu juga untuk mengingatkan warga Banyumas di berbagai daerah agar ingat atau eling membangun daerah kelahiran,'' kata Nurachmad.

Dalam konsep awal, taman itu untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata. Sejak berdiri pendapatan taman menduduki peringkat kedua setelah Dataran Tinggi Dieng, Kecamatan Batur. Dari sisi investasi pun taman itu pada peringkat pertama. Pembangunan taman itu menelan dana hampir Rp 3 miliar.

Sumbangan hewan dari habitat asli dan koleksi pejabat atau mantan pejabat yang terwadahi Serulingmas serta Ikatan Warga Banjarnegara di Jakarta (Ikabarata) patut dihargai. Namun karena anggaran tak mencukupi, Badan Pengelola Harian TRMS Serulingmas tak mampu membuat atau merenovasi kandang yang representatif. (Tjeffi Hidayat-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA