| Kamis, 11 Nopember 2004 | SALA |
"Alhamdulillah, Saya Dapat Jatah"BALAI KOTA- Tak seperti hari-hari biasa, halaman Kompleks Balai Kota yang biasanya hanya terparkir deretan mobil dan sepeda motor, kemarin siang bertaburkan becak beraneka warna yang dibiarkan tanpa pengemudi. Di pintu masuk kompleks perkantoran itu juga terlihat serombongan orang berpakaian sederhana. Beberapa di antaranya berjalan tergesa di atas pasir kasar tanpa alas kaki. Di tangannya tergenggam sebuah kupon. Dia pun menanyakan letak masjid balai kota pada petugas. "Pak, di mana tempat penukaran kupon zakat fitrah? Alhamdulillah, saya dapat jatah kali ini," ujar seorang lelaki paro baya, kemarin. Dia pun menuju tempat yang ditunjukkan petugas tersebut. Kakinya melangkah tergesa seolah khawatir tak mendapatkan jatah. Dia bernafas lega ketika Wali Kota baru menyerahkan zakat secara simbolis. Ketika bungkusan plastik lima kiloan itu berada di tangannya, lelaki berpakaian setelan oranye nan lusuh itu senang. Peluh yang membasahi wajahnya tak dia hiraukan. Lelaki itu merupakan satu dari 1.500 penyapu jalan di Solo yang menerima zakat fitrah dari PNS di Pemkot. Ya, siang itu sejumlah yayasan, sekolah, masjid, panti asuhan, dan sosial serta 1.500 penyapu jalan menerima zakat yang terkumpul dari 6.672 PNS muslim di lingkungan Pemkot Surakarta. Sebanyak 8,2 ton beras terkumpul dalam kegiatan wajib dalam agama Islam itu. Lebih Banyak Menurut Plt Kepala Badan Informasi dan Komunikasi (BIK) Drs Purnomo Subagyo, jumlah beras yang dikumpulkan relatif lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 7,8 ton. Selain penyapu jalan, sejumlah tukang becak yang tergabung dalam beberapa paguyuban turut kebagian zakat, sehingga pengendara kendaraan beroda tiga itu tak segan datang ke balai kota. Senyum simpul terpancar dari wajah-wajah mereka seusai menerima karung plastik berukuran sedang. Dalam kesempatan itu, Wali Kota tak segan menyebut dirinya sebagai bapak parsel karena tidak setuju jika ada kalangan yang menyoal parsel. Dalam pandangannya, parsel merupakan salah satu upaya untuk berzakat dalam bentuk lain. "Parsel tak harus bingkisan indah yang berbau KKN. Saya beberapa waktu lalu membagikan bingkisan sembako pada kaum duafa. Bagi saya itu parsel juga. Jadi tidak perlu diperpanjang lagi," katanya. Menurut Wali Kota, kegiatan zakat fitrah itu merupakan salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Kota kepada masyarakat khususnya kaum duafa, fakir miskin, anak-anak panti asuhan, yayasan penyandang cacat, dan lain-lain. Mereka sangat membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, terutama dari orang yang berkemampuan lebih di bidang materi. (G18-80s) |