| Kamis, 11 Nopember 2004 | SALA |
Pedagang Keluhkan Pasar Darurat
KARANGASEM - Sejumlah pedagang di Pasar Nusukan mengeluhkan kondisi pasar darurat yang dibangun pascakebakaran, Selasa (29/6). Sebab pada musim penghujan ini, pedagang kerepotan dengan tempias air hujan yang membasahi dagangan di kiosnya. Kios yang dibangun di sekitar lokasi kebakaran itu, ujar Syamsudin Dahlan, anggota Fraksi PAN DPRD Surakarta, memang kurang representatif. Ketiadaan fasilitas talang pada bangunan darurat tersebut yang menjadi penyebab dagangan yang digelar terkena air hujan. "Pedagang mengeluhkan kios darurat karena bila hujan selalu tampu, membasahi dagangan yang digelar. Karena itu, masing-masing harus menyelamatkan agar dagangannya terhindar dari air hujan," ungkap dia, Rabu (10/11). Selasa (9/11) sebelumnya, dia bersama sejumlah anggota FPAN menginspeksi ke Pasar Nusukan untuk memantau harga bahan kebutuhan pokok menjelang Lebaran. Tak hanya itu, kondisi saluran juga memprihatinkan. Setelah hujan, air di sekitar menggenang sehingga menyulitkan akses ke lokasi. "Apalagi ini kan masa ramai menjelang Lebaran. Jadi, cukup merepotkan pedagang ataupun pembeli," ujar Epi Rizandi, anggota FPAN. Meski demikian, dia memaklumi kondisi tersebut karena keminiman dana pemeliharaan yang dialokasikan Pemkot. "Waktu inspeksi kemarin (Selasa), Pak Yob (Kasubdin Kebersihan dan Pemeliharaan Pasar Pemkot Surakarta Ir Yob S Nugroho-Red) menegaskan, biaya pemeliharaan pasar tinggal Rp 9 juta - Rp 10 juta. Namanya juga pasar darurat, jadi kami cukup bisa memaklumi kondisi tersebut." Akan tetapi bila hal itu dibiarkan berlarut-larut, dia mengkhawatirkan pedagang akan kesulitan menata dagangannya. Apalagi, aktivitas melebar hingga memakan sebagian badan jalan dan menyebabkan lalu lintas terganggu. "Kalau hujan berlangsung hingga beberapa bulan tentu akan semakin menyulitkan ativitas pedagang." Karena itu, dia meminta agar Pemkot segera memikirkan pembangunan kembali Pasar Nusukan. Sebagai langkah awal, Pemkot harus segera menentukan tempat untuk relokasi pasar darurat. Sebab untuk membangun, pedagang harus dipindahkan ke lokasi lainnya. "Dahulu kan memang rencananya seperti itu, pembangunan tidak bisa dilakukan bila pedagang masih tetap di lokasi. Kalau saya boleh usul, bisa direlokasi di lapangan Prawit, Nusukan. Seperti saat Pasar Gede terbakar, lokasi pasar darurat ada di sebelah Beteng. Kira-kira tak jauh beda dengan jarak dari Pasar Nusukan ke Lapangan Prawit." Wakil Ketua DPRD HM Yusuf Hidayat meminta eksekutif segera menyusun rencana pembangunan kembali Pasar Nusukan. "Apakah nanti akan menggunakan APBD ataukah menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, ini yang harus segera dipikirkan." Bila nanti dengan menggunakan dana APBD, ujar dia, setidaknya akan bisa dimasukkan ke dalam penyusunan karena waktunya mendesak. "Kalau disepakati dengan dana APBD, tentu akan bisa dimasukkan dalam penyusunan APBD 2005 yang akan mulai dibahas tidak lama lagi. Kalau memang dengan pihak ketiga, juga harus dijelaskan bagaimana kompensasinya. Namun, alternatif kedua itu jangan sampai memberatkan masyarakat." Dia menilai, pembangunan Pasar Nusukan termasuk program prioritas karena keberadaannya menjadi pendukung pengembangan perekonomian rakyat di Solo bagian utara. "Dibandingkan dengan pendirian mal-mal atau pasar modern, pasar tradisional seperti Pasar Nusukan dan sejenisnya tersebut cukup riil untuk mengembangkan perekonomian rakyat kecil." (G13-80j) |