logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 19 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Fenomena Mudik Lebaran dan Kontribusinya bagi Perekonomian Daerah

MODEL pembangunan yang bersifat urban bisa dan cenderung mengutup (convergence) menyebabkan penumpukan tenaga kerja di suatu titik atau lokasi tertentu. Kota besar terutama Jakarta menjadi magnet luar biasa bagi pencari kerja di Tanah Air.

Hal itu tidak mengherankan mengingat Jakarta dan kota besar lainnya merupakan pusat pemerintahan, perdagangan, industri, dan memonopoli peredaran uang secara nasional.

Tentu saja para pencari kerja dari daerah mempunyai kisah beragam selama ''pengembaraan'' di kota besar. Memang tidak semua berhasil, namun tidak sedikit pula yang sukses mengubah standar hidupnya secara signifikan.

Paling tidak, dalam benak mereka serendah apa pun penghasilan yang diterima masih lebih baik dibandingkan dengan jika tetap di desa.

Penghasilan yang mereka dapatkan umumnya sebagian disisihkan dan diakumulasikan selama satu tahun untuk selanjutnya dijadikan bekal pulang ke kampung halaman.

Ada fenomena menarik di masyarakat yang bisa disaksikan setiap tahun menjelang Idul Fitri atau Lebaran. Sebagian masyarakat daerah yang kebetulan bekerja di kota-kota besar menjalankan ritual tahunan berupa mudik ke tempat asalnya.

Kerinduan terhadap daerah tempat dilahirkan dan dibesarkan, keinginan bersilaturahmi serta berkumpul bersama saudara dan handai taulan, serta motivasi lain semisal ingin menunjukkan keberhasilan hidup di kota, menjadi faktor pendorong dan alasan bagi warga masyarakat untuk pulang kampung.

Peristiwa itu seharusnya bisa ditangkap oleh pemerintah daerah untuk membantu pengembangan ekonomi kabupaten atau kota. Meskipun masa tinggal para pemudik di daerah asalnya tidak terlalu lama, hal itu tetap berdampak terhadap perekonomian daerah.

Biasanya beberapa pemerintah daerah sudah menyiapkan acara penyambutan secara khusus terhadap para pemudik tersebut. Pola semacam itu bisa dikembangkan sehingga akhirnya timbul sinergi antara pemudik, kota besar, dan perekonomian daerah asal mereka.

Aktivitas mudik, terutama pada saat Lebaran di samping Natal dan Tahun Baru, merupakan perhelatan akbar tahunan yang diselenggarakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya pelaku mudik yang harus bekerja keras demi mewujudkan keinginan mereka, namun pemerintah dituntut pula berpartisipasi aktif dalam kegiatan itu.

Penyediaan sarana transportasi yang cukup, nyaman, dan memadai merupakan sebagian kecil tugas pemerintah yang dilakukan setiap tahun. Masalah lain yang harus dipecahkan adalah menjamin ketersediaan bahan makanan serta mengendalikan agar harganya tidak melonjak terlalu tinggi.

Tahun ini diperkirakan dua sampai tiga juta warga Jakarta kembali ke daerah asalnya untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Angka itu berarti lebih dari 30% total penduduk Jakarta yang berjumlah sekitar 8,4 juta jiwa.

Secara nasional diperkirakan ada sekitar 13,5 juta pemudik yang kembali ke daerah asalnya. Meski bersifat temporer, perpindahan penduduk dalam jumlah besar itu tentu berdampak secara ekonomi baik terhadap kota tempat bekerja maupun daerah-daerah yang dilalui dan dituju.

Umumnya kaum pekerja yang ingin mudik harus mengumpulkan dan mempersiapkan dana jauh-jauh hari. Tidak berlebihan jika dikatakan mereka setahun penuh bekerja dan mengumpulkan uang dengan salah satu motivasinya agar bisa berlebaran di kampung halaman.

Perlu dicermati adalah apabila kegiatan mudik dikalkulasi secara ekonomi maka akan ditemukan fakta bahwa aktivitas tersebut melibatkan perputaran uang tidak sedikit. Memang belum ada penelitian dan perhitungan komprehensif mengenai masalah itu, namun diduga perputaran uang yang terkait secara langsung atau tidak langsung dengan kegiatan mudik bisa triliunan rupiah.

Fenomena ekonomi semacam itu menjadi bahan perdebatan antara pelaku, ekonom, dan pemerintah. Ada yang beranggapan mudik adalah pemborosan dan merupakan aktivitas yang bersifat counter productive.

Secara ekonomi hal itu terkait dengan pemahaman mengenai konsep opportunity cost, yaitu uang yang sudah dipakai untuk satu kegiatan tidak akan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain.

Lebih Produktif

Secara umum mereka yang berpandangan minor terhadap kegiatan mudik berargumen bahwa selayaknya dana triliunan rupiah yang berputar dalam kegiatan itu dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi lain yang lebih produktif, misalnya ditabung atau diinvestasikan ke berbagai sektor ekonomi.

