logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 17 Nopember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Gairah Wisata pada Hari Lebaran

-- Ada sisi lain yang bisa dipotret dalam suasana Lebaran. Bukan hanya fenomena mudik yang sudah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun. Fenomena lain yang bisa ditangkap adalah kegairahan sektor pariwisata memanfaatkan momentum Idul Fitri. Sebenarnya, ini pun sudah terjadi sejak lama. Pada saat menyambut Lebaran, masyarakat sekaligus berlibur dan banyak mengunjungi obyek pariwisata. Namun, sekarang kegairahan itu meningkat karena jumlah hari libur bertambah. Tahun ini, libur Lebaran praktis lebih dari seminggu. Libur resminya hanya tiga hari tetapi ditambah dengan libur tambahan yang diistilahkan pemerintah sebagai cuti bersama. Karena itu, banyak orang yang memanfaatkan waktu mudik untuk sekaligus piknik bersama sanak keluarga.

-- Tempat-tempat wisata pun dipenuhi pengunjung dan menggelar berbagai acara spesial. Di Jakarta, tempat-tempat wisata terkenal seperti Dunia Fantasi (Dufan) selalu dipenuhi pengunjung yang juga datang dari luar kota, selain tempat-tempat seperti Kebun Binatang Ragunan dan Taman Mini Indonesia Indah. Ada juga yang masih menjadi favorit seperti Taman Safari di Cisarua, Bogor. Di Semarang, tempat-tempat hiburan dan rekreasi tak banyak berubah kecuali Wonderia yang dibuka persis pada hari Lebaran. Namun kepadatan pengunjung sama saja, mereka seakan begitu haus hiburan dan kegiatan-kegiatan rekreatif. Demikian pula objek wisata Jawa Tengah lain, seperti Ketep Boyolali, Candi Borobudur, dan Taman Kiai Langgeng di Magelang.

-- Boleh dikatakan, hampir setiap daerah mempunyai tempat tujuan wisata baik wisata alam termasuk laut maupun taman-taman bermain. Semua diserbu pengunjung tanpa kecuali. Inilah yang membuat suasana Idul Fitri menjadi semakin ramai. Sekaligus membawa rezeki dan berkah bagi pengelola tempat wisata ataupun para pedagang di sekitarnya. Rezeki tahunan atau setahun sekali karena pada saat-saat seperti ini omzet melonjak bisa sampai dua kali lipat. Harga pun sudah dinaikkan sehingga keuntungan bisa makin besar. Selain tempat wisata, sarana pendukung, seperti hotel, restoran, dan alat transportasi tampak kewalahan menghadapi ledakan permintaan. Tidak ada restoran yang sepi dan tidak ada pula hotel yang kekurangan tamu.

-- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin secara mendadak berkunjung ke tempat wisata Dunia Fantasi Ancol Jakarta yang memang selalu dipadati pengunjung, terlebih lagi pada saat-saat seperti ini. Kunjungan Presiden dapatlah ditangkap sebagai sebuah simbol perhatiannya terhadap dunia pariwisata sekaligus dorongan agar mereka terus meningkatkan diri. Juga tidak lupa, Presiden mengimbau sebaiknya masyarakat tidak usah berlibur ke luar negeri dan cukup mengunjungi objek wisata di dalam negeri saja. Imbauan ini penting untuk mengingatkan sebagian dari kita yang memang lebih gemar berwisata ke mancanegara entah ke Singapura, Malaysia, Hong Kong, atau yang sekarang jadi tujuan favorit yakni China. Tentunya itu sangat memboroskan devisa.

-- Sebaliknya kalau berwisata di dalam negeri sehingga dapat membantu menggairahkan perekonomian domestik terutama mendorong aktivitas pengusaha kecil dan menengah termasuk para perajin. Sejak terjadi bom Bali, ada penurunan laju kunjungan wisatawan asing sehingga tempat-tempat wisata lebih mengandalkan wisatawan domestik. Ternyata turis lokal merupakan potensi sangat besar karena kesadaran dan kebutuhan untuk itu sudah tampak. Tentu seiring dengan peningkatan pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Imbauan SBY sangatlah baik dan tepat waktu. Namun, tidak cukup sampai di situ. Kalau mau menahan agar orang tidak ke luar negeri, terutama mereka yang tergolong the have, harus dikembangkan pula tempat-tempat wisata di dalam negeri.

-- Di sinilah persoalannya karena ternyata kita memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang bisa mengejar kemajuan dari objek-objek wisata di luar negeri. Keberadaan tempat wisata seperti Dufan atau Sea World menjadi kebanggaan. Namun, dari tahun ke tahun tampaknya atraksinya relatif sama. Juga belum muncul objek-objek lain yang bisa dikatakan bertaraf internasional. Gairah wisata perlu diungkit oleh gairah investasi di sektor ini. Memang ada juga kendala lain, yakni keterbatasan permintaan dan daya beli masyarakat. Yang penting kita sangat harapkan, gairah wisata pada saat libur Lebaran makin menyadarkan kita tentang besarnya potensi pariwisata yang kita miliki. Pariwisata ibarat raksasa yang masih tertidur dan harus segera dibangunkan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA