logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 17 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Mengamankan Rumah saat Mudik

Menyewa Satpam hingga Gadaikan Barang

MUDIK saat Lebaran, ternyata bukan hanya menimbulkan berbagai problem lalu lintas, melainkan juga problem keamanan. Warga pun melakukan berbagai cara untuk mengamankan lingkungannya. Dari sekadar memasang portal sampai menambah jumlah tenaga keamanan.

Rumah yang ditinggal mudik penghuninya, memang sering menjadi incaran pencuri dan perampok. Pada saat-saat semacam itu, kesempatan untuk melakukan kejahatan memang cukup terbuka.

Pintu-pintu di setiap rumah biasanya memang sudah dilengkapi kunci, gerendel, atau gembok. Namun ternyata alat-alat pengaman itu hanya bisa menghambat pencuri, tidak menghalanginya.

Kasus-kasus pencurian di rumah kosong yang ditinggal mudik Lebaran penghuninya tetap terjadi. Warga yang berangkat mudik dengan penuh suka cita, ketika pulang pun harus berduka saat mendapati barang-barang berharga di rumahnya dikuras pencuri.

Kasus-kasus semacam itu pun tampaknya membuat warga di berbagai permukiman bersikap waspada. Sebagian mempercayakan soal keamanan kepada warga yang tidak mudik. Sebagian lagi memilih mempekerjakan tenaga pengaman.

Bambang, warga Jalan Krakatau menuturkan, warga di kampungnya sebagian besar adalah pengusaha. Mereka tak jarang bekerja hingga malam sehingga ketika sampai di rumah sudah merasa lelah.

Warga kemudian sepakat mempekerjakan beberapa tenaga pengaman. Setiap bulan warga mengumpulkan iuran Rp 4.000 untuk berbagai keperluan, termasuk di antaranya untuk membayar tenaga keamanan. Khusus untuk Lebaran, honor mereka ditambah Rp 200.000.

Titip Pegadaian

Upaya pengamanan serupa dilakukan di Perumahan Tembalang Pesona Asri. Dian, salah seorang warga setempat menuturkan, di lingkungan perumahan itu ada tiga orang satpam yang setiap saat selalu melakukan patroli. Pada saat Lebaran, ketika banyak warganya mudik, jumlah tenaga keamanan itu pun ditambah. Mereka bertugas membantu satpam yang sudah ada.

Kejahatan bisa terjadi karena ada niat dan kesempatan. Jika penjahat sudah memiliki niat, dia tidak bisa begitu saja beraksi tanpa ada kesempatan yang menguntungkan. Sebaliknya, kesempatan akan datang manakala sasaran yang dituju mudah dimasuki.

Dalam kasus pembobolan rumah kosong, pelaku bisa menentukan lokasi yang tepat setelah mengamatinya secara cermat. Pada banyak kejadian, pemilihan lokasi itu justru berawal dari keteledoran pemilik rumah yang sering kurang hati-hati saat akan pergi.

Selain menyewa penjaga, ada pula yang sengaja menitipkan barang berharga ke tetangga atau kenalan yang daerahnya dianggap lebih aman atau kerabat yang tidak mudik. Ada pula yang sengaja menggadaikan televisi atau perhiasan. Mereka menganggap menitipkan barang di kantor Pegadaian jauh lebih aman.

Di sisi lain, polisi sebenarnya juga telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi berbagai tindak kriminal. Yang rutin dilakukan adalah razia, terutama terhadap preman di tempat-tempat strategis atau orang-orang yang dicurigai akan berbuat jahat. (Purwoko Adi Seno, P Heru Subono-73n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA