| Sabtu, 20 Nopember 2004 | BANYUMAS |
Lebaran, Bioskop Kehilangan PenontonPURWOKERTO- Lebaran, bagi pengelola tempat hiburan, adalah saat menangguk rezeki. Namun itu tak berlaku bagi pengelola gedung bioskop Rajawali, Purwokerto. ''Lebaran tahun ini sampai H+4 kursi terisi antara 20% dan 25% dari kapasitas penuh. Itu pun tak pasti. Pukul 21.00 keempat gedung kosong, sehingga film kadang tidak kami putar,'' tutur Muksin, pengurus gedung bioskop itu. Dia menyatakan Rajawali memiliki empat gedung film. Gedung A berkapasitas 400 tempat duduk, sedangkan B, C, dan D sama-sama 200 tempat duduk. Karyawan 41 orang. Rajawali Theater di Jalan S Parman itu tinggal satu-satunya gedung bioskop di Purwokerto, bahkan di eks Karesidenan Banyumas. Dulu, di Kota Keripik ada tujuh gedung film. Yang lain adalah President, Kamandaka, Srimaya, Garuda, Nusantara, dan Dynasty. Satu per satu gedung bioskop itu tutup karena ketiadaan penonton. Empat Film Lebaran ini Rajawali memutar empat judul film. Di gedung A Ada Hantu di Sekolah, B Mind Hunters, C Texas Chainsaw Massacre, dan D China Girl. Tahun lalu lebih ramai ketimbang sekarang. Bahkan dulu setiap kali lebaran banyak pedagang kaki lima berjualan di halaman gedung. Namun sekarang tak ada lagi. Halaman gedung itu pun lengang. Ramadan lalu lebih sepi lagi. Pukul 16.00 film tidak diputar. Pukul 19.00 film hanya diputar di dua gedung. Itu pun penonton sedikit. Waktu putar film di gedung bioskop itu adalah pukul 14.00, 16.00, 19.00, dan 21.00. Pada saat Lebaran ditambah satu kali pemutaran, yaitu pukul 12.00. Upaya menarik penonton, kata Muksin, dilakukan semaksimal mungkin. Mulai dari promosi lewat radio, mobil keliling, plakat di tepi jalan strategis, dan depan toko-toko, baik di kota maupun desa. Film yang diputar pun selalu baru. Karena, pengelola berusaha film yang diputar tak ketinggalan dari VCD yang beredar. Harga tiket pun disesuaikan. Pada masa lebaran rata-rata Rp 6.500, siang dan malam sama. Gedung selalu bersih dan harum. Kerja keras itu belum dapat menarik minat penonton. Muksin pun heran. ''Apa sebenarnya keinginan penonton? Film yang dapat Academy Award pun tak laku,'' katanya. Dia menduga tempat hiburan itu sepi karena banyak penganggur. Sebagian besar penonton adalah kaum muda. Jika mereka tak bekerja tentu tak memiliki uang. Orang muda yang memiliki uang umumnya bekerja di kota besar. Ketika pulang ke daerah asal, mereka tak tertarik ke gedung film karena sudah menonton film yang sama di kota tempat bekerja. ''Banyak VCD murah membuat mereka merasa cukup menonton di rumah.'' (bd-86) |