logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 17 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Tradisi Warga Jl Puspanjolo

Bermaaf-maafan di Tengah Jalan

KEDUA mata Ny Masrodhi (56) tampak berkaca-kaca saat satu demi satu para tetangga menyalaminya. Dia berusaha untuk tersenyum tapi tak mampu menutupi rasa haru dalam dirinya. Mata itu seperti jendela yang menggambarkan suasana hati perempuan tersebut secara jujur apa adanya.

Manakala seorang perempuan paro baya memelukciumnya, Ny Masrodhi tak lagi kuasa menahan perasaan. Keharuan yang dia tahan-tahan itu pun membuncah, melahirkan isak-tangis. Ya, isak tangis yang tulus tentu saja.

''Minal 'aidin wal-faizin, ya Bu,'' ucapnya lirih terbata-bata.

''Sama-sama Bu, kalau ada salah, saya juga minta maaf,'' balas perempuan paro baya itu.

Beberapa saat mereka masih berpelukan, menuntaskan sisa-sisa keharuan. Akibatnya, barisan warga di belakangnya ikut berhenti untuk memaklumi.

Beberapa di antaranya bahkan terlihat larut dan menitikkan air mata.

''Saya nangis karena ingat kesalahan yang telah saya perbuat kepada para tetangga baik yang disengaja maupun tidak,'' ungkap Ny Masrodhi.

Itu bukan adegan sinetron melainkan peristiwa kecil yang mewarnai tradisi halalbihalal warga Jalan Puspanjolo Tengah VII RT 5 RW 1, Kelurahan Bojongsalaman, Semarang, Minggu (14/11) lalu. Dikatakan tradisi karena acara tersebut senantiasa dilakukan sekali dalam setahun saat Lebaran tiba. Lantas apa yang unik? Bukankah masyarakat di kampung-kampung lain juga menggelar acara halalbihalal serupa itu?

Tunggu dulu, halalbihalal warga tersebut dilakukan serentak di tengah jalan beberapa saat seusai menjalankan shalat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan keluarga di rumah. Sekitar pukul 07.30, mereka berkumpul di Jalan Puspanjolo Tengah VII, depan rumah ketua RT setempat, Ragil Wiratno.

Begitu datang, warga langsung menempatkan diri. Selain para tetua kampung, seperti Mbah Reng, Ny Suntari, Ny Ismunah, Ny Surip, Ny Kusno, Mbah Ramijan, dan Mbah Jarot, mereka semua berdiri membentuk formasi persegi panjang.

Pagi itu sekitar seratus warga, laki-laki perempuan, tua muda, remaja, dan anak-anak terlihat hadir dengan pakaian rapi. Setelah dirasa lengkap, acara pun dimulai dengan sekapur sirih Ketua RT serta paparan hakikat halalbihalal yang disampaikan sesepuh warga, H Muhammad Ridwan.

''Dalam bergaul di masyarakat, pasti terjadi gesekan-gesekan. Nah, halalbihalal ini dilakukan untuk menetralisasi gesekan-gesekan tersebut. Setelah ini, antara warga yang satu dan warga lainnya diharapkan tidak ada lagi ganjalan. Dengan demikian, kehidupan bertetangga kembali berjalan baik dan guyub seperti sedia kala,'' tutur Muhammad Ridwan.

Ragil Wiratno mengemukakan, tradisi salam-salaman di lingkungannya telah berlangsung sekitar lima tahun lalu. Acara tersebut dilakukan bukan bermaksud mencari sensasi melainkan karena efisiensi waktu dan tempat semata-mata. (Rukardi-73j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA