logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 18 Nopember 2004 NASIONAL
Line

6 Tewas 10 Luka-luka di Tol Jagorawi

  • Menjelang Rombongan Presiden Lewat

JAKARTA-Kecelakaan maut di tengah suasana libur Idul Fitri terjadi di jalan tol Jagorawi. Enam orang tewas dan 10 orang luka-luka dalam peristiwa itu. Kecelakaan beruntun yang melibatkan 7 mobil tersebut terjadi sekitar 10 menit sebelum iring-iringan mobil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memasuki jalan tol Jagorawi melalui pintu tol Cibubur, Jakarta Timur.

Sampai sore kemarin sopir bus PO Garuda Iwan Wargasasmita diperiksa sebagai tersangka kecelakaan tersebut. Sedangkan petugas patroli jalan raya (PJR) yang memberhentikan ketujuh kendaraan yang akhirnya terlibat tabrakan beruntun tersebut juga sedang diperiksa.

Presiden SBY menyatakan prihatin atas kejadian ini, selanjutnya pemerintah akan menanggung seluruh biaya para korban kecelakaan tersebut.

Menurut keterangan korban yang bernama Agus, peristiwa nahas itu terjadi pukul 07.50. Agus yang akan bertamasya bersama keluarganya di Taman Margasatwa Ragunan mengatakan, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya diseruduk dari belakang oleh bus Garuda.

Agus mengaku melihat mobil Kijang di depannya diberhentikan Patwal, dan mobil yang ditumpanginya pun ikut berhenti. Saat berhenti beberapa saat itulah tiba-tiba mobilnya diseruduk oleh bus Garuda. Akibat serudukan tersebut, mobil yang ditumpanginya terlempar dan menyeruduk mobil di depannya.

"Saat saya sadar, baru tahu kendaraan yang saya naiki dan kendaraan di samping saya ringsek dan terlempar ke pinggir jalan tol Jagorawi. Saat sadar, saya juga melihat ada rombongan (Presiden) lewat," kata Agus yang sedang dirawat di RS UKI Cawang, Jakarta Timur. Mereka yang terluka dalam kecelakaan ini langsung dibawa ke RS UKI Cawang, sedangkan mereka yang meninggal dunia langsung dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat. Pada pukul 14.00 jumlah yang meninggal bertambah seorang, yaitu Diki.

Dengan demikian, jumlah yang meninggal menjadi 6 orang. Sementara itu, kendaraan yang ringsek akibat kecelakaan tersebut langsung diangkut ke pos derek tol Jagorawi di pintu keluar Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Dari Bus Garuda

Menurut juru bicara kepresidenan, Andi Alfian Mallarangeng, tidak ada satu pun kendaraan pengawal rombongan Presiden yang terlibat atau terkena tabrakan beruntun tersebut. Menurut Andi, kecelakaan terjadi 10 menit sebelum rombongan Presiden-dari kediaman pribadinya di Puri Cikeas Gunung Putri menuju Istana-lewat.

Andi mengatakan, berdasarkan laporan di lapangan, kecelakaan itu diperkirakan dari sopir bus Garuda yang menyeruduk mobil lainnya yang telah berhenti. "Karena ternyata ada bus Garuda bernomor B-7707-AD yang tampaknya mengalami human error yang kemudian menyeruduk mobil-mobil di depannya, yang memang telah berhenti ketika telah diberhentikan oleh polisi," kata Andi kepada wartawan, di Kantor Presiden di kompleks Istana, kemarin.

Andi juga membantah bila kejadian tersebut disebabkan oleh adanya penyetopan mendadak karena iring-iringan kendaraan Presiden hendak lewat. Andi menjelaskan, sesuai dengan protap sebelum rombongan pejabat negara akan lewat, maka petugas pengawal harus memberhentikan mobil-mobil lainnya 15 menit sebelum mobil pejabat itu lewat.

Andi mengatakan, Presiden menyatakan prihatin atas kejadian yang merenggut nyawa tersebut, serta meminta seluruh aparat untuk memberikan pengaturan yang lebih baik lagi, agar kejadian ini tidak terulang kembali. Andi juga mengatakan, pemerintah sudah memutuskan untuk menanggung seluruh biaya korban kecelakaan tersebut.

Sementara itu, menurut versi lainnya, tabrakan beruntun tersebut terjadi karena menjelang masuknya rombongan Presiden ke tol Jagorawi, polisi patroli jalan raya (PJR) tol Jagorawi memberhentikan secara tiba-tiba mobil yang datang dari arah Bogor menuju Jakarta.

Menurut Wakil Kepala Satuan Patroli Pengawalan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Polisi Herry Ardyanto, petugas sudah mulai 'mengamankan dan membersihkan' jalur tersebut sejak pukul 07.00. Caranya dengan memberitahukan bahwa rangkaian mobil Presiden sedang bersiap dari Cikeas.

"Saya swipernya, jam tujuh sudah memberitahukan ke Polda Metro Jaya rangkaian Krisna parkir (sandi polisi untuk iring-iringan mobil Presiden)," papar dia. Herry yakin, penutupan tidak dilakukan mendadak, tapi sudah lama sebelum iringan tersebut lewat. Dan kecelakaan disebabkan oleh adanya bus yang lepas kontrol, sehingga menabrak kendaraan yang telah berhenti mengikuti arahan mobil patroli polisi.

Sementara itu, seusai diperiksa petugas, Iwan Wargasasmita kepada wartawan membantah dirinya dianggap sebagai penyebab kecelakaan tersebut. Iwan mengaku, sebelum busnya menabrak, kendaraan di depannya sudah saling bertabrakan. Iwan malah menuduh kecelakaan ini akibat petugas mendadak memberhentikan kendaraan di depannya.

Namun dari keterangan petugas didapatkan hal-hal yang memberatkan Iwan, yaitu kendaraannya sudah tidak laik jalan, karena bannya gundul dan vulkanisiran, rem tidak pakem, warna tidak sesuai STNK, serta keterangan Iwan banyak dibantah saksi-saksi lainnya.

Sementara itu, kamar jenazah RSCM kemarin diwarnai tangisan dan ratapan keluarga korban. Namun pada magrib kemarin, semua jenazah korban sudah diambil keluarga masing-masing.(F4-78t)

Korban berdasarkan informasi dari RSCM dan RS UKI

Korban tewas:

1. Hidayat (45), sopir angkot, warga Jalan Babakan RT 4 RW 3, Cilebut Barat, Sukaraja, Bogor.

2. Jelani (40), kenek angkot yang disopiri Hidayat

3. Diki Ahmad Fauzi (7)

4. Santi (8) sepupu Diki

5. Siti Romah (30) tante Diki

6. Asmah (50) tante Diki.

Korban luka:

1. Ilyas (27), sopir angkot, tetangga Dodi dan Agus

2. Dodi (23), warga Jalan Sukaraja RT 4 RW 5 Bogor

3. Agus (28), kakak Dodi

4. Sinta (4), anak Agus

5. Diki (9), sepupu Sinta

6. Kolilah (30)

7. Onda Sukmana (48), warga Babakan I Nomor 4B, Bogor

8. Nurdin (40)

9. Ifan (9), sepupu Diki

10. Dendi (25), warga Ciapus, RT 4 RW 4, Bogor.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA