| Rabu, 17 Nopember 2004 | WACANA |
Surat PembacaS1 Fisika DitolakTanggal 26 Oktober 2004, saya (Sarjana Sains Fisika S1 Undip, IPK = 2,97) mendaftar pada seleksi penerimaan CPNS untuk formasi tenaga analis lingkungan yang syaratnya pendidikan S1 Teknik Lingkungan. Ternyata lamaran saya dikembalikan (ditolak) panitia dengan alasan: ''Pendidikan tidak sesuai dengan formasi''. Di loket pengaduan, saya memberikan penjelasan bahwa di transkrip akademis, ada mata kuliah fisika lingkungan (physical environment dan pengertian lingkungan bukan sekadar lingkungan hidup (tumbuhan, pertamanan dan kebersihan) namun juga mencakup hal-hal kebisingan, pencahayaan (radiasi). Di samping itu juga pencemaran (khususnya limbah radioaktif), medan listrik (tegangan tinggi), gelombang elektromagnet (komunikasi satelit). Semua hal tersebut adalah juga kompetensi dari sarjana sains fisika (MIPA) Samuel Joko Santoso SSi *** Penebangan Pohon di Jl A Yani Ungaran Tanggal 23 dan 24 Oktober 2004 telah terjadi penebangan pohon perindang di ruas Jl A Yani Ungaran sebanyak 15 pohon lebih dengan alasan untuk pelebaran badan jalan 1 meter ke kanan kiri jalan. Akibatnya pohon-pohon perindang menjadi korban petugas dari DPU yang mempunyai proyek tersebut. Memang di ruas jalan itu perlu dilebarkan, karena jalan di Ungaran memang sempit. Namun kalau kemudian menebang pohon tanpa dipersiapkan dulu penggantinya, sungguh perbuatan merusak kelestarian lingkungan, merusak kenyamanan pengguna jalan dan tidak sesuai dengan slogan Ungaran SERASI. Penebangan pohon hendaknya dilakukan setelah disiapkan penggantinya yang sepadan, bukan ditebang dulu baru kemudian ditanam bibit pohon baru yang masih kecil. Agar kelestarian tetap terjaga dan kenyamanan pemakai jalan juga terpelihara, mohon perhatian Pemkab dan DPU. Wahyu Nurcahya *** Konsumerisme Lebaran Setiap Lebaran selalu saja jutaan orang tersihir ramai-ramai berbelanja. Shopping adalah kegiatan wajib yang seolah bagian dari ritual Lebaran. Hati-hati, bahaya laten konsumerisme siap menerkam kita. Konsumerisme memang bukan sekadar shopping, tetapi merupakan gerbang mana "konsumsi seperlunya" cepat berubah menjadi "konsumsi yang mengada-ada". Barang diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa pede dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status. Orang tidak merasa mudik kalau tidak naik mobil pribadi, tidak merasa berlebaran jika tidak memakai pakain serba baru. Kita terjebak mengartikan "sukses" adalah kekayaan, kemasyuran, dan kenaikan status (sosial). Selama ini ''jaim" (jaga image) justru lebih penting dari realita, sehingga banyak orang lebih memilih terlibat ilusi untuk sukses, ketimbang menatap hal yang lebih realistis. Industri memang selalu mendorong untuk mencari sesuatu yang baru. Menciptakan sesuatu agar orang menjadi membutuhkan. Sedangkan "kemaruk" berbelanja menjelang lebaran hanya salah satu contoh dari sekian metode yang berujung pada kepentingan bisnis, buah dari tangan industrialisme. Filsuf Prancis, Rene Descartes (1596-1650), rneringkas kinerja filsafatnya dalam prinsip masyhur cogito ergo sunn (saya berpikir, maka saya ada). Dengan memelesetkan menjadi eirro ergo surn (saya shopping, maka saya ada), Anda tahu impuls yang menggerakkan konsumerisme. Sementara kita berasyik-masyuk dalam budaya konsumerisme, lihatlah fakta menyedihkan. Tahun 1997, sementara konsumerisme meluas, 147.000 balita mati karena malnutrisi. Di tahun 1998, kematian balita karena malnutrisi melonjak menjadi 180.000 atau 59 % dari total 305.000 kematian balita tahun 1998 (Unicef). Sudah saatnya simbol status-kultural baru dimasyarakatkan, sollicitus ergo suin (saya peduli, maka saya ada). Joko Suprayoga *** Tak Ada Titipan/KKN Gubernur dan segenap pejabat struktural Pemprov Jateng tetap komitmen untuk good and clean dalam perekrutan CPNS, termasuk penyelenggaraan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Perekrutan diselenggarakan serentak bersifat nasional dan menerapkan sistem transparan/terbuka. Mulai proses, formasi, sampai pemenuhan persyaratan semuanya dilakukan terbuka, sehingga dapat diketahui masyarakat. Dengan demikian tidak ada model main titip atau prioritas tertentu agar diterima menjadi PNS. Pendaftar yang memenuhi syarat dapat mendaftarkan dan mengikuti tes. Termasuk tenaga honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun juga dapat mendaftarkan dan mengikuti tes, sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan. Tetapi, untuk lulus tes dan diterima menjadi CPNS, tetap harus melalui mekanisme yang ada, tidak ada titipan dan tidak ada prioritas bagi siapa pun. Semua yang sudah terdaftar, diberikan kesempatan sama. Untuk menentukan lolos tes dilakukan secara ketat. Soal tes dibuat Pusat sedangkan Provinsi dan Kabupaten/Kota tinggal melaksanakan. Demikian pula standar nilai, juga ditentukan Pusat. Hasil tes dikoreksi Pusat melalui sistem scanning computer sehingga terjamin objektivitasnya. Kepala BIKK Prop Jateng *** Jawaban Astra Honda Menanggapi keluhan Bp Mulyadi, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Bpk rasakan, namun permasalahan telah diselesaikan dengan baik melalui AHASS Karya Tunggal Wonogiri. Hal tersebut menjadi masukan yang berharga bagi kami. Bagi pemakai motor Honda yang ingin menyampaikan keluhan/kritik/saran silakan hubungi Holimen (Honda Peduli Konsumen) melalui layanan bebas pulsa 0800 11 (Astra) 27872 atau layanan langsung tidak bebas pulsa 024 - 760 2887. Y Sancahyohadi *** Keteledoran Peristiwa ini terjadi sekitar bulan Juli 2003, saya ditawari rumah tipe 48 dari developer PT Afa Cipta Makmurwahana di daerah Klipang Semarang. Disepakati kedua belah pihak dengan pembayaran tunai soft payment 2 bulan. Setelah 2 bulan lunas kita sepakat ke notaris Nukmayati Jl Sompok Baru 108 sekaligus saya menyerahkan syarat administrasi serta uang tunai Rp 2.400.000 untuk biaya sertifikat. Beberapa hari setelah itu saya dipanggil notaris untuk menandatangani akta jual beli (AJB). Saya diberi tahu sertifikat jadi sekitar 3 bulan sejak AJB diserahkan. Kira-kira bulan Januari 2004 saya tanyakan ke notaris atau developer, tetapi jawabannya saya diminta tunggu. Merasa menunggu terus akhirnya saya telusuri sendiri, ternyata rumah saya yang terletak di Jl Afa Permai I/33 Klipang sudah jadi milik orang lain. Saya sudah menempuh jalan damai/musyawarah baik dengan notaris maupun developer, tetapi hasilnya mengecewakan. Persoalan tersebut kini sudah diproses pihak berwajib. Mudah-mudahan mereka menyadari kesalahannya dan mau mengembalikan hak saya. Dengan coretan ini saya mengimbau kepada pembaca kalau mau jual-beli harus hati-hati dan selektif. Untuk organisasi Ikatan Notaris yang ada di Semarang saya mengetuk hati Bapak/Ibu agar bisa membantu menyelesaikan kasus ini karena dampaknya membuat keluarga saya dengan 3 anak hancur total. Djoko Soesanto |