| Rabu, 17 Nopember 2004 | MURIA |
Desa Korban Abrasi Itu Memimpikan InvestorDILIHAT dari sisi barat, tepatnya dari jalan beraspal pinggir pantai Jepara-Kedung, rasanya kurang meyakinkan bila dikatakan permukiman sisi sebelah timur jalan tersebut sebagai perkampungan atau desa. Sebab, sekitar delapan kilometer setelah keluar dari Kelurahan Karangkebagusan, Kecamatan Jepara dan masuk Desa Platar, Kecamatan Tahunan, cuma berdiri sekitar seratus gubuk tambak. Namun siapa sangka rumah-rumah yang seperti gubuk tambak garam itu sebenarnya adalah rumah-rumah warga. Wajar, karena bangunan-bangunan itu mengonggok di atas tanggul-tanggul tambak garam layaknya gubuk yang digunakan petani untuk menyimpan garam. Tanggultelare, demikianlah nama desa yang konon menurut cerita para sesepuh desa yang menangi sejarah masa penjajahan Belanda, merupakan hasil merger antara dua desa. Yaitu, Desa Tanggul dan Desa Telare. Dulu, Desa Tanggul yang tanpa kepala desa itu berlokasi di sebelah barat, sedangkan Desa Telare ada di sebelah timur. Karena lama tidak memiliki kepala (petinggi) desa, akhirnya bergabung menjadi satu. Meski demikian, bergabungnya Desa Tanggul bukan berarti tanpa syarat. Syaratnya hanya satu, nama Tanggul harus berada di depan. Tepatnya menjadi Tanggultelare, bukan Telaretanggul. Syarat tersebut akhirnya disetujui oleh petinggi Desa Telare dan akhirnya menyatulah dua warga desa tersebut hingga sekarang dalam satu desa yang dinamakan Desa Tanggultelare, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Korban Abrasi Menurut penuturan Petinggi Tanggultelare, Muhammad Zaenuri, desa berpenduduk hanya 568 orang yang terdiri atas tiga RT dan satu RW itu pernah menjadi korban abrasi laut beberapa kali bersama satu desa di sebelah selatannya, Desa Bulakbaru. Abrasi terakhir terjadi pada 1982 yang membuat desa tersebut bergeser ke timur dalam radius beberapa ratus meter. Abrasi itu disebabkan oleh pengambilan karang secara liar di Pulau Bokor oleh masyarakat. ''Padahal pulau tersebut menjadi pelindung desa dari bahaya abrasi, kala itu,'' tutur Zaenuri. Karena terlalu parah abrasi itu, pasir dan air laut sampai masuk ke lantai rumah. Sebagian warga pindah ke desa lain, namun sebagian tetap bertahan hingga desa itu bergeser ke timur sampai saat ini. Zaenuri menuturkan, waktu itu hampir seluruh warga bermata pencaharian sebagai nelayan, sebagian lagi petani tambak dan sawah. Seiring dengan perjalanan waktu, desa yang jalannya sudah beraspal sejak beberapa tahun terakhir itu tidak bisa lepas dari ikon perekonomian Jepara berupa industri mebel kayu. Sejak pindah tempat, berangsur namun pasti, warga pun beralih profesi dari nelayan ke pertukangan kayu. Sampai sekarang ada sekitar delapan home industry mebel dengan tenaga-tenaga lokal yang andal. Bahkan yang berprofesi sebagai nelayan nyaris tidak ada, begitu pun yang berprofesi sebagai petani juga mulai menyusut. Kondisi seperti itulah yang membuat petinggi desa beserta masyarakat setempat mulai terbuka mengungkapkan ''kecemburuannya'' dengan perkembangan desa-desa lain. ''Mereka bisa mengembangkan industri mebel dengan cepat, mengapa kami tidak. Kalau desa-desa mereka diserbu investor asing, mengapa kami juga tidak,'' tutur Zaenuri. ''Tenaga-tenaga di desa ini sangat komplet dan andal untuk menjalankan roda ekonomi dari industri permebelan. Jika ada satu atau dua saja investor, warga masyarakat di sini siap mendukung dan tentu hal itu akan menolong masa depan kami,'' harapnya. Kepada Pemkab, terutama Bupati, ia berharap untuk bisa mempertimbangkan masalah tersebut dengan sungguh-sungguh. ''Kami akan sampaikan harapan kami ini dengan segera,'' tuturnya. (Muhammadun Sanomae-15n) |