| Rabu, 17 Nopember 2004 | WACANA |
Idul Fitri di Kalangan NonmuslimOleh: Paulus MujiranSETIAP kali Idul Fitri tiba mengingatkan saya pada pengalaman masa kecil ketika masih tinggal di desa. Pengalamanan hidup di kampung, hidup berdampingan dengan sesama saudara muslim secara damai, penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Kesederhanaan sebagai orang desa, keluguan dalam bergaul dengan sesama menyebabkan bangunan persaudaraan yang dibangun antarwarga kampung tidak dibatasi sekat-sekat primordial. Pada waktu itu saya merasakan dibandingkan perayaan dalam agama saya sendiri, Natal dan Paskah, gegap gempitanya Idul Fitri begitu luar biasa. Bagi anak desa, yang namanya Idul Fitri adalah tujuh hari. Jadi boleh berkeliling, berkunjung ke rumah orang tua, kawan, sahabat selama tujuh hari. Selama tujuh hari juga yang empunya rumah wajib menyediakan makanan kepada tetamu sebagai suguhan. Belum puas rasanya jika belum berkunjung ke semua orang yang dianggap sebagai kerabat dan tetua. Memang, dengan cara semacam itu, orang tidak lupa dengan sanak saudaranya sendiri karena memang ada kesempatan mengunjunginya di perayaan Idul Fitri. Kini, perayaan Idul Fitri memang lebih kaku dan terbatas. Dengan dibatasi hanya dua hari dalam kalender menyebabkan kunjungan, silaturahmi ke sanak saudara seperti dulu lagi menjadi berkurang. Di era serba canggih ini, yang dulu hanya bisa dilakukan dengan datang berkunjung dan berjabat tangan, kini cukup dengan SMS, mengirim e-mail dan kartu lebaran. Musim lebaran seperti ini biasanya dimulai dengan puasa Ramadan yang dihormati semua kalangan. Jika kebetulan ada kegiatan bersama gotong royong membangun rumah, mencangkul ladang atau mengerjakan sawah, umat muslim tetap bekerja bersama halnya dengan yang lain. Mereka juga bekerja sepenuh waktu sama dengan orang lain yang tidak berpuasa. Mereka memang tidak makan bersama sepulang dari kerja bersama. Baru pada sore waktu buka puasa, yang empunya kerjaan mengantar nasi dan lauk pauknya lengkap ke rumah saudara muslim itu untuk berbuka puasa. Demikian juga jika ada kegiatan doa bersama pada malam hari menyesuaikan diri dengan kegiatan tarawih di masjid. Kegiatannya sendiri dipercepat untuk memberi kesempatan bagi yang muslim menjalankan tarawih atau menunggu sampai kegiatan itu berakhir. Suasana toleransi yang didialogkan, dibicarakan bersama jarang membawa ketegangan apalagi rasa bermusuhan. Bagi orang desa yang sederhana, hidup terlampau sia-sia jika hanya diisi dengan ketegangan, permusuhan. Kebanyakan orang desa sadar, mengusahakan hidup bersama yang damai, rukun dan harmonis tidak hanya membutuhkan energi dan pengorbanan tetapi juga keberanian melakukan terobosan-terobosan bagaimana kebersamaan itu menjadi ikatan-ikatan yang saling menguatkan satu dengan yang lain. Kesederhanaan sebagai orang desa, dan tantangan alam yang keras menyebabkan persaudaraan antarumat semacam ini lebih mudah dibangun. Mereka bersama-sama menghadapi ganasnya alam, sukarnya bertahan hidup dalam kondisi sulit, serta irelevansi jika terjadi pertikaian dan perbedaan. Dalam kacamata orang desa, semua masalah bisa dipecahkan, dicari jalan pemecahan yang berguna dalam hidup bersama. Pada masa menjelang mendekati lebaran, keluarga yang dari jauh mulai berdatangan ke kampung dengan istilah mudik. Rasa kangen dengan sanak keluarga yang jauh berbaur menjadi satu dengan rasa bangga mempunyai anak, cucu yang menjadi orang sukses di kota. Meski yang dibawa pulang oleh pemudik tidak seberapa, namun kebanggaan dan perasaan dipersatukan kembali dengan saudara dari jauh membawa perasaan tersendiri dalam menyambut lebaran. Kawan, kerabat atau saudara yang mudik biasanya akan ditanya, "konduripun kapan?" sebuah sapaan yang menunjukkan penghormatan mendalam. Mengetahui pekerjaan orang lain di kota sebagai pembatu rumah tangga, buruh pabrik, atau tukang kebun bukanlah pertanyaan yang urgen ditanyakan kepada pemudik. Pekerjaan apa pun dalam hal ini bernilai sama di hadapan Tuhan. Idul Fitri sendiri di kampung saya sejak dulu hingga sekarang lebih merupakan ritual kebudayaan ketimbang ritual khusus umat