Namun ada sebagian kalangan yang memberikan pendapat lebih simpatik terhadap kegiatan mudik. Mereka beranggapan mudik Lebaran mampu menciptakan kegiatan ekonomi ekstra melalui peningkatan permintaan efektif (effective demand), terutama sektor transportasi, produksi, dan perdagangan barang atau jasa, serta aktivitas di bidang pariwisata.

Peningkatan aktivitas ekonomi tersebut tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar tempat mereka berdomisili dan bekerja, namun sampai ke daerah-daerah bahkan pelosok desa tempat asal para pemudik tersebut.

Hal itu berarti kegiatan berlebaran di kampung halaman dapat menjadi instrumen untuk mengurangi kesenjangan ekonomi yang bersifat spasial. Masalahnya adalah sampai saat ini belum ada perhitungan secara akurat dan komprehensif mengenai dampak tradisi mudik terhadap perekonomian nasional.

Mungkin, kalaupun ada pengaruhnya tidak terlalu besar mengingat kegiatan itu hanya berlangsung sementara, yakni sekitar satu bulan saja. Meski demikian kita sepakat bahwa dalam batas minimal, fenomena mudik Lebaran, serta dalam intensitas lebih kecil Natal dan Tahun Baru, yang dirayakan di kampung halaman tidak selalu harus dicurigai sebagai aktivitas ekonomi yang counter productive, karena sedikit banyak kegiatan itu juga berdampak positif terhadap peningkatan permintaan efektif di masyarakat.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru jumlah penduduk Jakarta untuk sementara menyusut karena sekitar tiga juta warganya melakukan perpindahan atau migrasi ke daerah lain.

Sesuai dengan konsep pariwisata, angka tiga juta orang tersebut adalah wisatawan nusantara dengan lama menginap antara dua sampai tiga minggu. Objek wisatanya abstrak, yakni bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga.

Mereka umumnya mudik ke Jawa dan Bali, tetapi ada sebagian yang kembali ke daerah asalnya di Sumatra, Kalimantan, atau Sulawesi. Ada juga sebagian arus wisatawan yang masuk Jakarta selama Lebaran, tetapi jumlahnya tidak sebanding dengan yang meninggalkan Ibu Kota.

Akibat migrasi temporer tersebut perekonomian Jakarta diduga mengalami sedikit penurunan. Sebaliknya, perekonomian daerah yang dilalui dan dituju oleh para pemudik akan naik. Sebagaimana diketahui ekonomi digerakkan oleh faktor produksi dan pusatnya adalah manusia.

Manusia berfungsi menggerakkan semua faktor produksi yang ada agar dapat menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan keperluannya. Dalam ilmu ekonomi analisis semacam itu berarti memandang ekonomi dari sudut penawaran (supply side economic).

Pada sisi permintaan, manusia berperan sebagai pengguna (user) atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit ekonomi. Penggunaan terhadap berbagai barang dan jasa itu disebut dengan istilah permintaan efektif.

Melalui kegiatan perayaan Lebaran, serta Natal dan Tahun Baru, perekonomian Jakarta akan mengalami perubahan besar meski untuk sementara. Itu terjadi karena sepertiga pengguna barang dan jasa serta pemilik berbagai faktor produksi tersebut ikut pindah ke daerah.

Di sisi lain, wisatawan yang mudik Lebaran diyakini berdampak positif terhadap perekonomian daerah yang dilalui dan dituju. Memakai teknik perencanaan, dampak positif dan negatif perpindahan penduduk itu dapat dianalisis dengan memanfaatkan model Input-Output (I-O).

Model itu merupakan perangkat analisis untuk mengetahui dampak ekonomi atas suatu kegiatan tertentu dan dalam kasus ini adalah perpindahan sekelompok orang keluar Jakarta untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan handai taulan di daerahnya.

Model tersebut dapat memprediksi dampak lekonomi baik langsung maupun tidak langsung akibat kenaikan atau penurunan permintaan efektif di masyarakat. Dari simulasi diketahui secara keseluruhan perekonomian Jakarta akan turun 1,5%-3 % akibat fenomena mudik.

Sektor perekonomian yang mengalami penurunan cukup signifikan antara lain kegiatan jasa-jasa di bidang perbankan, bangunan, dan beberapa industri.

Penurunan kegiatan ekonomi tersebut menciptakan redistribusi pendapatan ke daerah-daerah lainnya. Diduga total penurunan di Jakarta dan kenaikan di daerah lain masih memberikan angka positirf. Sayangnya, sejauh ini belum ada penelitian dan perhitungan, misalnya yang dilakukan terhadap Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Untuk mengetahui secara pasti daerah mana yang mendapatkan berkah dari fenomena mudik perlu dilakukan kajian komprehensif yang bersifat lintas daerah. Dengan demikian aktivitas dan tradisi mudik yang melibatkan perputaran uang triliunan rupiah benar-benar memberikan dampak positif secara optimal, khususnya terhadap daerah yang menjadi tujuan para pemudik. (Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi UNS Surakarta-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA