| Jumat, 19 Nopember 2004 | SALA |
Hari Jadi Ke-87 KaranganyarMasih Banyak Program yang Perlu DibenahiTIDAK ada acara seremonial sedikit pun, meski 18 November kemarin adalah hari jadi ke-87 Pemkab Karanganyar. Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari Bupati dan Wakil Bupati, birokrat, anggota DPRD, sampai masyarakat kebanyakan, masih sibuk dengan diri sendiri dan keluarganya. Maklum, masih dalam suasana Lebaran. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada kegiatan atau acara untuk memperingati hari jadi tersebut. Ada saabrek kegiatan yang digelar untuk memperingati hari jadi itu, meski tidak dilaksanakan bertepatan dengan tanggal hari jadinya. Ada ziarah ke makam pahlawan, bazar dan pasar murah, bakti sosial, pernikahan massal, zikir akbar, berbagai perlombaan, dan ada pula kegiatan ringan lain. Seluruh kegiatan itu, akan ditutup dengan panggung gembira di Alun-alun Pemkab dengan bintang tamu penyanyi campursari Didi Kempot. Widodo (32) warga Karanganyar mengatakan, terlepas dari seluruh kegiatan seremonial itu, perlu tindakan nyata untuk berbenah dalam segala bidang guna memajukan Karanganyar berikut masyarakatnya. Masyarakat masih menunggu aksi para birokrat serta para elite politik lokal yang ada di legislatif untuk mewujudkam Karanyanyar yang aman, tenteram, adil, dan makmur. Serta untuk mengejar ketertinggalan dengan kota atau kabupaten lain di Karesidenan Surakarta, mengingat pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten itu cukup kecil. Dikatakan, dibanding tahun-tahun sebelumnya, hubungan personal antara pejabat Pemkab selama kepemimpinan Bupati Rina Iriani SR lebih harmonis. Keharmonisan itu, tentu saja akan berpengaruh kepada sistem kerja para pejabat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga, hasil kerja yang dicapai dalam memberikan pelayanan atau dalam melaksanakan pembangunan dapat dicapai secara optimal. Apakah harmonisasi itu bisa dipertahankan, terutama menjelang SOT 2005? ''Itu semua bergantung kepada Bupati. Jika Bupati tidak bisa memimpin bawahannya dengan baik, serta tidak bisa menjaga harmonisasi, tidak menutup kemungkinan keretakan akan muncul. Saya melihat, banyak pejabat sudah mulai setor muka kepada Bupati untuk mengincar jabatan sekretaris daerah pada SOT mendatang,'' kata Wakil Ketua Fraksi Amanat Persatuan (FAP), Drs Romdloni MHum. ''Jika harmonisasi antara birokrat tidak bisa diwujudkan, saya khawatir akan menghambat laju pembangunan di Karanganyar yang sekarang sudah mulai membaik. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi klik antarpejabat, seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya. Sehingga, pembangunan tidak berjalan seperti yang diharapkan,'' tambah anggota legislatif dari PPP itu. Perjalanan Dinas Ketua DPRD, Drs Juliyatmono pernah khawatir, seringnya perjalanan Bupati ke luar kota maupun ke luar pulau akan membengkakkan anggaran perjalanan dinas, sehingga pada gilirannya akan membebani ABPD. ''Saya tidak mengatakan bahwa Bupati itu boros. Tapi harus dipisahkan, mana perjalanan yang harus dibiayai secara kedinasan, dan mana perjalanan yang harus dibiayai secara pribadi,'' katanya. Juliyatmono tidak menampik bahwa perjalanan kedinasan Bupati, terutama ke Jakarta, bisa mendatangkan investasi serta bisa menarik dana besar ke Karanganyar. Baik itu dari investor swasta maupun pemerintah pusat, melalui alokasi dana taktis atau yang diperbantukan. ''Namun selama ini belum ada kejelasan tentang pertanggungjawaban, atau ke mana larinya dana tersebut,'' tambah dia. Senada dengan Juliyatmono, Ketua Fraksi PKS Rohadi Widodo juga mengkhawatirkan gaya hidup mewah Bupati. Baik dalam memberikan jamuan kepada para tamu, maupun ketika mendapatkan sambutan atau jamuan dari masyarakat. ''Saya pernah mendapat keluhan. Ketika Bupati akan melakukan kunjungan kerja, masyarakat setempat ditarik uang senilai Rp 5.000 oleh kepala desa untuk memberikan jamuan. Bagi Bupati atau anggota DPRD, uang Rp 5.000 itu tidak seberapa; namun bagi masyarakat pedesaan, uang itu sangat berarti,'' kata dia. Romdloni, Juliyatmono, maupun Rohadi mengharapkan, dalam memimpin Karanganyar Bupati tidak hanya memberikan ikan kepada masyarakat tapi juga bisa memberikan kail, sehingga ikan yang diperoleh masyarakat lebih banyak. Yang lebih penting lagi, masyarakat bisa mandiri tanpa harus selalu bergantung. ''Selama ini, yang kami lihat Bupati cuma memberikan sedekah, fitrah, atau bantuan kepada masyarakat yang sekali habis untuk dimakan. Beberapa proyek yang rencananya akan dijadikan kail bagi masyarakat, seperti pembangunan subterminal agrobisnis, pembenihan holtikultura, proyek penggemukan sapi potong, dan proyek penanaman jamu yang menelan biaya miliaran rupiah, tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan,'' kata mereka. Bupati Rina Iriani siap melakukan kerja sama dengan semua pihak untuk berbenah dalam memajukan Karanganyar. Bupati juga mengaku tidak alergi terhadap kritik yang diterima, asal bersifat konstruktif. Bupati mengatakan, biaya perjalanan dinas pejabat Karanganyar ke luar kota sangat kecil dibanding kota/kabupaten lain di Indonesia. Bahkan, biaya perjalanan itu sangat tidak layak. ''Sebagai tuan rumah, kami juga harus memberikan sambutan yang layak kepada para tamu. Saya malu, ketika menerima sambutan jamuan makan dari Bupati Gianyar, Bali, ketika melakukan kunjungan balasan ke sana. Sebab, sambutan yang kami berikan kepada mereka sebelumnya sangat tidak layak jika dibandingkan dengan yang diberikan mereka.''(Langgeng Widodo-85a) |