muslim. Pada kenyataan, setiap kali Idul Fitri tiba tidak hanya umat muslim yang merayakan tetapi juga semua orang lain, merasa ikut memiliki. Tradisi menjenguk kubur, bersalam-salaman, memaaf-maafkan telah menjadi milik semua orang. Tak peduli, agama apa pun kegiatan masak-memasak menyambut lebaran tetap dilakukan. Semua Kalangan Itulah sebabnya, momentum Idul Fitri merupakan momentum yang dapat dipetik manfaatnya lebih jauh dalam hidup bersama sebagai warga bangsa. Hidup bersama yang damai memang perlu diusahakan. Tradisi mudik yang pada mulanya merupakan kebiasaan berbakti kepada leluhur nyekar di makam-makam pendahulu yang dilakukan pada hari-hari besar keagamaan kini telah menjadi kegiatan kebudayaan yang dilakukan oleh hampir semua kalangan dalam masyarakat. Tradisi mudik, kini lebih merupakan kegiatan pemerintah yang tak lagi membeda-bedakan sekat antara muslim dan non- muslim. Ada persamaan senasib sebagai warga bangsa yang terikat satu dengan yang lain. Apalagi kini, ketika perayaan hari-hari besar keagamaan seperti dalam satu paket Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Semua orang merasa perlu dan terlibat dalam momentum besar keagamaan tersebut. Karena itu, jika boleh berharap perayaan Idul Fitri bisa menjadi perekat kebudayaan, ketika perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat tidak justru kian diperuncing melainkan diberi peluang untuk dipecahkan bersama-sama dalam duduk semeja. Pada masa kini, tantangan hidup bersama makin sulit. Alasan untuk menemukan perbedaan semakin banyak. Kepribadian orang-orang karena pendidikan juga semakin bervariasi. Isu-isu untuk memecah belah persaudaraan juga gampang ditiupkan. Sementara memulihkan ke kondisi normal keadaan yang menegang membutuhkan waktu yang tidak pendek. Ketegangan dalam penghayatan hidup bersama karena agama kerap kali justru membawa masalah yang kian tidak terselesaikan. Agama yang mestinya menawarkan kedamaian, keselamatan, warta cinta kasih dan pengharapan kerap dipakai sebagai kedok oleh segelintir orang untuk memaksakan kehendaknya. Momentum-momentum seperti ini bisa dipakai untuk saling mengingatkan satu dengan yang lain, bahwa persaudaraan sejati bisa dibangun - meski dalam puing-puing keruntuhan, pengalaman sakit dan luka yang menganga. Idul Fitri sesungguhnya membuka peluang-peluang semacam itu. Ketika bangunan hidup persaudaraan kian rentan, gerakan-gerakan bersama makin diperlukan. Tradisi saling memberi maaf kepada sanak saudara, kerabat makin diperlukan. Komitmen membangun hidup bersama yang damai kian menjadi kebutuhan semua orang. Ketika persaudaraan mudah dipecah belah oleh pertikaian, konflik, mengampuni satu sama lain menjadi kebutuhan yang relevan untuk ditawarkan kepada mereka. Secercah harapan muncul di masyarakat. Di Wonosobo, terjadi kegiatan buka bersama antarumat muslim dan Kristen/katolik yang kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama. Di Semarang, dikomandoi Ibu Dr Widanti juga terjadi kegiatan buka bersama bersama dengan kaum miskin dan puritan penghuni kota lama yang tidak membedakan agama peserta buka puasa. Gerakan-gerakan semacam itu bukannya tidak berdampak. Gerakan membangun semangat persaudaraan justru bisa mulai dengan aksi-aksi semacam itu. Jika kini ada forum-forum antarumat beragama untuk melakukan suatu aksi konkret, pengentasan kemiskinan, pemberdayaan petani nelayan, penanganan anak-anak jalanan, maka gerakan semacam itu bisa disebut pilar pembawa damai dalam hidup bersama. Hari raya keagamaan sebagai ibadah memang hanya milik kalangan tertentu, tetapi sebagai kegiatan kebudayaan, banyak orang lain menemukan inspirasi untuk berbuat sesuatu. Buka puasa bersama, merupakan salah satu bentuk aksi-aksi yang bisa memperdalam semangat dan rasa persaudaraan satu dengan yang lain. Di masa mendatang, kegiatan-kegiatan semacam ini bisa dipertajam. Sekat-sekat perbedaan dicoba dikelola dengan dialog yang bersahabat. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. (18) -Paulus Mujiran, S.Sos - Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS), Mahasiswa S-2 Magister Administrasi Publik Undip. |